
Olaf mengantarkan Felli sampai depan rumah, pria itu
pun bertanya pada Felli mengenai apa yang semalam mereka ributkan. Felli pun
menjelaskan apa yang semalam mereka ributkan pada Olaf dan yang membuat Olaf
terkejut adalah rupanya mereka ribut karena satu nama yaitu Stefani.
“Stefani?”
“Bukankah aku sudah pernah mengatakannya padamu?
Suamiku menyukai Stefani.”
“Benarkah?”
“Ternyata kamu sama saja seperti wanita itu, dia tidak
menyadari kalau suamiku mencintainya.”
“Bagaimana bisa kamu menuduh Juan menyukai Stefani?”
“Olaf, perasaanku ini begitu tajam, aku bisa merasakan
ada sesuatu ketertarikan dalam diri suamiku pada wanita itu.
“Baiklah anggap saja apa yang kamu katakan itu benar,
lantas apa langkahmu selanjutnya? Apakah kamu akan mengajukan gugatan cerai
pada Juan?”
“Soal itu aku belum memikirkannya.”
“Aku berharap kalian tidak akan sampai bercerai karena
masalah ini.”
“Terima kasih, aku pun berharap demikian asalkan dia
mengubah sikapnya.”
“Aku akan coba bicara baik-baik dengannya.”
“Terima kasih, aku pergi dulu.”
“Hati-hati di jalan.”
Felli pun masuk ke dalam mobilnya dan wanita itu
melajukan kendaraannya meninggalkan rumah keluarga ini, Olaf pun kembali masuk
ke dalam rumah sambil memikirkan apa yang barusan Felli katakan padanya.
*****
Sementara itu Stefani merasa terkejut ketika Juan
sudah berdiri di depan pintu apartemennya, Stefani kemudian mempersilakan Juan
masuk ke dalam seraya bertanya pada pria tersebut apa yang membuatnya datang ke
apartemennya pada pagi hari ini.
“Apakah aku mengganggu waktumu?”
“Sama sekali tidak, aku hanya penasaran saja kenapa
kamu datang pagi-pagi begini.”
“Sebenarnya…aku sedang ada masalah dengan Felli.”
“Ada apa dengan kalian? Apakah kalian bertengkar
lagi?”
“Kurang lebih seperti itu.”
“Kali ini apakah karena aku?”
“Stefani…..”
“Sudah aku duga.”
“Dia menuduhku kalau aku menyukaimu, aku sudah
jelaskan semuanya padanya kalau aku tidak menyukaimu namun dia tetap berkeras
dengan pendapatnya hingga kami pun bertengkar.”
“Entah kenapa dia selalu mengatakan hal tersebut.”
“Aku pun tidak tahu.”
“Juan, apakah yang dikatakan Felli itu benar?”
“Apa? Jadi kamu percaya dengan yang dikatakan oleh
Felli padahal aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu?”
“Bukan begitu hanya saja…kalau aku pikirkan memang
__ADS_1
sepertinya ada sesuatu yang aneh darimu.”
“Apa maksudmu?”
“Entahlah, apakah aku terlalu percaya diri atau ini
hanya dugaan semata, namun…aku merasa sepertinya apa yang Felli ucapkan itu
benar.”
“Stefani bagaimana bisa kamu mempercayai apa yang
dikatakan oleh Felli?”
“Entahlah Juan, aku bingung sekali saat ini.”
*****
Tania baru saja selesai bertemu dengan Minanti dan
sekilas ia dapat melihat ada sebuah mobil yang terparkir di area parkiran
restoran itu yang mana ia dapat mengenali mobil tersebut yang tidak lain adalah
milik Ferdian. Tania pun berjalan menghampiri mobil tersebut dan mengetuk
jendela mobil itu hingga tidak lama kemudian jendela mobil itu diturunkan.
“Kenapa kamu ada di sini?”
“Apa? Oh aku….”
“Kamu memata-mataiku?”
“Sejujurnya aku penasaran sebenarnya apa yang kamu
lakukan di sini.”
“Bukankah aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku
bertemu dengan Nyonya Minanti.”
“Itu dia, kamu tidak jujur padaku sebenarnya kamu dan
dia ada hubungan apa?”
“Jadi kamu mengikutiku ke sini karena itu?”
“Iya, itu benar.”
“Kalau begitu seharusnya kamu sudah tahu apa yang kami
bicarakan tadi?”
