Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kehilangan Anak


__ADS_3

Stefani begitu terkejut ketika mendapati Juan sudah berdiri di belakangnya sambil menatapnya tajam, Stefani pun berusaha menyembunyikan kegugupannya saat ini dan ia berkilah bahwa ia ingin mencari udara segar di luar, namun tentu saja Juan tidak percaya begitu saja dengan yang dikatakan oleh Stefani.


“Kamu pikir dapat membohongiku?”


“Sudah aku katakan bahwa aku hanya keluar untuk mencari udara segar.”


“Kalau begitu berikan ponselmu padaku,” ujar Juan mengadahkan tangannya meminta ponsel Stefani.


“Untuk apa kamu meminta ponselku?” tanya Stefani kesal.


“Berikan saja ponselmu!”


“Tidak mau!”


“Sudah aku duga, pasti saat ini kamu hendak merencanakan sesuatu hal yang jahat lagi, kan?!”


“Itu bukan urusanmu, Juan!”


Stefani hendak pergi namun Juan menahan tangannya agar wanita itu tidak pergi, Stefani berusaha melepaskan tangannya dari tangan Juan.


“Lepaskan tanganmu!”


“Stefani, aku tidak ingin menyakitimu dan anak yang ada di dalam perutmu itu, namun kalau sampai kamu melakukan kejahatan lagi, maka aku tidak akan segan bertindak tegas dan membuatmu masuk penjara.”


“Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu?! Sama sekali tidak! Lihat saja nanti siapa yang akan menang!”


*****


Felli berpikir bahwa perasaan tertariknya pada Ricky hanya bersifat sementara namun perlahan-lahan ia pun sadar bahwa ada rasa tertarik biasa pada sosok pemuda itu, ia berpikir bahwa mungkin saja ia telah jatuh cinta pada Ricky namun ia tidak menyadari itu. Namun pikiran itu berusaha untuk Felli tepis, bagaimanapun juga ia dan Ricky baru beberapa bulan ini bertemu dan walaupun Ricky sudah mengatakan bahwa ia sudah mengenal Felli sejak


beberapa waktu sebelum mereka berkenalan tetap saja Felli menolak perasaan itu.


“Nak.”


“Iya, Ma?”


“Boleh Mama bicara denganmu?”


“Iya, tentu saja.”


Hilda kemudian mendekati putrinya dan mengajak Felli bicara, tentu saja Felli penasaran dengan apa yang hendak dikatakan oleh Hilda saat ini, sang mama menggenggam tangan Felli hingga membuatnya heran sebenarnya


apa yang hendak Hilda katakan padanya.

__ADS_1


“Apa yang hendak Mama katakan padaku?”


“Nak, Mama berpikir bahwa mungkin sebaiknya kita pergi dari Indonesia dan memulai hidup baru di Amerika.”


“Amerika? Kenapa begitu, Ma?”


“Mama pikir kalau kita terlalu lama tinggal di sini, maka hal tersebut justru akan menyiksamu, Mama tahu bahwa kamu mungkin saja akan terluka kalau terus menerus bertemu dengan Juan dan Stefani, maka dari itu untuk menyembuhkan luka itu Mama berpikir untuk membawamu pergi ke Amerika, kita akan memulai semuanya dari awal lagi di sana di tempat yang baru itu.”


*****


Mau tidak mau pembicaraannya dengan sang mama tadi cukup membuat Felli jadi berpikir, apakah mungkin memang sebaiknya ia menuruti saran dari sang mama untuk pergi dari Indonesia dan memulai semuanya di


Amerika? Namun bagaimana dengan Ricky? Felli sendiri tadi belum memberikan jawaban pasti perihal ajakan Hilda agar mereka semua pergi ke Amerika dan memulai hidup yang baru di sana.


“Apa yang harus aku lakukan saat ini?” lirih Felli.


“Kak.”


Felli kemudian membalikan badannya dan mendapati sosok Azka berdiri tidak jauh darinya saat ini, adiknya itu kemudian mendekati Felli hingga jarak di antara mereka begitu dekat sekali saat ini.


“Ada apa?”


“Apakah kamu sudah mendengarnya?”


