
Ferdian akhirnya mendekam di balik jeruji besi setelah menjawab ratusan pertanyaan yang diberikan oleh penyidik Kejaksaan karena ia secara sah dan meyakinkan melakukan suap pada Gubernur untuk memuluskan jalannya memenangkan lelang. Ferdian mendekam di balik jeruji besi namun tentu saja ia tidak akan mendekam di balik jeruji besi itu sendirian karena Kejaksaan pun saat ini juga tengah mengusut laporan Ferdian mengenai apa yang dilakukan oleh sang papa puluhan tahun lalu, walaupun kasus itu sudah puluhan tahun, namun ia yakin bahwa mereka pasti bisa membuat sang papa ikut mendekam di balik jeruji bersamanya.
“Anda memiliki tamu.”
Ferdian pun dibawa menemui tamunya itu, rupanya orang yang ingin bertemu dengannya adalah Tania, senyum terukir di bibir Ferdian saat tahu bahwa Tania yang datang menjenguknya.
“Tania?”
“Aku ke sini untuk mengatakan dua hal padamu.”
“Apa itu?”
“Yang pertama aku ingin kita berpisah.”
“Apa katamu? Maksudmu kamu ingin kita bercerai begitu?”
“Iya, aku ingin kita bercerai.”
“Tidak, aku tidak mau, kamu tahu bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu, kan?”
“Dan yang kedua aku membawa berita duka untukmu.”
“Apa maksudmu?”
“Papamu meninggal dunia karena bunuh diri tadi malam.”
****
Maya menangisi suaminya yang pergi dengan cara yang tragis, para pelayat silih berganti mendatangi rumah duka untuk menyampaikan rasa duka cita atas kepergian suami Maya. Di antara banyaknya pelayat yang datang itu, nampak Tania ikut hadir di rumah duka ini, namun tentu saja ia tidak mendekati peti jenazah yang mana di sana ada Maya dan beberapa keluarga besar Ferdian yang tidak ia kenal. Tania pun melangkahkan kakinya pergi dari
rumah duka itu dan masuk ke dalam sebuah mobil yang mana di dalamnya ada Minanti.
“Bagaimana?”
“Suasana duka di dalam begitu kental.”
“Aku pikir kamu akan lama di dalam sana.”
“Sepertinya aku sama sekali tidak tertarik berlama-lama tinggal di sana.”
“Baiklah kalau begitu.”
Minanti menyuruh sopirnya melajukan kendaraannya meninggalkan rumah duka ini, Minanti mengajak Tania pergi ke restoran terlebih dahulu untuk makan siang.
“Bagaimana keadaan Ferdian?”
“Dia nampak menyedihkan di penjara.”
__ADS_1
“Lantas apakah kamu serius ingin berpisah dengan pria itu?”
“Keputusanku sudah bulat, aku ingin berpisah dengannya.”
“Namun pasti Ferdian tidak akan menyetujuinya.”
“Apa yang Nyonya katakan itu benar, namun aku tetap akan berpisah dengannya.”
****
Sementara itu, Galang kembali mendatangi Jihan di penjara setelah Jihan mendapatkan vonis bersalah dan ia dihukum 10 tahun penjara atas perbuatannya oleh majelis hakim. Jihan menerima semua keputusan hakim tanpa adanya banding terkait putusan tersebut.
“Bagaimana hari-harimu?”
“Seperti yang kamu lihat.”
“Sejujurnya aku ingin sekali cepat melihatmu bebas, rasanya menunggu sampai 10 tahun terlalu lama.”
“Apakah kamu tidak ingin menungguku? Kalau kamu tidak ingin menungguku, maka kamu bisa cari wanita lain saja di luar sana.”
“Aku tidak mungkin melakukan itu, kamu tahu apa alasannya? Karena aku hanya mencintaimu saja.”
“Berhentilah membual, Galang.”
“Membual apanya? Aku mengatakan hal yang sesungguhnya, aku akan menunggumu sampai kamu dibebaskan.”
“Namun… itu lama sekali.”
