
Minanti kembali menjenguk Tania di rumah sakit, Olaf mengatakan bahwa besok Tania sudah dapat diizinkan pulang oleh dokter, Minanti nampak begitu senang dengan kabar bahagia itu.
“Syukurlah Nak, kalau begitu.”
“Iya Nyonya.”
Minanti meminta agar Olaf pulang saja dan istirahat di rumah sementara Tania biar ia yang menjaga di sini.
“Tapi Ma ….”
“Kamu sudah tidur di sini semalam, kamu juga butuh istirahat sekarang ayo pulang.”
“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu.”
Olaf pun pergi dari ruangan inap Tania setelah ia berpamitan pada Tania dan Minanti, selepas Olaf pergi kini Minanti berjalan menghampiri tempat tidur Tania seraya menggenggam tangan Tania.
“Apakah dia tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu semalam?”
“Tidak Nyonya, dia tidur di sofa.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Kemudian tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka berdua, Tania sebenarnya ingin menanyakan pada Minanti perihal masa lalu wanita ini dan sang papa namun ia terlalu sungkan untuk bertanya lebih jauh tentang hal tersebut.
“Ada apa Tania?”
“Oh bukan apa-apa Nyonya, saya hanya sudah tidak sabar menanti besok, saya sudah bosan harus berada di rumah sakit ini.”
*****
Olaf tiba di rumah namun ia tidak menemukan siapa pun di rumah ini, ia bertanya pada asisten rumah tangga yang menyambutnya di pintu rumah barusan.
“Yang lain pergi ke mana, Bi?”
“Tuan Bram sedang ada di perpustakaan, sementara Tuan Juan sedang keluar.”
“Pasti dia sedang menemui wanita itu lagi,” keluh Olaf.
Ia pun kemudian berjalan menuju ruang perpustakaan di mana sang papa berada saat ini, perlahan ia membuka knop pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Kamu sudah datang rupanya.”
“Apakah Papa sudah menemukan buktinya?”
“Belum, sampai saat ini Papa belum menemukannya, sepertinya dia menyembunyikannya di dalam sebuah brankas.”
“Brankas?”
“Iya sebuah brankas.”
“Di mana brankas itu?”
“Di dalam kamar kami, Papa sudah mencoba mencari kode kombinasi yang tepat untuk membuka brankas itu namun tetap saja brankas itu tak terbuka.”
__ADS_1
“Begitu rupanya.”
Olaf pun meminta izin untuk pergi ke kamar kedua orang tuanya untuk melihat brankas yang tadi dibicarakan oleh Bram.
“Itu dia brankasnya, Papa sudah berusaha membukanya namun hasilnya masih nihil.”
“Susunan angka mana saja yang sudah Papa coba.”
“Ulang tahun kita semua, hari pernikahan kami, selebihnya aku tidak tahu apa lagi kombinasi angkanya.”
Olaf kemudian mencoba menekan beberapa angka namun hasilnya tetap nihil, sampai akhirnya ia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
“Kamu sedang berkirim pesan pada siapa?”
“Tunggu sebentar, Pa.”
Sembari menunggu orang itu menjawab pesannya, Olaf mencoba menekan beberapa angka yang tidak lain adalah hari ulang tahun Tania, namun tetap juga pintu brankasnya tidak terbuka.
“Kombinasi angka apa itu?”
“Ulang tahun Tania, namun ternyata bukan.”
****
Tidak lama kemudian akhirnya orang itu menjawab pesan dari Olaf, pria itu segera menekan kombinasi angka dan ternyata pintu brankas terbuka, Bram dan Olaf tentu saja terkejut karena rupanya itulah kombinasi angka untuk membuka pintu brankasnya.
“Kombinasi angka apa itu?”
“Papa yakin ingin tahu?”
“Itu adalah hari ulang tahun papanya Tania.”
Bram pun terkejut dengan jawaban Olaf barusan, bagaimana mungkin Minanti menggunakan hari ulang tahun Bima sebagai kode untuk membuka pintu brankas ini.
“Apakah buku ini yang Papa maksud?”
“Iya itu bukunya.”
