Berkah Cinta

Berkah Cinta
Berhasil Membuat Perjanjian


__ADS_3

Hilda mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal, pada awalnya ia tidak mau menjawab telepon dari nomor asing ini, hingga akhirnya nomor asing itu mengirimkan pesan dan mengajaknya untuk bertemu di sebuah café, awalnya Hilda nampak ragu namun ia sebenarnya juga penasaran siapa orang yang hendak menemuinya ini. Kalau dia memang orang yang memiliki niat jahat, pastinya dia mengajaknya untuk bertemu di tempat-tempat yang sepi dan tidak banyak diketahui oleh orang bukan tempat ramai seperti café di siang hari. Dengan pertimbangan yang banyak dan matang, akhirnya Hilda setuju untuk bertemu dengan sosok yang mengirimkan pesan untuknya saat ini. Hilda sudah sampai di café tempat mereka sudah janjiian untuk bertemu, namun sampai saat ini ia belum juga mengetahui siapa orang yang ingin bertemu dengannya, terlalu banyak orang yang ada d café ini. Namun ada seseorang yang melambaikan tangan padanya dan Hilda mengenali orang tersebut, namun ia ragu apakah ia harus beranjak ke sana atau tidak.


“Apa yang dilakukan oleh wanita itu di sini?”


*****


Hilda kemudian berjalan menghampiri meja wanita yang tidak lain adalah Stefani itu, Stefani nampak tersenyum pada Hilda namun Hilda nampak tidak suka dengan Stefani.


“Apakah kamu yang mengirimkan pesan padaku?”


“Iya, aku yang melakukan itu.”


“Kenapa kamu ingin bertemu denganku?”


“Tentu saja karena ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, silakan duduk.”


“Sebenarnya ada apa? Aku benar-benar penasaran.”


“Begini, saya tahu kalau anda tidak suka hubungan Ricky dan Felli, kan?”


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Sejujurnya, saya bicara begitu karena saya ingin menawarkan bantuan pada anda.”


“Apa maksudmu bantuan?”


“Anda ingin Ricky menjauh dari Felli, bukan? Maka saya dapat membantu anda.”


“Tidak perlu! Aku sama sekali tidak mempercayai apa yang kamu katakan!”


“Tidak masalah, namun anda jangan menyesal dikemudian hari kalau Felli dan Ricky akan menjadi semakin sulit untuk dipisahkan.”


“Ini semua pasti adalah bagian dari rencana jahatmu, bukan? Kamu pikir aku dapat dengan mudah diperdaya? Kamu salah Stefani, aku tidak akan mudah untuk masuk ke dalam perangkapmu.”


“Kenapa Nyonya sulit sekali percaya padaku? Niatku baik untuk menolong anda.”


“Tentu saja aku tidak percaya padamu, apakah kamu lupa atas apa yang sudah kamu lakukan pada anakku? Dan aku juga tidak akan lupa bahwa saat ini statusmu adalah tersangka!”


*****


Orang yang meneror Tania dan Olaf masih tidak mau mengatakan apa pun, baik Olaf maupun Tania sama-sama tidak dapat melakukan apa pun dan hanya dapat pasrah dan berharap semoga saja dia mau buka suara dan


mengatakan siapa dalang sebenarnya dari penyerangan tersebut.

__ADS_1


“Apakah kamu masih memikirkan orang itu?”


“Tentu saja, aku merasa penasaran sekali sebenarnya siapa orang yang menyuruhnya melakukan semua ini pada kita.”


“Apakah kamu yakin kalau dia bukanlah otak dari serangan itu?”


“Tentu saja tidak, aku yakin dia hanya eksekutornya saja, namun otaknya belum diketahui.”


Tania menghela napasnya panjang, sebenarnya ia ingin mengutarakan siapa yang ia curigai atas teror yang menimpa mereka, namun rasanya kalau ia menuduh tanpa bukti maka hal tersebut tidak dapat untuk


dibenarkan.


“Tania, apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Apa? Oh bukan apa-apa.”


“Kamu tahu bahwa kamu tidak dapat berbohong dariku, kan?”


