
Seperti yang telah mereka sepakati bersama bahwa Jihan ingin tinggal terpisah baik dengan sang mama maupun mertuanya dan Ferdian sudah menyanggupi akan hal tersebut, ia sudah mempersiapkan sebuah rumah yang akan ia dan Jihan huni, ketika Jihan pertama kali menginjakan kaki di rumah ini, ia menatap sekeliling seolah mencari tahu apakah ada sesuatu yang perlu ia ubah atau tidak.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Ferdian yang mengekori langkah kaki Jihan yang berkeliling melihat rumah.
“Rumah ini cukup nyaman, sepertinya aku tidak akan banyak mengeluh akan rumah ini.”
Ferdian tentu saja lega mendengar ucapan Jihan barusan, kini ia menunjukan kamar mana yang akan mereka gunakan, Jihan mengatakan bahwa ia tidak ingin tidur satu ranjang dengan Ferdian dan ia menunjuk sebuah kamar yang akan ia gunakan sebagai kamarnya.
“Aku tidak ingin tidur satu kamar denganmu, apakah kamu keberatan?”
“Untuk apa aku keberatan? Bukankah sebelumnya kita pernah membahas hal tersebut?”
“Baguslah karena kamu mengerti apa yang aku inginkan.”
Jihan meminta asisten rumah tangga mengeluarkan pakaiannya dari dalam koper dan memasukannya ke dalam lemari, sementara asisten rumah tangga melakukan tugasnya kini Jihan turun ke lantai satu di mana ruang
tengah berada.
“Sepertinya rumah ini akan menjadi rumah yang nyaman.”
****
Walaupun keberatan kalau Jihan tinggal terpisah dengannya namun Ester tidak memiliki pilihan lain karena saat ini Jihan sudah berumah tangga dan ia harus ikut dengan apa yang suaminya katakan, sebelumnya Ester sudah membujuk agar Jihan tetap saja tinggal di rumah ini, namun Jihan dengan tegas menolak bujuk rayu Ester.
“Rumah ini jadi sepi sekali kalau dia tidak ada,” lirih Ester yang melihat ke sekeliling rumah ini yang memang terasa sepi semenjak Jihan menikah dan tidak lagi tinggal bersamanya.
Ester kemudian meraih ponselnya dan mencari kontak Jihan di sana, setelah ia mendapatkan kontak Jihan, ia pun menghubungi putrinya, tidak lama kemudian akhirnya sambungan teleponnya pun terhubung.
“Halo sayang.”
“Kenapa Mama menelponku?”
“Mama rindu padamu, Nak.”
“Aku bahkan baru satu hari tidak tinggal di rumah itu dan Mama sudah merindukanku?”
“Apakah kamu tidak merindukan Mama? Mama merasa rumah ini terlalu besar untuk Mama tinggali seorang diri, lagi pula rumah ini juga jadi sepi kalau kamu tidak ada.”
“Kalau memang begitu, Mama bisa keluar saja dari rumah itu.”
“Kamu ini bicara apa, sih? Jelas Mama tidak akan keluar dari rumah ini, rumah ini adalah rumah Mama.”
__ADS_1
“Sudahlah, kalau hanya hal itu saja yang ingin Mama bahas denganku, maka aku akan tutup teleponnya sekarang juga.”
****
Kali ini Ester mendapatkan telepon bahwa rekan bisnisnya membatalkan perjanjian yang sudah mereka sama-sama tanda tangani di masa kepemimpinan Handi, tentu saja Ester tidak terima dan langsung meminta agar ia dipertemukan dengan pimpinan perusahaan mereka untuk menanyakan apa maksud dari semua ini.
“Memangnya apa yang terjadi ini? Kenapa mereka membatalkan perjanjian ini secara sepihak?”
“Saya tidak tahu Nyonya, namun itu semua karena perintah atasan mereka.”
“Katakan pada mereka bahwa aku ingin bertemu dengan pimpinan perusahaan mereka dan membicarakan hal ini.”
“Maaf Nyonya, namun mereka menolak hal itu.”
“Apa katamu?”
