Berkah Cinta

Berkah Cinta
Papa Curiga


__ADS_3

Minanti terlalu sibuk menatap foto usang tersebut hingga ia tak menyadari bahwa seseoran masuk ke dalam ruangan ini, orang tersebut tidak lain adalah suaminya.


“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”


Minanti terkejut dengan kedatangan suaminya, ia buru-buru menyimpan foto dan buku itu kembali ke rak.


“Bukan apa-apa.”


Bram nampak tidak percaya begitu saja dengan yang dikatakan oleh Minanti barusan, ia yakin bahwa ada sesuatu yang tengah Minanti sembunyikan darinya.


“Kamu tengah menyembunyikan sesuatu dariku?”


“Kamu ini bicara apa? Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu.”


Minanti mengajak suaminya untuk pergi dari ruangan ini walaupun sebenarnya Bram masih penasaran dengan apa yang sebenarnya Minanti simpan di dalam buku tersebut.


“Kenapa kamu datang ke sana?”


“Aku mencarimu, aku pikir kamu pergi rupanya kamu ada di sana.”


“Begitu rupanya, memangnya ada masalah apa sampai kamu ingin bertemu denganku?”


“Bukan apa-apa.”


Setelah mengatakan hal tersebut, suaminya itu pergi meninggalkan Minanti seorang diri, wanita itu nampak menghela napasnya lega untuk saat ini, namun ia juga harus waspada kalau-kalau Bram akan kembali ke


sana dan mencari tahu apa yang sebenarnya ia sembunyikan di rak itu.


*****


Tania mendatangi makam kedua orang tuanya dan juga Handi. Ia bersimpuh di makam ketiganya dan menaburkan bunga masing-masing di atas pusara mereka, Tania selalu merasa sedih saat berkunjung ke pemakaman


karena di sinilah ketiga orang yang begitu berarti dan ia sayangi sudah pergi untuk selama-lamanya.


“Pa, Ma, Om Handi, apakah kalian sudah bahagia di atas sana?”


Tania kali ini tidak kuasa untuk membendung air matanya untuk tidak jatuh walaupun ia tahu bahwa kalau ada mereka bertiga di sini mereka pasti tidak ingin ia sampai menitikan air mata.


“Aku minta maaf karena tidak bisa berhenti menangis padahal aku sudah mencobanya.”


Tania nampak terisak selama beberapa menit untuk mengeluarkan rasa sedih dan sesak yang menghimpit dadanya, setelah semua rasa sedih dan sesak itu menghilang akhirnya Tania dapat mengendalikan dirinya lagi


dan menghapus air matanya yang tadi sempat tumpah.


“Aku harap kalian bertiga beristirahat dengan tenang, aku akan selalu mendoakan kalian dari sini.”

__ADS_1


Setelah mengatakan itu Tania pun melangkahkan kakinya pergi dari pemakaman itu, namun rupanya ada seseorang yang sejak tadi bersembunyi dari balik pohon dan orang itu menatap kepergian Tania dari area


pemakaman ini.


****


Bram masih memikirkan tentang apa yang dilakukan oleh Minanti tadi di ruang perpustakaan, maka selagi Minanti pergi ia pun bergegas menuju ruang perpustakaan untuk mencari tahu sebenarnya apa yang disembunyikan


oleh istrinya itu.


“Aku yakin bahwa dia pasti menyembunyikan sesuatu di tempat ini.”


Maka Handi pun dengan teliti menyusuri setiap rak dan buku yang tersusun rapih di sana, ia sudah membuka dan mengecek hampir beberapa buku dan rak, namun ia belum menemukan sesuatu yang janggal saat ini.


“Sudah berapa lama aku ada di sini, ya?”


Handi kemudian melirik jam dinding yang ada di ruang perpustakaan itu dan rupanya sudah hampir satu jam dan dia belum menemukan apa yang ia inginkan.


“Buku dan rak di sini masih banyak yang belum aku sisir, sebenarnya apa yang dia sembunyikan, sih?”


Bram kemudian keluar dari ruang perpustakaan dan ia menemukan sosok Felli baru saja masuk ke rumah.