“Mama bilang kita semua akan pindah ke Amerika, Papa pun sudah setuju kalau kita semua pindah ke sana.”


“Bagaimana dengan kuliahmu?”


“Tenang saja, sebentar lagi aku lulus, kata mama setelah aku lulus kita semua akan pindah ke Amerika.”


“Aku pikir kamu akan menolak tawaran mama itu.”


“Justru kalau aku perhatikan sepertinya kamu yang berat untuk pergi dari Indonesia, ya?”


“Entahlah Azka, aku tidak tahu.”


“Jangan berdusta padaku, Kak, aku tahu kalau sebenarnya kamu tidak mau berpisah dengan Ricky.”


*****


Stefani merasa ruang geraknya dibatasi oleh Juan dan keluarganya, ia benar-benar merasa tertekan namun ia harus bertahan sampai anak ini lahir dan rencananya berhasil, ia akan membuat Juan dan keluarganya membayar semua kelakuan buruk mereka padanya.


“Kalian lihat saja nanti, aku akan buat kalian semua membayar rasa sakitku ini,” geram Stefani.

__ADS_1


Stefani kini sudah memastikan kalau rumah ini aman dan ia bisa pergi keluar rumah tanpa diketahui oleh Minanti dan Bram karena kedua mertuanya itu sedang pergi keluar.


“Ini adalah kesempatan emas bagiku, aku tidak boleh melewatkannya.”


Stefani pun kemudian masuk ke dalam mobilnya dan langsung melajukan kendaraannya itu untuk keluar dari rumah namun satpam yang berjaga di depan pintu menolak untuk membukakan pintu untuk Stefani.


“Maaf, namun ini perintah dari Tuan Juan.”


“Kamu jangan kurang ajar, ya! Saya ini sekarang juga majikan kamu, buka pintunya sekarang!”


“Maaf Nyonya, namun saya tidak bisa, nanti Tuan Juan akan marah besar pada saya dan saya akan dipecat.”


Stefani nampak kesal dan kemudian ia turun dari dalam mobilnya untuk membuka sendiri pagar itu namun tentu saja aksinya itu dihalangi oleh satpam yang berjaga di sana.


“Jangan Nyonya.”


“Diam kamu! Minggir sana!” seru Stefani berusaha mendorong satpam itu untuk pergi darinya, namun tentu saja satpam itu tidak membiarkan Stefani untuk keluar dari dalam rumah, karena kehilangan keseimbangan maka


Stefani pun terjatuh dan langsung memegangi perutnya yang terasa sakit.


“Perutku.”


*****


Juan pergi ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari satpam rumahnya bahwa saat ini Stefani dibawa ke rumah sakit, Juan kemudian pergi menemui Stefani setelah ia bertanya pada petugas informasi di mana keberadaan Stefani saat ini.


“Stefani.”


Akhirnya Juan tiba di ruang inap Stefani, nampak wanita itu terbaring di atas tempat tidur dengan memegangi perutnya, tidak lama kemudian dokter masuk ke dalam ruangan itu dan meminta agar mereka dapat berbicara sebentar di luar. Juan pun menuruti apa yang dokter itu katakan, ia juga penasaran sebenarnya apa yang ingin dokter katakan padanya saat ini.


“Ada apa dokter? Apa yang terjadi pada istri saya?”


“Sebelumnya saya ingin minta maaf pada anda Tuan Juan, namun janin yang ada di dalam perut istri anda tidak dapat kami selamatkan.”


Juan nampak lemas ketika mendengar itu, dokter meminta maaf karena mereka tidak dapat menyelamatkan calon anak Juan dan Stefani itu namun Juan mengatakan bahwa dokter tidak perlu meminta maaf berlebihan begitu padanya. Setelah bicara dengan dokter kini Juan kembali masuk ke dalam ruangan inap Stefani.


“Apa yang kamu bicarakan dengan dokter?”


Namun Juan tidak mengatakan apa pun dan hal tersebut membuat Stefani marah, kenapa Juan tidak mau mengatakan apa pun padanya saat ini.


“Kenapa kamu hanya diam saja?! Jawab pertanyaanku, Juan!”


“Kamu kehilangan anak yang ada di dalam perutmu.”

__ADS_1


__ADS_2