Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kedatangan Tak Terduga


__ADS_3

Tania duduk termenung memikirkan nasibnya yang akan menikah dengan Ferdian, ia tidak menyangka bahwa ia akan berakhir seperti ini padahal niatnya mendekati Ferdian agar membuat Jihan panas dan melakukan kejahatan padanya dengan begitu ia memiliki cukup bukti untuk membuat Jihan masuk penjara. Namun saat ini Jihan sudah masuk penjara dan ia malah terjebak dengan Ferdian, ia benar-benar stres saat ini, ia tidak dapat berpikir dengan


jernih hingga akhirnya Tania berjalan menuju balkon apartemennya, ia membuka pintu balkon dan berdiri di tepian balkon, nampak jalanan di bawah sana begitu ramai dan semilir angin menerpa wajah Tania. Bayang-bayang wajah kedua orang tuanya dan Handi muncul di dalam pikirannya, ia tidak kuasa untuk tidak mengeluarkan air mata.


“Aku minta maaf, aku minta maaf, hiks.”


Tania pun perlahan-lahan menaiki pembatas balkon dan menatap ke bawah di mana lalu lintas saat ini masih cukup ramai padahal hari sudah malam.


“Aku akan menyusul kalian.”


Baru saja Tania hendak melompat dari balkon, ia mendengar suara ponselnya berdering, Tania nampak ragu apakah ia harus melihat siapa yang menelponnya saat ini atau ia harus melanjutkan aksinya ini.


****


Olaf sudah berdiri di depan pintu apartemen Tania, perasaannya tidak tenang sejak tadi hingga akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Tania ke apartemen wanita tersebut. Sebelumnya Olaf sudah mencoba


menelpon Tania, namun wanita itu tidak menjawab panggilan darinya, Olaf merasa khawatir dengan Tania, ia mencoba membuka pintu dengan cara manual yaitu dengan memasukan deretan angka pada tombol di dekat knop pintu.


“Apa kira-kira kodenya?”


Olaf mencoba beberapa kode namun pintu tidak kunjung terbuka, Olaf pun kemudian mencoba menelpon Minanti, ia yakin bahwa saat ini Minanti pasti mengetahui kode untuk membuka pintu apartemen Tania.


“Ada apa, Nak?”


“Mama pasti tahu kode untuk membuka pintu apartemen Tania, kan?”


“Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Aku takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Tania, maka dari itu aku datang ke sini, cepat Ma, aku butuh memastikan kalau Tania baik-baik saja.”


Maka Minanti pun kemudian memberi tahu Olaf kode untuk membuka pintu tersebut, pintu berhasil terbuka dan Olaf segera masuk ke dalam seraya berteriak memanggil nama Tania. Namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat Tania berdiri di ujung tiang pembatas balkon seperti hendak mengakhiri hidupnya, Olaf segera menarik Tania menjauh dari ujung balkon namun Tania menolaknya.


“Tania, sadarlah,” ujar Olaf.


“Kenapa kamu ke sini? Aku mau mati!”


****


Olaf berusaha menangkan Tania yang saat ini pikirannya sedang kacau, ia tidak banyak mengatakan apa-apa dan memeluk Tania, di dalam pelukan itu, tangis Tania pecah, ia mengeluarkan semua yang ia pendam sendirian

__ADS_1


selama ini. Olaf hanya diam dan mendengarkan semua yang dikatakan oleh Tania tanpa ada niat untuk memotong pembicaraan, setelah merasa bahwa lebih baik Tania pun melerai pelukannya dengan Olaf.


“Terima kasih.”


“Tidak masalah, kamu nampak lelah sekali saat ini, lebih baik kamu istirahat.”


“Aku tidak mengantuk.”


“Kamu sedang mengandung Tania, kamu harus pikirkan kesehatan anak di dalam perutmu.”


Tania nampak terdiam mendengar ucapan Olaf, Tania menatap pria itu dengan lekat dan membuat Olaf heran, perlahan namun pasti wajah Tania mendekati pria itu dan sebuah ciuman mendarat di bibir Olaf.


“Tania?”


“Sejujurnya aku juga mencintaimu, Olaf.”


