Berkah Cinta

Berkah Cinta
Berkah Dalam Bencana


__ADS_3

Maka Felli membawa pemuda itu masuk ke dalam mall dan membuatnya menemaninya makan di salah satu food court, pemuda itu nampak agak canggung ketika berhadapan dengan Felli dan wanita itu baru menyadari bahwa


sejak tadi mereka bahkan belum berkenalan.


“Ngomong-ngomong sepertinya kita belum berkenalan, ya? Namaku Felli.”


“Ricky.”


Pemuda bernama Ricky itu kemudian menjabat tangan Felli, suasana di antara mereka memang masih kaku dan mereka juga bingung harus membuka obrolan dari mana.


“Berapa usiamu?” tanya Felli.


“Apa? Aku?” tanya pemuda itu.


“Iya, berapa usiamu.”


“23 tahun.”


“Apa?”


“Kenapa memangnya?”


“Oh tidak apa-apa.”


Felli jadi teringat adiknya yang berusia sama seperti pemuda itu namun kemudian Felli malah jadi makin penasaran dengan sosok Ricky yang tadi sudah membantu dirinya dalam mengembalikan tas yang sempat dijambret


oleh orang tak dikenal tadi.


“Apakah kamu sudah punya pacar?”


“Apa?”


“Kenapa? Apakah itu pertanyaan yang terlalu personal?”


“Tidak, maksudku….”


“Apa? Katakan saja.”


“Sebenarnya masih ada sesuatu yang harus aku kerjakan saat ini.”


“Namun kamu bahkan belum menyentuh makananmu.”


“Tidak apa, aku tidak lapar.”


“Mana boleh begitu, tunggu sebentar biar ini kamu bawa pulang saja.”


*****


Sementara itu di ruang inap ini hanya ada Tania dan Minanti saja, wanita itu nampak menawarkan Tania untuk makan namun Tania menolaknya karena ia memang masih kenyang.


“Sepertinya kamu ingin mengatakan sesuatu, ya?” terka Minanti.


“Sejujurnya begitu, namun aku tidak enak mengatakannya,” jawab Tania jujur.

__ADS_1


“Tidak apa, kenapa kamu harus merasa tidak enak begitu, bukankah kita sudah dekat?”


“Benar, hanya saja… aku rasa pertanyaan ini agak personal dan saya takut kalau ini malah menyinggung Nyonya.”


“Sudahlah Tania, bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk jangan sungkan padaku, ayo katakan saja apa yang hendak kamu katakan.”


“Baiklah kalau begitu, sebenarnya ini menyangkut tentang hubungan anda dengan mendiang kedua orang tuaku dulu.”


Raut wajah Minanti berubah seketika setelah mendengar apa yang hendak Tania katakan padanya, Tania nampak ragu dengan perubahan wajah Minanti, ia pun segera berhenti bicara karena takut malah menyinggung perasaan


Minanti.


“Maaf kalau saya lancang Nyonya.”


“Tidak apa Tania, aku tahu bahwa cepat atau lambat kamu pasti akan menanyakan hal tersebut padaku.”


“Kalau Nyonya keberatan menjawab, maka saya tidak akan memaksa agar Nyonya menjawabnya.”


“Tidak Tania, saya akan menjawabnya.”


“Benarkah?”


“Iya, saya serius, kamu ingin tahu apa hubunganku dengan kedua orang tuamu di masa lalu, bukan?”


*****


Olaf secara tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan Juan dengan salah seorang di telepon yang mana Juan meminta agar orang tersebut membereskan masalah Stefani agar wanita itu tidak sampai dimintai keterangan


“Kak, kamu membuatku terkejut saja.”


“Kamu habis menelpon siapa?”


“Klien.”


“Benarkah? Lalu kenapa kamu menyebut-nyebut nama Stefani?”


“Kak, aku harus kembali ke ruangan kerjaku sekarang juga.”


“Tidak Juan, jawab pertanyaanku dengan jujur dulu, apa yang sebenarnya terjadi saat ini? Apa yang sudah Stefani lakukan sampai-sampai dia bisa dipolisikan?”


“Kak, itu bukan masalahmu, urus saja masalahmu sendiri!”