“Mereka bilang bahwa mereka tidak ingin bertemu dengan siapa pun orang yang diutus oleh perusahaan kita, dan lagi mereka memberikan tenggat waktu selama satu bulan untuk kita membayar denda akibat pembatalan
kerja sama.”
“Apa? Denda pembatalan kerja sama? Bagaimana mungkin mereka yang membatalkan kerja sama namun mereka menuntut kita ganti rugi?”
“Mereka bilang itu semua sudah ada dalam pasal perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Tuan Handi.”
Ester kini mencari dokumen yang dimaksud oleh sekretarisnya itu dan akhirnya setelah mencari beberapa saat akhirnya ia menemukan juga dokumen yang ia cari sejak tadi, ia meneliti poin-poin kerja sama di dalam dokumen itu dan memang benar dalam salah satu poin mengatakan bahwa perusahaan mereka yang bertanggung jawab atas semua biaya pembatalan kerja sama.
“Bagaimana mungkin Handi tidak teliti sebelum menandatangani
dokumen ini?”
****
Sementara itu saat ini Jihan diajak oleh Ferdian makan di sebuah restoran, pada awalnya Jihan menolak itu namun Ferdian terus saja memaksanya dengan alasan ia ingin merayakan hari pernikahan mereka. Ferdian membawa Jihan ke sebuah restoran berbintang dan saat ini mereka berada di sebuah ruangan tertutup yang hanya diisi oleh mereka berdua, Jihan memuji tempat yang dipilihkan oleh Ferdian sebagai tempat makan malamnya, dan lagi
hidangan yang disajikan oleh restoran ini cukup enak.
“Jihan.”
“Ada apa?”
“Hum, aku ingin bertanya padamu?”
__ADS_1
“Kenapa kamu harus meminta izin padaku dulu? Kalau kamu mau bertanya, maka bertanya sajalah.”
“Apakah kita akan selamanya seperti ini?”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku adalah...selama-lamanya kita akan berpura-pura menjadi pasangan suami-istri yang bahagia?”
“Bukankah semua ini idemu? Kenapa kamu jadi menanyakan hal ini padaku?”
“Aku hanya ingin tahu bagaimana sudut pandangmu mengenai ini semua.”
“Sejujurnya, aku ingin sekali segera mengakhiri semua sandiwara menyebalkan ini, namun kalau aku meminta cerai padamu bahkan ketika umur pernikahan kita baru seumur jagung, hal tersebut pasti membuat semua orang heboh.”
“Kamu benar, jadi kira-kira berapa lama kita harus bertahan dengan semua sandiwara ini?”
****
Minanti mengajak Stefani bertemu saat ini, Stefani tentu saja sama sekali tidak keberatan ketika Minanti memintanya untuk bertemu di sebuah restoran yang letaknya tidak jauh dari tempat ia melakukan pemotretan, ketika Stefani sudah tiba di restoran, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling untuk mencari kira-kira di mana keberadaan Minanti hingga akhirnya ia melihat seseorang yang tengah melambaikan tangan padanya, Stefani tersenyum bahagia karena itu adalah Minanti, ia pun segera menghampiri tempat di mana Minanti duduk.
“Maaf sudah membuat Tante menunggu.”
“Tidak kok, Tante juga baru saja datang, kamu mau pesan apa?”
“Samakan saja dengan Tante.”
Maka Minanti pun memanggil pelayan untuk datang menghampiri meja mereka, Minanti menyebutkan pesanannya dan Stefani, dan saat ini setelah pelayan itu pergi, Stefani pun menanyakan apa yang hendak Minanti bicarakan dengannya.
“Tante, kalau aku boleh tahu apa yang sebenarnya hendak Tante katakan padaku?”
“Baiklah, sebenarnya...memang ada sesuatu yang hendak Tante bicarakan denganmu.”
“Apa itu?”
“Olaf mengatakan sesuatu pada Tante, bahwa katanya kamu menyukainya, apakah itu benar?”
“Olaf mengatakan hal itu pada Tante?” tanya Stefani yang nampak terkejut ketika Minanti menanyakan hal tersebut.
“Iya, dia mengatakan itu, apakah yang Olaf katakan itu salah?”
“Sebenarnya Tante ....”
__ADS_1
“Tidak apa, katakan saja Stefani, katakan yang sejujurnya.”