Jihan tentu saja terharu dengan yang Galang katakan, pria ini akan menunggunya sampai ia dibebaskan dari penjara, dan ia harap di hari itu ia dan Galang dapat memulai semuanya dari awal lagi.
“Sepertinya waktu berkunjung sudah hampir habis, ya? Aku harus pulang.”
“Iya, sampai jumpa lagi.”
“Baik-baik kamu di sini, ya? Aku akan sering menjengukmu.”
“Terima kasih.”
Maka Galang pun pergi dari penjara ini karena memang waktu kunjung yang sudah habis, Jihan pun dibawa kembali masuk ke dalam sel tahanan.
****
Waktu berjalan dengan cepat, Tania kembali mengunjungi Ferdian yang sudah dinyatakan bersalah dalam sidang pra peradilan oleh majelis hakim, Tania kembali memberikan surat cerai pada Ferdian dan ia meminta agar
pria itu segera menandatangani surat itu.
“Kenapa kamu datang ke sini dan selalu membawakan surat cerai itu? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa sampai kapan pun aku tidak akan menceraikanmu?”
__ADS_1
“Jangan keras kepala Ferdian, aku ingin kita berpisah, cepat tanda tangani surat cerai itu!”
“Apakah kamu ingin secepatnya bersama dengan Olaf hingga mendesakku untuk segera menandatangani surat cerai ini?”
“Jangan banyak bicara dan tanda tangan saja surat ini, apakah itu sulit?!”
“Tentu saja sulit bagiku Tania, aku mencintaimu, aku tidak mau pernikahan kita hancur.”
Tania menghela napasnya kesal, Ferdian selalu saja menolak untuk menandatangani surat cerai itu, namun ia tidak akan menyerah ia akan membuat Ferdian menandatangani surat cerai itu.
“Begini saja, kamu tanda tangani surat cerai itu dan
aku akan membantu menghidupkan perusahaan keluargamu yang sudah tumbang itu?”
“Apa maksudmu?”
“Setelah kamu keluar dari penjara, kamu bisa kembali memimpin perusahaan itu, aku tidak akan mengulik apa pun soal perusahaan itu, perusahaan itu akan sepenuhnya menjadi milikmu, bagaimana?”
“Tega sekali kamu menggunakan cara seperti itu agar aku menandatangani surat cerainya.”
*****
Tania kembali ke apartemennya dan Olaf sudah ada di sana, pria itu menyambut Tania yang baru saja datang seraya menanyakan apakah Ferdian sudah mau menandatangani surat cerai itu.
“Tidak, dia masih saja menolak untuk menandatangani surat cerainya.”
“Lantas? Apakah kamu akan menyerah?”
“Tentu saja tidak, aku tidak akan menyerah, aku akan pastikan kalau dia akan menandatangani surat cerai itu.”
Olaf tersenyum mendengar apa yang Tania katakan barusan, ia merangkul wanita itu untuk mendekatinya dan Tania pun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Olaf yang membuatnya merasa nyaman dan terlindungi.
“Apakah aku harus turun tangan membantumu membujuknya?”
“Dia itu pria paling keras kepala yang pernah aku temui dan juga paling menyebalkan.”
Olaf terkikik mendengar ucapan Tania barusan, Tania mengadahkan kepalanya menatap Olaf dengan tatapan heran, kenapa dia malah tertawa saat ini?
“Apa yang membuatmu tertawa? Tidak ada hal yang lucu.”
“Jawabanmu yang lucu, Tania.”
Olaf kemudian mengatakan bahwa ia akan membantu Tania mengurus perceraiannya dengan Ferdian, ia pun juga berjanji akan menjadi ayah yang baik untuk anak yang dikandung oleh Tania saat ini.
“Aku sudah tidak sabar menjadi ayah.”
“Apakah kamu sama sekali tidak keberatan dengan hal itu?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak, aku akan menerima anak itu layaknya anakku sendiri.”
Tania tentu saja terharu dengan yang Olaf katakan, ia tak menyangka bahwa Olaf mau menerima apa pun kondisinya.