“Ini jadi masalahku kalau kamu mulai bermain api dengan wanita itu, Juan. Aku tidak mau sampai pernikahanmu dengan Felli berantakan karena wanita itu, aku tidak rela!”


“Kak, apakah aku pernah mencampuri urusan pribadimu selama ini? Kamu dekat dengan siapa saja, aku tidak pernah protes atau mengatakan apa pun, namun kenapa saat aku dekat dengan Stefani maka kamu mendadak cerewet seperti ini?”


“Juan, aku peduli padamu, aku tidak ingin pernikahanmu dengan Felli berantakan karena wanita itu.”


“Kak, aku sudah katakan, urus saja masalahmu sendiri dan jangan urus masalahku, apakah itu cukup jelas bagimu?”


Setelah mengatakan itu Juan langsung pergi meninggalkan Olaf yang masih berdiri di tempatnya, ia masih memikirkan tindakan kriminal apa yang sudah Stefani lakukan sampai ia hendak dipolisikan.


*****

__ADS_1


Felli rupanya diam-diam mengikuti ke mana perginya Ricky, dengan mengendap-endap, dirinya mengikuti pria itu menyusuri sebuah gang kecil di permukiman warga yang padat serta kumuh. Felli nampak begitu jijik ketika melewati jalan kecil yang kotor dan bau itu, namun demi rasa penasarannya yang harus terpenuhi maka Felli pun rela berkorban, ia terus mengikuti Ricky hingga akhirnya pria itu sampai di sebuah rumah yang sudah tidak layak huni dan masuk ke dalamnya.


“Apakah dia tinggal di situ?”


Felli masih memperhatikan pemuda itu dari jauh hingga akhirnya ia yakin kalau memang Ricky tinggal di rumah itu, ia pun bertanya pada salah satu warga yang kebetulan melintas di depannya supaya ia lebih yakin lagi.


“Permisi, apakah rumah itu tempat tinggal Ricky?”


“Oh, iya, dia tinggal di situ.”


“Dengan siapa dia tinggal di situ?”


“Dia tinggal dengan ketiga adiknya yang masih kecil.”


“Begitu rupanya.”


“Nona ini siapa, ya?”


“Bukan siapa-siapa, saya permisi dulu.”


Felli pun segera bergegas pergi dari permukiman itu sebelum Ricky mengetahui keberadaannya, kini akhirnya Felli tahu bahwa memang pemuda itu tinggal di rumah tersebut.


*****


Minanti menceritakan pada Tania bahwa memang dulu ia mengenal sosok mendiang papanya, Minanti hanya mengatakan bahwa ia dan Bima adalah teman dekat hingga akhirnya Bima pun menikah dengan wanita yang ia


cintai yaitu Hanum. Setelah Bima dan Hanum menikah, Minanti tidak pernah berkomunikasi dengan Bima lagi karena ia tidak mau membuat Hanum jadi salah paham.


“Begitulah ceritanya, Tania.”


“Begitu jadi kalian rupanya teman yang dekat.”


“Begitulah Tania, maka dari itu ketika aku mendengar kabar Bima meninggal dunia, aku begitu sedih karena temanku harus meninggal karena perbuatan iblis wanita itu. Namun sekarang wanita itu sudah mendapatkan


balasannya.”


“Iya Nyonya, sekarang dia sudah mendapatkan balasannya, namun… ada satu pertanyaan lagi yang ingin aku tanyakan pada anda.”


“Apa itu Tania?”


“Kalau aku boleh tahu, kenapa Olaf dan adiknya nampak tidak mirip seperti anda atau Tuan Bram? Maaf kalau saya ingin tahu soal itu.”


“Tidak apa Tania, Olaf dan Juan memang bukan anak kandungku, mereka adalah buah cinta dari pernikahan papanya anak-anak dengan seorang wanita dari Austria makanya kamu melihat Olaf dan Juan nampak tidak


mirip denganku atau papanya, mereka mengikuti ibu mereka.”


“Kalau boleh saya tahu, di mana ibu mereka saat ini.”


Belum sempat Minanti menjawab pertanyaan Tania, pintu ruang inap Tania terbuka dan menampakan sosok Bram di sana.


“Maaf kalau aku mengganggu kalian.”


“Tidak Tuan, silakan masuk.”

__ADS_1


__ADS_2