Berkah Cinta

Berkah Cinta
Dia Membuatku Terpana


__ADS_3

Stefani terkejut ketika ada seseorang yang menekan bel apartemennya, ia pun berjalan perlahan menuju pintu apartemennya dan melihat terlebih dahulu siapa orang yang datang ke apartemennya saat ini dan rupanya


orang yang datang ke apartemennya saat ini adalah Juan, ia pun segera membukakan pintu untuk pria tersebut.


“Masuklah.”


Juan pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Stefani, wanita itu menanyakan apa maksud dan tujuan Juan datang ke tempat ini.


“Aku datang ke sini karena Felli mengatakan sesuatu padaku.”


“Memangnya apa yang wanita itu katakan padamu?”


“Dia mengatakan kalau kamu membunuh seseorang.”


Raut wajah Stefani berubah mendadak, ia nampak gelisah dan tidak nyaman ketika Juan mengungkit masalah itu dan dari reaksi yang diberikan oleh Stefani itu membuat Juan menjadi yakin kalau apa yang Felli katakan memang benar.


“Stefani, bisakah kamu jujur dan mengatakan yang sebenarnya padaku?”


“Juan aku ….”


“Apakah yang Felli katakan itu memang benar? Apakah kamu melakukan kejahatan seperti itu?”


Stefani pun akhirnya mengakui semuanya pada Juan, ia mengakui bahwa dirinya yang membunuh orang itu karena ia takut kalau orang itu akan buka suara dan malah membuatnya dipenjara.


*****


Minanti tidak pulang ke rumah, dan ini adalah kesempatan bagi Bram untuk mencari tahu lebih jauh mengenai rahasia apa yang disembunyikan oleh Minanti darinya selama ini. Ia sudah mencoba mencari bukti di ruang perpustakaan namun ia tidak menemukan apa pun di sana, maka kini ia mencoba mencari di tempat yang lainnya yaitu di kamar tidur mereka, awalnya Bram tidak menemukan sesuatu hal yang mencurigakan namun pada akhirnya ia menemukan sesuatu hal yang mencurigakan yaitu ada sebuah brankas di dalam lemari pakaian Minanti.


“Sejak kapan benda ini ada di sini?”


Bram merasa bahwa ada sesuatu hal yang penting di dalam brankas ini dan mungkin saja di dalam brankas ini ada sesuatu yang ia cari sejak dulu.


“Iya, mungkin saja di dalam sini ada semua bukti yang aku cari selama ini.”


Maka Bram pun segera mencoba membuka brankas itu dengan memasukan kombinasi beberapa angka, namun sudah beberapa kali ia mencoba, pintu brankas itu tetap tidak terbuka.


“Menyebalkan sekali, berapa kombinasi angkanya?”


Bram pun memutuskan untuk menyudahi mencari cara membuka brankas itu karena ia sudah lelah, ia pun bergegas menuju tempat tidur seraya memikirkan kombinasi angka yang mungkin saja dapat membuka pintu brankas itu.


“Pikirkan apa kombinasi angkanya.”


*****


Sudah hampir satu pekan Tania dirawat di rumah sakit sampai hari ini Tania belum juga siuman, Olaf dan Minanti nampak khawatir dan terus berdoa untuk kesembuhan Tania, hingga akhirnya keajaiban pun muncul hari


ini, perlahan Tania membuka kedua matanya dan hal tersebut disambut gembira oleh Olaf dan Minanti.

__ADS_1


“Nak, kamu sudah sadar?”


“Tania, syukurlah kalau kamu sudah siuman.”


“Panggilan dokter Olaf, cepat.”


“Baiklah.”


Maka kemudian Olaf pun pergi memanggil dokter sementara Minanti memegangi tangan Tania, ia begitu lega dan bersyukur karena Tania akhirnya siuman juga.


“Kalau anda mengalami keluhan, segera hubungi saya, ya?” ujar dokter selepas ia memeriksa Tania.


“Terima kasih banyak dokter.”


“Saya permisi dulu.”


Maka selepas dokter pergi, kini Olaf dan Minanti menghampiri Tania dengan perasaan gembira sekaligus lega, akhirnya Tania siuman juga.