Olaf terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Tania barusan, ia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, apakah semua itu nyata? Atau semua itu hanya mimpi?


“Kamu tidak sedang bermimpi, ini nyata.”


“Tania ….”


****


Minanti menunggu dengan cemas Olaf di rumah, seharian anaknya itu tidak pulang ke rumah hingga membuatnya tidak bisa tidur karena memikirkannya, ponsel Olaf juga tidak aktif setelah menelponnya untuk menanyakan berapa kode pintu untuk membuka pintu apartemen Tania.


“Kamu nampak cemas sekali pagi ini, kamu juga sepertinya tidak tidur semalaman,” ujar Bram.


“Bagaimana bisa aku tidur kalau Olaf tidak pulang sejak kemarin.”


“Apa? Dia tidak pulang ke rumah? Apakah kamu sudah mencoba menelponnya?”


“Aku sudah mencoba menelponnya, namun ponselnya tidak aktif.”


“Kita tunggu saja dia kembali, kalau sampai 24 jam dia tidak kembali, maka kita akan segera lapor polisi.”


Tidak lama kemudian Olaf pun tiba di rumah, Minanti nampak lega dan langsung memeluk putranya itu, Minanti bertanya pada Olaf ke mana saja ia sampai tidak pulang semalaman.


“Aku lelah, aku mau istirahat dulu di kamar.”

__ADS_1


“Baiklah.”


Olaf melangkahkan kakinya ke kamar, sementara Minanti masih penasaran sebenarnya ke mana perginya Olaf seharian kemarin hingga saat ini ia baru pulang, namun ia memutuskan untuk menahan diri dan membiarkan Olaf


istirahat dulu di kamarnya karena sepertinya memang Olaf lelah sekali.


“Ke mana perginya dia, ya?”


“Lebih baik kita berikan waktu dia untuk istirahat dulu.”


****


Ferdian baru saja datang ke apartemen Tania pagi ini, ia mendapati Tania sedang duduk di sofa ruang tengah dan nampak tidak bersemangat pagi ini. Ferdian berjalan mendekati Tania dan bertanya apakah Tania sudah sarapan tadi atau belum, Tania mengatakan bahwa tadi ia sudah sarapan.


“Kamu tidak sedang menipuku, bukan?”


“Aku mengatakan yang sesungguhnya Ferdian.”


“Baiklah-baiklah, kalau begitu apakah kamu ingin sesuatu yang lain? Aku akan belikan untukmu.”


“Tidak ada.”


“Apakah kamu yakin?”


“Aku yakin.”


Ferdian menghela napasnya, Tania jadi agak ketus saat ini namun ia pikir hal tersebut wajar apalagi mengingat kalau saat ini Tania sedang mengandung anaknya, Ferdian berusaha mengatur emosinya agar tidak terpancing dengan sikap Tania ini.


“Kalau kamu ingin sesuatu, kamu bisa menelponku, kamu mengerti?”


“Aku mengerti.”


Ferdian melirik arloji yang ia kenakan, sudah saatnya ia harus pergi ke kantor, ia kemudian berpamitan pada Tania. Namun wanita itu hanya diam saja dan sama sekali tidak menoleh ke arahnya, Ferdian menghela napasnya berat sebelum ia pergi meninggalkan apartemen Tania itu. Selepas Ferdian pergi dari apartemennya, Tania mengeluarkan sebuah pakaian yang tadi malam Olaf kenakan, ia memeluk pakaian itu dan kembali menangis terisak.


“Maafkan aku, Olaf, hiks, maafkan aku.”


Sementara saat ini Ferdian sedang menunggu pintu lift terbuka, namun pikirannya tidak tenang karena melihat kondisi Tania yang nampak tidak stabil itu membuatnya jadi tidak bisa fokus bekerja nantinya. Ia pun segera menelpon sekretarisnya dan mengatakan bahwa saat ini ia tidak bisa datang ke kantor hari ini, setelah itu ia kembali ke apartemen Tania dan ketika ia sudah berada di dalam apartemen Tania, langkah kakinya seketika terhenti.


“Pakaian siapa itu?”

__ADS_1


__ADS_2