“Felli, kamu baru pulang?”


“Iya Pa.”


“Iya.”


“Baguslah kalau begitu, Papa tidak mau kalian bertengkar terlalu lama, itu tidak baik untuk hubungan rumah tangga kalian.”


“Kalau begitu aku permisi dulu.”


“Baiklah, silakan.”


Felli menarik kopernya naik ke lantai dua menuju kamarnya berada, sementara itu tidak lama kemudian Minanti masuk dari pintu depan dan mendapati suaminya berdiri di depan pintu ruang perpustakaan.


“Kenapa kamu berdiri di sana?”


“Tidak ada apa-apa, apakah kamu tahu kalau Felli sudah kembali?”


“Iya, tadi kami sempat bertemu di depan.”


****


Ester kembali dirawat di rumah sakit jiwa, namun kali ini pengawasannya jauh lebih ketat dari sebelumnya, wanita itu dirantai tangan dan kakinya agar tidak melarikan diri selain itu juga mereka terpaksa melakukan itu karena Ester bersikap agresif dan kerap kali menyerang perawat yang datang untuk mengecek keadaannya. Tania saat ini sudah berdiri di depan rumah sakit jiwa tempat di mana Ester dirawat saat ini, ia ingin mencari tahu bagaimana keadaan wanita itu sekarang.

__ADS_1


“Ada yang bisa kami bantu?”


“Apakah saya boleh bertemu dengan pasien yang bernama Ester?”


“Tunggu sebentar.”


Petugas itu nampak seperti membuka informasi lewat komputernya dan kemudian ia mengatakan pada Tania bahwa saat ini Ester tidak dapat dijenguk karena kondisinya tidak stabil dan akan sangat berbahaya kalau ia memaksakan dirinya untuk menjenguk Ester.


“Kalau begitu bolehkah aku bertemu dengan dokter yang menanganinya?”


“Tunggu sebentar.”


Petugas itu nampak menelpon seseorang dan setelah pembicaraan singkat tidak lama kemudian petugas itu mengatakan bahwa Tania bisa menunggu sebentar karena dokter yang mengangani Ester sedang menangani pasien yang lain.


“Terima kasih.”


****


Sementara itu Bram tidak dapat memejamkan matanya karena ia teringat kelakuan aneh Minanti tadi ketika ia secara tidak sengaja memergoki istrinya itu tengah menatap sesuatu dari sebuah buku. Bram kemudian


melirik ke arah istrinya yang masih tertidur di sampingnya, sepertinya Minanti sudah tidur dengan pulas hingga ini adalah kesempatannya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Minanti. Perlahan Bram turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar mereka, ia menutup dan membuka pintu dengan sangat pelan agar tidak membuat Minanti bangun, setelah itu ia dengan langkah perlahan menuju ruang perpustakaan namun sebelum ia mencapai ruang perpustakaan itu, seseorang tengah menuruni anak tangga dan ternyata orang itu


adalah Olaf.


“Papa?”


“Jangan berisik, hari sudah malam.”


Olaf kemudian melangkahkan kakinya menuju sang papa, ia penasaran kenapa Bram bangun malam-malam begini dan apa yang ingin sang papa lakukan?


“Apa yang ingin Papa lakukan malam-malam begini?”


“Kamu sendiri apa yang kamu lakukan?”


“Aku haus, aku ingin pergi ke dapur untuk mengambil air, Papa sendiri?”


“Papa ingin pergi ke sini,” ujar Bram menunjuk ruang perpustakaan.


“Perpustakaan? Kenapa Papa pergi ke sana?”


“Kita bicara di dalam saja.”


Maka kemudian mereka berdua masuk ke dalam ruang perpustakaan itu dan setelahnya Bram pun menceritakan sikap Minanti yang aneh tadi siang.


“Maksud Papa, Mama tengah menyembunyikan sesuatu dari Papa?”

__ADS_1


“Papa tidak bermaksud menuduh seperti itu, namun… sikapnya benar-benar mencurigakan dan Papa harus tahu apa sebenarnya yang ia lihat tadi siang agar rasa penasaran Papa terpenuhi.”


__ADS_2