Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kita Perlu Bicara


__ADS_3

Tidak pernah terbayang dalam benak Jihan ketika ia akhirnya kembali bertemu dengan pria ini setelah sekian lama mereka tidak bertemu, Jihan nampak begitu malas meladeni pria ini dan ia memilih untuk berbalik badan, namun sebelum Jihan berhasil melakukan itu, pria tersebut sudah menarik tangan Jihan dan berkata bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan.


“Jihan, mari kita bicara.”


“Untuk apa lagi kita bicara?”


“Aku akan menjelaskan semuanya padamu.”


“Aku tidak butuh penjelasan apa pun darimu, aku ingin kamu lepaskan tanganmu ini atau aku akan berteriak dan kamu akan berada dalam masalah besar saat ini jika memang aku melakukannya.”


“Jihan, apakah kamu harus melakukan ini padaku?”


“Iya, aku harus melakukan ini karena kamu menggangguku, jadi sebelum kesabaranku habis, lebih baik kamu pergi sekarang juga.”


“Jihan, aku mohon aku harus bicara denganmu, kamu perlu mendengarkan semua penjelasanku.”


“Aku tidak butuh penjelasan darimu, ok? Aku ingin sendiri, jadi jangan ganggu aku!”


Setelah mengatakan itu Jihan memilih untuk melarikan diri dan tidak mau menatap pria itu, Jihan memutuskan untuk pulang saja ke rumah, niatnya untuk menenangkan diri di mall malah berujung sesuatu hal yang membuatnya kesal.


“Kenapa aku dan dia harus bertemu di saat seperti ini?”


****


Ester menyambut kedatangan putrinya yang baru saja pulang, raut wajah Jihan nampak murung dan ia sama sekali tidak mengatakan apa pun pada Ester saat ini, Ester jadi beranggapan bahwa saat ini Jihan mungkin saja sedang ada masalah dengan Ferdian namun rupanya ketika Ester masuk ke dalam kamar Jihan untuk menanyakan apa yang terjadi, respon yang diberikan oleh Jihan malah membuatnya begitu terkejut.


“Mama, lebih baik Mama keluar saja dari sini, aku butuh waktu sendiri.”


“Namun Mama khawatir padamu, Nak, katakan pada Mama apakah Ferdian melakukan sesatu hal yang buruk padamu?”


“Ma, sudah aku katakan kalau saat ini aku sedang tidak ingin diganggu oleh siapa pun, apakah itu kurang jelas?!”


Ester tentu saja terkejut karena ini baru pertama kalinya Jihan membentaknya dan Ester pun memilih keluar dari dalam kamar Jihan untuk menghindari kemurkaan anaknya itu jika ia masih nekat berlama-lama. Setelah ia keluar dari dalam kamar itu, Ester meraih ponselnya dan menelpon Ferdian, ia tentu saja ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya sampai Jihan menjadi seperti itu saat ini.


“Halo Tante?”

__ADS_1


“Halo Ferdian, maaf kalau Tante mengganggu waktumu.”


“Sama sekali tidak, memangnya apa membuat Tante menelponku?”


“Begini, saat ini Jihan pulang ke rumah dengan keadaan menyedihkan, Tante khawatir padanya, masalahnya kamu terakhir yang bertemu dengan dia, mungkin saja kamu tahu apa yang terjadi padanya.”


****


Saat makan malam, Jihan tidak keluar kamar padahal Ester sudah mengetuk pintu kamarnya namun Jihan mengatakan bahwa saat ini ia sedang tidak berselera untuk makan, Ester hanya dapat menghela napasnya dan


kemudian pergi ke meja makan untuk memulai makan malam bersama dengan suaminya dan Tania, walaupun ia kesal karena Tania ikut makan malam di meja yang sama dengannya saat ini, namun ia tidak dapat melakukan apa pun karena sikap Handi yang sudah keras padanya.


“Kenapa Tania hanya diam? Ayo makan,” ujar Handi.


“Iya Om.”


Ester nampak membuang napasnya kesal, ia menahan diri untuk tidak meluapkan emosinya pada Tania, Handi yang seolah tahu yang sedang dipikirkan oleh Ester mengatakan bahwa sebaiknya Ester tidak melakukan sesuatu


hal yang akan disesali di kemudian hari.