Bram pun segera menarik buku itu dari tangan Olaf, ia nampak tidak sabar dan membuka secara perlahan-lahan buku itu dan mulai membaca dari halaman per halaman hingga akhirnya ia menemukan sebuah foto usang di
sana.
“Ini foto mama, ya?”
“Iya ini dia foto yang aku maksud.”
Sementara itu Olaf melirik ke arah buku merah yang sudah usang dimakan usia ini, ia menemukan deretan kalimat seperti keluh kesah sang mama di masa lalu.
“Apakah mereka memiliki hubungan di masa lalu yang lebih dari sekedar teman, ya?”
*****
Felli mengantarkan Ricky sampai ke rumahnya, selain itu juga Felli membelikan beberapa pakaian dan makanan untuk pemuda itu dan juga adik-adiknya.
__ADS_1
“Terima kasih karena kamu sudah membelikan semua ini untukku dan adik-adikku, selain itu juga aku berterima kasih karena kamu sudah mencarikanku pekerjaan.”
“Tidak masalah, aku harap kamu suka dengan apa yang aku berikan padamu.”
“Tentu saja aku menyukainya, sekali lagi terima kasih.”
“Tidak masalah.”
Ricky pun membawa semua barang-barang itu keluar dari dalam mobil Felli, wanita itu nampak memperhatikan Ricky hingga pemuda itu menghilang di ujung mulut gang sana.
“Senang rasanya bisa membuat dia tersenyum bahagia seperti itu.”
Felli pun melajukan kendaraanya pergi dari tempat tersebut dan ia kembali ke café milik sahabatnya, Nanda. Nanda menyambut Felli dan mengajaknya mengobrol di dalam ruangan kerjanya saat ini.
“Siapa sebenarnya pemuda itu?”
“Dia adalah sosok yang mengembalikan tasku ketika dijambret waktu itu.”
“Benarkah? Dia bukan simpananmu, kan?”
“Kamu ini bicara apa, sih?”
“Iya aku takut saja kamu berubah menjadi tante-tante girang yang butuh sentuhan.”
“Memangnya aku ini nampak sudah tua seperti tante-tante, apa?”
“Aku bercanda Felli.”
“Namun Nanda, sejujurnya saat ini aku memang sedang ada masalah dengan suamiku.”
*****
Keesokan harinya, Tania sudah diizinkan pulang oleh dokter dan Minanti serta Olaf membantu Tania merapihkan pakaiannya serta mengantarkannya ke apartemen. Sebelumnya Minanti sudah meminta agar Tania tinggal untuk sementara di rumah mereka karena ia khawatir kalau Tania tinggal sendiri di apartemen maka sesuatu hal yang buruk dapat terjadi padanya kelak.
“Nyonya tidak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja tinggal di apartemenku, lagi pula aku sudah biasa merawat diriku sendiri, kok.”
“Namun tentu saja saat ini berbeda Tania, sejujurnya aku takut kalau ada orang jahat yang akan melukaimu ketika kamu sendirian.”
“Nyonya tidak perlu khawatir, seperti yang sudah aku katakan tadi.”
Maka kemudian tidak ada alasan lagi bagi Minanti untuk membawa Tania tinggal di rumah mereka saat ini, walaupun sebenarnya Olaf begitu bahagia kalau memang Tania dapat tinggal di rumah yang sama dengannya namun sebentar lagi pasti mimpi itu akan terwujud setelah ia dan Tania resmi akan menikah.
“Olaf, kamu memikirkan apa?”
“Apa? Oh bukan apa-apa.”
“Apakah kamu memikirkan sesuatu hal yang aneh?” tanya Minanti curiga.
“Tidak, aku hanya membayangkan saja setelah aku dan Tania menikah, maka kami bisa tinggal satu atap.”
“Memangnya Mama sudah memberikanmu izin untuk menikah dengan Tania?”
“Jadi Mama tidak setuju kalau aku dan Tania menikah?”
__ADS_1
Tania jadi harap-harap cemas, ia takut kalau Minanti tidak setuju kalau putranya ini ingin menikah dengannya, namun rasa cemas dan takut Tania pun seketika sirna ketika Minanti mengatakan bahwa ia akan mengizinkan mereka berdua menikah.
“Mama serius?”