
Ferdian sudah mengatur segala sesuatunya agar berjalan seperti yang ia rencanakan, Kejaksaan tidak akan pernah dapat menangkapnya dengan mudah, ia akan melakukan apa pun untuk keluar dari jerat hukum yang saat ini tengah menantinya. Namun rupanya desas-desus bahwa Kejaksaan sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai adanya dugaan suap yang dilakukan oleh Ferdian sampai juga ke telinga kedua orang tuanya, sang papa tentu saja berang bukan main dan ia mengancam akan mengeluarkan Ferdian dari perusahaan karena kalau sampai Ferdian tertangkap atas dugaan suap maka sudah dipastikan perusahaan mereka yang dalam keadaan tidak baik-baik saja akan terkena efek yang luar biasa.
“Lihat apa yang sudah kamu lakukan? Kejaksaan siap menangkapmu dan membuatmu mendekam di balik jeruji besi atas tindakanmu itu.”
“Papa tidak perlu khawatir, aku akan mengatasi hal tersebut.”
“Dengan apa? Dengan apa kamu akan mengatasi hal tersebut Ferdian? Tidak lama lagi kamu akan dipenjara dan perusahaan yang selama ini Papa bangun akan hancur dalam waktu semalam karena tindakanmu ini!”
“Sudah aku katakan pada Papa bahwa aku tidak akan hancur dengan mudah, aku tidak akan ditangkap dan dipenjara atas perbuatanku, Papa lihat saja nanti.”
****
Ferdian sampai di rumah larut malam karena pembicaraan mendadak dengan kedua orang tuanya yang menumpahkan semua kekesalan mereka pada Ferdian yang begitu bernafsu mengalahkan Olaf dalam pertarungan ini hingga yang dilakukan oleh Ferdian sungguh membahayakan perusahaan.
“Kamu baru pulang?” tanya Tania yang terbangun dari tidur ketika mendengar suara pintu kamar terbuka.
“Begitulah, hari yang melelahkan,” jawab Ferdian.
Tania nampak tidak peduli dan ia kembali melanjutkan tidurnya sementara itu Ferdian masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower, ia nampak mengepalkan tangannya geram dan meninju dinding hingga tangannya berdarah namun Ferdian membiarkan darah itu mengalir.
“Aku tidak akan hancur dengan mudah, kalian lihat saja nanti.”
Ferdian menyudahi sesi mandinya dan keluar dari dalam kamar mandi, nampak Tania sudah tertidur pulas di atas tempat tidur sementara Ferdian mengambil kotak P3K untuk mengobati luka di tangannya, saat Ferdan tengah mengambil plester, obat merah dan juga kain kasa, ia terkejut ketika seseorang merebut semua benda itu darinya.
“Apa yang kamu lakukan sampai membuat tanganmu berdarah malam-malam begini?”
“Apakah aku membangunkanmu?”
“Sudahlah jangan banyak bicara.”
Tania kemudian mengobati luka yang dialami oleh Ferdian, pria itu nampak tersenyum pada Tania yang mau mengobati lukanya, ia harap ini merupakan awal dari hubungan mereka yang akan membaik di kemudian
hari.
****
Keesokan harinya Tania baru saja menandatangani sebuah perjanjian kerja sama antara perusahaannya dengan investor asal Jerman, Tania tentu saja bahagia karena investor dari Jerman ini adalah salah satu investor yang cukup selektif dalam memilih mereka akan berinvestasi.
“Jadi apa jadwalku berikutnya?”
__ADS_1
“Setelah ini anda tidak memiliki jadwal apa pun Nyonya.”
“Terima kasih, kamu bisa kembali ke kantor duluan, aku akan menyusul.”
“Baik Nyonya.”
Sang sekretaris pun bergegas pergi meninggalkan restoran tempat di mana Tania dan investor asal Jerman itu menandatangani perjanjian, Tania masih menikmati makan siangnya seorang diri sampai akhirnya ia mendengar suara ponselnya berdering, ia meraih ponsel yang ia taruh di atas meja itu dan melihat siapa orang yang menelponnya saat ini rupanya orang yang menelponnya saat ini adalah orang suruhannya.