“Baiklah, sebenarnya aku tengah memikikan sebuah nama.”


“Apakah kamu berpikir bahwa Stefani adalah dalang di balik semua ini?”


“Bagaimana bisa kamu tahu?”


“Sejujurnya aku juga curiga bahwa dia adalah dalang dari semua ini, aku sudah mencoba memancing orang itu untuk bicara yang sesungguhnya namun ia menolak dan mengatakan bahwa semua itu tidaklah benar.”


*****


“Stefani, bukankah aku sudah pernah mengatakan padamu? Kalau kamu mau pergi kamu harus mengatakannya padaku.”


“Aku minta maaf, Ma.”


“Kamu dari mana saja tadi?”


“Aku habis keluar tadi, menemui temanku.”


“Teman? Kamu pikir aku akan percaya begitu saja dengan apa yang kamu katakan?!”


“Minanti, ada apa ini?” tanya Bram yang datang menghampiri mereka setelah ia mendengar suara keributan dari Minanti.


“Stefani, dia ini selalu saja membuat kepalaku pusing, kenapa dia kalau pergi tidak pernah pamit padaku dulu?”


“Aku minta maaf Ma, lain kali aku akan berpamitan.”

__ADS_1


“Selalu saja kamu mengatakan itu!”


“Aku minta maaf, sungguh kali ini aku akan berpamitan kalau hendak pergi nantinya.”


“Tunggu dulu Stefani, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu.”


“Mama ingin bicara apa?”


“Apakah kamu sedang berusaha untuk meracuniku?”


“Apa?”


“Sudahlah Stefani, aku tahu bahwa saat itu kamu tengah mencoba meracuniku dengan menaburkan sesuatu di dalam makanan ketika Bibi sedang tidak ada, kan?”


Bram yang mendengar itu nampak terkejut, ia pun segera bertanya pada Stefani apakah yang dikatakan oleh Minanti itu benar adanya atau tidak, namun Stefani nampak membantah tuduhan itu.


“Tidak, semua itu tidak benar.”


“Kalau begitu mari kita cek kamera CCTV.”


*****


Semakin hari Felli dan Ricky semakin dekat dan meresahkan Hilda, ia sudah mencoba bersabar dengan semua ini, namun ia tidak dapat membiarkan Ricky masuk lebih jauh dalam kehidupan putrinya, ia harus melakukan sesuatu agar Ricky menjauhi putrinya. Kini Hilda jadi berpikir bahwa ia membutuhkan sekutu untuk membantunya memisahkan Ricky dan Felli, dan ia jadi kepikiran Stefani yang menawari bantuan padanya, namun Hilda menggelengkan kepalanya, ia menganggap bahwa ucapan Stefani itu semua adalah omong kosong belaka, bagaimana tidak wanita itu pernah hendak mencelakai putrinya dan bagaimana mungkin Stefani mau membantunya saat ini untuk memisahkan Felli dan Ricky?


“Namun aku sepertinya tidak memiliki pilihan yang lainnya,” gumam Hilda.


Hilda berusaha memikirkan hal tersebut dengan baik dan matang, tentu saja ia tidak bisa percaya begitu saja pada Stefani namun hanya wanita itu yang menawarkan bantuan kepadanya untuk membuat Felli dan Ricky menjauh satu sama lain.


“Ya Tuhan kenapa sulit sekali menentukan pilihan, ya?”


Setelah memikirkan hal tersebut dengan sangat matang dan penuh dengan perhitungan akhirnya Hulda pun memutuskan untuk menelpon Stefani.


“Halo?”


“Ini aku.”


“Iya Nyonya, ada apa anda menelponku?”


“Aku menelponmu karena aku teringat apa yang kamu katakan padaku tadi.”


“Apakah soal aku yang bersedia membantu Nyonya memisahkan Ricky dan Felli?”


“Iya, tentu saja soal yang itu.”

__ADS_1


“Jadi bagaimana Nyonya?”


“Aku setuju, kita dapat bekerja sama, namun aku akan terus mengawasimu!”


__ADS_2