“Ya Tuhan terima kasih.”


“Berapa lama aku tertidur?”


“Satu minggu.”


“Satu minggu? Bagaimana dengan anakku?”


“Katakan apa yang terjadi pada anakku? Apakah dia baik-baik saja?”


“Tania, tolong tenangkan dirimu dulu, ya?”


“Apa? Apakah dia tidak selamat?”


“Iya, dia tidak selamat.”


Tania nampak terkejut dengan berita yang baru saja ia dengar, walaupun ia membenci ayah kandung dari anak yang sedang ia kandung, namun ia menyayangi anak itu, namun kini ia harus kehilangannya.


****


Olaf mengajak Tania mencari udara segar di luar ruangan inap agar Tania dapat lebih rileks, Olaf membawa Tania menuju taman rumah sakit dan kini mereka duduk bersebelahan.


“Tania.”


“Ada apa?”


“Mungkin ini adalah yang terbaik untuknya.”


“Aku bahkan belum sempat melihatnya lahir namun ia sudah pergi terlebih dahulu.”

__ADS_1


“Aku mengerti kesedihanmu Tania, namun kita harus menerima semua cobaan ini dengan ikhlas.”


Setelah itu tidak terjadi percakapan apa pun di antara mereka berdua, hingga akhirnya Olaf pun kembali membuka percakapan dengan Tania.


“Tania, maaf sebelumnya kalau aku ingin menanyakan ini padamu.”


“Apa yang ingin kamu tanyakan padaku?”


“Sebelum kecelakaan terjadi, apakah kamu mengingat sesuatu?”


“Yang aku ingat adalah saat itu aku baru menyadari orang yang mengemudikan mobilku bukanlah sopirku yang sebenarnya, aku menyuruhnya berhenti karena dia ingin menculikku ke suatu tempat, aku berusaha menghubungi polisi namun dia merampas ponselku dan kami terlibat dalam aksi saling menarik ponsel hingga membuat mobil oleng dan ada sebuah truk dari arah yang berlawanan melaju dengan kencang ke arah kami, itu saja yang aku ingat.”


“Baiklah, aku ingin mengatakan sesuatu padamu dan ini menyangkut tentang orang yang berusaha menculikmu itu, dia sudah meninggal dunia.”


*****


Sementara itu Felli berjalan menuju sebuah mall untuk menenangkan pikirannya yang kalut karena Juan terus saja mendatangi Stefani, ia sangat yakin kalau pria itu pasti akan melindungi Stefani lagi dan tidak akan membiarkan wanita itu masuk penjara.


“Kenapa kamu melakukan ini padaku Juan?”


Namun karena terlalu sibuk memikirkan hal tersebut, Felli tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berlari dengan cepat ke arahnya dan menjambret tasnya, Felli pun panik dan berteriak kencang hingga membuat


pengunjung mall dan satpam menoleh ke arahnya.


“Ada apa, Bu?”


“Ada jambret, dia menjambret tas saya.”


Maka kemudian orang-orang mengejar jambret itu namun sebelum sempat jambret itu melarikan diri ke luar mall nampak seorang pemuda menghadang jambret itu dan berhasil membuatnya jatuh tak berdaya, maka


orang-orang yang baru datang itu segera membawa jambret tersebut ke kantor polisi terdekat untuk diproses secara hukum atas apa yang sudah ia perbuat.


“Ini tas anda.”


“Terima kasih banyak.”


Felli nampak tertegun menatap pemuda tampan yang mengembalikan tasnya itu, pemuda itu kemudian pamit dari hadapan Felli namun wanita itu menarik tangan pemuda itu agar tidak pergi dulu dari hadapannya.


“Tunggu dulu, ini untukmu,” ujar Felli seraya menyodorkan beberapa lembar uang padanya.


“Tidak perlu, saya melakukannya dengan ikhlas,” ujar pemuda itu.


“Namun saya merasa tidak enak pada kamu.”


“Saya benar-benar ikhlas membantu anda.”


“Kalau begitu, sebagai tanda terima kasihku aku akan mentraktirmu makan dan kamu tidak boleh menolaknya.”

__ADS_1


__ADS_2