“Ada berita apa?”
“Nyonya Tuan Ferdian saat ini sedang melakukan pertemuan dengan salah seorang oknum pegawai dari Kejaksaan.”
“Benarkah? Apakah kamu sudah tahu apa yang sedang mereka bicarakan.”
“Aku belum tahu apa yang sedang mereka bicarakan, namun aku akan mencari tahunya.”
“Baguslah kalau begitu, ingat foto dan rekam juga kegiatan mereka karena siapa tahu hal itu dapat bermanfaat nanti.”
“Tentu Nyonya.”
TUT
Tania menyeringai, sepertinya Ferdian sedang mencoba jalan menyuap oknum Kejaksaan agar dia tidak diperiksa dalam kasus suap menyuap ini.
*****
Tania merasa bahwa ada seseorang yang tengah mengikutinya saat ini namun ia tidak dapat mengetahui siapa orang yang saat ini tengah mengikutinya, sampai salah seorang asistennya bertanya padanya.
“Apa ada masalah Nyonya?”
“Belakangan ini aku merasa ada seseorang yang mengikutiku.”
“Kami akan mencari tahu siapa orang itu Nyonya, anda tidak perlu khawatir.”
“Terima kasih.”
Ketika Tania hendak masuk ke dalam gedung, tiba-tiba saja terdengar suara tembakan dari belakang dan kondisi di depan gedung pun menjadi panik, Tania dilindungi oleh satpam dan orang suruhannya, sementara petugas keamanan di depan berusaha mencari tahu siapa penembak misterus itu. Hingga beberapa detik kemudian akhirnya rentetan tembakan pun terhenti dan Tania merasa bahwa saat ini dirinya sudah aman.
“Apakah ada korban jiwa?” tanya Tania.
__ADS_1
“Seorang satpam dan pegawai terluka Nyonya dalam insiden ini.”
“Kalau begitu cepat panggil ambulance, jangan sampai nyawa mereka tidak tertolong.”
“Baik Nyonya.”
Maka Tania kemudian sampai di dalam ruangan kerjanya, ia masih memikirkan hal yang baru saja menimpanya, ia yakin bahwa ada seseorang yang berusaha untuk membunuhnya.
“Iya, aku yakin pasti ada seseorang yang ingin membunuhku dan hanya ada satu orang yang memiliki motif itu.”
****
Jihan awalnya tidak tahu siapa orang yang ingin bertemu dengannya, ia berpikir bahwa mungkin saja orang yang ingin bertemu dengannya adalah Galang namun ketika akhirnya ia tiba di tempat di mana ia bisa bertemu dengan pengunjung, dirinya begitu terkejut karena rupanya orang yang ingin bertemu dengannya adalah Tania.
“Lama tidak berjumpa denganmu.”
“Mau apa kamu datang ke sini?”
“Kenapa? Kamu tidak suka kalau aku datang menjengukmu?”
“Lebih baik kamu segera bicara karena aku tidak memiliki waktu untuk berbasa-basi denganmu.”
“Baiklah, katakan apa yang kamu ketahui tentang mamamu.”
“Mamaku? Dia kabur dari rumah sakit jiwa dan sampai saat ini dia belum ditemukan, apakah kamu puas?”
“Apakah kamu tahu sesuatu dia ada di mana?”
“Mana aku tahu, kenapa kamu menanyakan hal tersebut padaku?”
“Jangan tersinggung ya, namun… mungkin saja kamu tahu sesuatu perihal di mana mamamu itu.”
“Tania, aku tidak tahu di mana mamaku berada saat ini, jadi jangan pernah tanyakan soal mamaku padaku karena aku tidak tahu apa pun tentang itu.”
“Baiklah, aku percaya padamu dan aku harap kamu mengatakan yang sejujurnya.”
“Tentu saja aku mengatakan yang sejujurnya.”
Tania baru saja keluar dari penjaran dan secara tidak sengaja ia berpapasan dengan Galang yang sepertinya hendak bertemu dengan Jihan.
__ADS_1
“Tania?”
“Galang? Kebetulan kita bertemu di sini, apakah kamu memiliki waktu? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu.”