“Menggelikan, sudahlah lebih baik kamu tidak perlu
melakukan hal-hal konyol seperti ini lagi.”
“Aku melakukan ini karena aku penasaran sebenarnya apa
yang kamu rahasiakan dariku.”
DOR
Tania dan Ferdian terkejut ketika terdengar letupan
senjata api, Tania dan Ferdian nampak panik, apalagi peluru itu mengenai kaca
mobil yang terparkir di sebelah mobil Ferdian.
“Tania, ayo naik ke mobilku!”
DOR
Suara tembakan kembali terjadi dan membuat kepanikan
di restoran itu, Tania berhasil naik ke dalam mobil Ferdian dan pria itu
melajukan kendaraannya meninggalkan restoran namun rupanya kaca bagian belakang
mobilnya terkena peluru dari orang misterius itu.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja.”
*****
Sementara itu Minanti yang belum jauh dari restoran
mendengar suara letupan senjata api dan membuat wanita itu secara reflek
menoleh kembali ke arah restoran di belakangnya, entah kenapa perasaannya
menjadi tidak enak saat ini.
“Ya Tuhan, semoga saja Tania tidak apa-apa.”
Minanti kemudian merogoh ponsel yang ada di dalam
tasnya, ia mencoba menghubungi Tania dan tidak lama kemudian akhirnya Tania
__ADS_1
menjawab panggilannya tersebut.
“Halo Tania, aku mendengar suara letupan senjata api
dari restoran itu, apakah kamu baik-baik saja?”
“Iya Nyonya saya baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu, aku pikir sesuatu hal yang
buruk terjadi padamu tadi.”
“Tidak Nyonya, saya tidak kenapa-kenapa.”
“Baiklah, hati-hati di jalan, ya?”
TUT
Minanti merasa lega karena rupanya Tania baik-baik
saja, kini ia pun dalam perjalanan pulang menuju rumahnya saat ia tiba di rumah,
ia merasa heran karena rumah ini begitu sepi.
“Ke mana perginya semua orang?” tanya Minanti pada
seorang asisten rumah tangganya yang menyambutnya di pintu.
“Tuan Bram ada di halaman belakang, sementara Tuan
Olaf dan Tuan Juan pergi ke luar.”
“Begitu rupanya.”
“Sayang, kamu sudah kembali rupanya.”
“Aku dengar anak-anak sedang ke luar, ya?”
*****
Sementara itu Tania dan Ferdian sudah sampai di rumah,
namun mereka merasa ada sesuatu yang aneh ketika sampai di rumah, pintu rumah
seperti sedikit terbuka dan hal tersebut membuat Tania dan Ferdian jadi
waspada.
“Tetaplah di belakangku, mengerti?”
Tania menganggukan kepalanya dan mengekori langkah
Ferdian ketika mereka masuk ke dalam rumah, nampak ketika mereka masuk ke dalam
rumah, rumah tersebut sudah berantakan seperti kerampokan.
“Apakah ada perampok di sini?”
“Aku tidak tahu.”
Ferdian hendak membawa Tania ke kamar namun tiba-tiba
saja dari belakang seseorang membekap mulut Tania, Ferdian tentu saja terkejut
dan ia berusaha menyelamatkan istrinya namun seseorang memukul kepala Ferdian
hingga pria itu terkulai di lantai.
“Ferdian!”
Ferdian yang masih separuh sadar berusaha bangkit
kembali, namun seseorang dengan pakaian serba hitam itu kembali memukul Ferdian
hingga ia tak sadarkan diri.
“Lepaskan aku!”
Namun orang itu tidak melepaskan Tania dan membawa
Tania masuk ke dalam mobil, namun rupanya sebelum Tania berhasil dibawa masuk
ke dalam mobil, seseorang datang untuk menyelamatkan Tania.
“Lepaskan dia!”
“Olaf?”
Olaf datang tepat waktu untuk menyelamatkan Tania,
kedua orang itu pun menyerang Olaf, pada mulanya Olaf berhasil mengatasi mereka
berdua namun karena kalah jumlah beberapa kali mereka berhasil memukul Olaf
hingga pria itu agak limbung.
“Kamu akan mati saat ini!”
Salah seorang dari mereka hendak mencelakai Olaf
dengan menggunakan sebuah pisau namun sebelum mereka berhasil melukai Olaf,
__ADS_1
orang yang memegang pisau itu tumbang.
“Jangan pernah kamu coba melukainya!”