Namun Ester tidak menanggapi ucapan Handi barusan, ia memilih untuk fokus pada makan malamnya sementara Tania yang duduk berhadapan dengan Ester, nampak menundukan kepalanya sepanjang makan malam.


“Aku sudah selesai makan malam,” ujar Tania.


“Baiklah, selamat malam, Tania,” ujar Handi.


“Selamat malam, Om.”


*****


Ester menyuruh Tania datang ke kamar Jihan untuk mengantarkan makan malam saat ini karena wanita itu khawatir dengan keadaan Jihan jika Jihan tidak makan malam, Ester mengatakan pada Tania dengan bagaimanapun caranya ia harus bisa membujuk Jihan makan karena kalau sampai ia tidak dapat melakukan itu, sesuatu hal yang buruk akan menimpanya. Tania hanya dapat pasrah mendengarkan ancaman Ester barusan, ia akan melakukan seperti apa yang Ester katakan yaitu membujuk Jihan untuk memakan makan malamnya, Tania membawa nampan penuh berisi makan malam untuk Jihan ke kamarnya, Tania mengetuk pelan pintu kamar itu dan memanggil nama Jihan beberapa kali namun tidak ada jawaban juga dari dalam hingga bermenit-menit berikutnya.


“Nona Jihan, saya membawakan makan malam untuk anda.”


“Aku tidak lapar! Kamu boleh membawanya kembali!”

__ADS_1


“Namun Nyonya Ester menyuruh Nona untuk makan.”


“Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak lapar, apakah kamu ini tuli, hah?!”


Walaupun kata-kata Jihan itu menusuk dirinya, namun Tania harus bersabar dan membujuk agar Jihan mau memakan makan malamnya karena ia tidak ingin sampai Ester memarahinya dan menyalahkannya jikalau Jihan tidak memakan makan malamnya.


“Nona, malam ini Nona harus makan.”


Tidak lama kemudian pintu terbuka, namun alih-alih menerima nampan berisi makanan itu yang ada justru Jihan menumpahkan semua piring dan gelas yang ada di nampan itu hingga membuat Tania terkejut dengan yang dilakukan oleh Jihan ini.


“Apakah kamu ini tuli?! Sudah aku katakan kalau aku tidak lapar, kenapa kamu masih saja mengusikku?!”


****


Keributan malam ini membuat Handi dan Ester yang sedang ada di dalam kamar keluar untuk mencari sumber keributan dan rupanya sumber keributan pada malam hari ini adalah berasal dari kamar Jihan, Handi menanyakan


pada Jihan apa yang membuat Jihan berteriak-teriak seperti itu dan melakukan tindakan yang kasar pada Tania?


“Jihan, apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu melakukan tindakan yang kasar pada Tania?”


“Papa tidak perlu ikut campur urusanku dengan gadis ini, dia duluan yang mencari gara-gara denganku!” seru Jihan.


“Sebenarnya apa yang terjadi padamu, kenapa malam-malam begini berteriak-teriak dan melakukan tindakan yang kasar, Jihan? Papa tidak bisa mentoleransi bentuk kekerasan apa pun di rumah ini.”


“Jadi Papa membela gadis ini? Gadis pengganggu ini?!”


“Jihan jaga bicaramu.”


“Bagus sekali, Papa bela saja gadis ini, sebenarnya apakah aku ini anak Papa atau bukan, sih?”


Setelah mengatakan itu, Jihan langsung menutup pintu kamarnya dengan keras, Handi meminta maaf pada Tania atas kelakuan anaknya itu namun Tania mengatakan bahwa ia sama sekali tidak masalah dengan kelakuan Tania


itu, saat Tania hendak membersihkan pecahan kaca yang berserakan di lantai, Handi melarangnya melakukan itu.


“Biar Om saja yang bersihkan ini semua.”

__ADS_1


“Apa? Bagaimana mungkin kamu yang membersihkan semua ini? Ini semua tugasnya dia!” seru Ester tak terima.


__ADS_2