Berkah Cinta

Berkah Cinta
Hati yang Luka


__ADS_3

Hati Felli begitu sakit ketika mengetahui fakta bahwa suaminya telah menghamili wanita lain, bahkan dengan santainya suaminya itu mengatakan bahwa ia ingin berpisah dengannya setelah semua yang sudah mereka


lalui bersama. Setelah mendengar itu semua, Felli langsung pergi meninggalkan Juan namun pria itu sama sekali tidak berusaha mengejar Felli dan menenangkan istrinya yang nampak begitu sedih dan terpukul itu.


“Kenapa kamu tidak mengejarnya?” tanya Bram.


“Kenapa juga aku harus melakukan itu? Kami tidak lama lagi akan berpisah,” ujar Juan santai.


“Aku tidak menyangka bahwa wanita itu membawa pengaruh buruk untukmu.”


“Jangan coba Papa menjelekkan Stefani di depanku.”


“Kenapa? Papa hanya bicara yang sebenarnya kalau memang wanita itu membawa masalah dalam keluarga kita.”


Karena tidak ingin berdebat dengan sang papa, kini Juan pun pergi meninggalkan Bram tidak lama setelah Juan pergi nampak Minanti dan Olaf pulang bersama.


“Apa yang terjadi saat ini?” tanya Minanti ketika melihat wajah Juan yang kesal tadi.


“Kamu tidak akan percaya ini,” ujar Bram.


“Apa? Memangnya apa yang terjadi?” tanya Minanti.


*****


Minanti pergi ke kamar Felli untuk menenangkan menantunya yang nampak begitu sedih dengan ucapan Juan tadi, Felli langsung memeluk Minanti dan menumpahkan semua kesedihannya pada mertuanya ini.


“Kenapa Juan berubah seperti itu?”


“Tenanglah, Nak.”


Felli masih saja terus menumpahkan kesedihannya pada Minanti sampai beberapa saat kemudian akhirnya Felli bisa menguasai dirinya kembali dan menghapus bekas air mata yang tadi sempat membasahi kedua pipinya.


“Mama akan coba bicara dengan Juan.”


“Percuma saja, Ma, dia tetap ingin berpisah denganku.”


“Apakah kamu ingin berpisah dengan Juan seperti yang diinginkannya?”


“Tentu saja tidak, namun dia sudah dipengaruhi oleh Stefani, dia tidak akan mau mendengarkan siapa pun kecuali wanita itu.”


“Memangnya apa yang terjadi kali ini?”


“Juan bilang kalau dia sudah menghamili Stefani.”


“Apa?!”


“Begitulah, dia juga mengatakan bahwa dia tidak ingin membiarkan anaknya terlahir tanpa seorang ayah, ia lebih memilih untuk menceraikanku dibandingkan memutuskan hubungan dengan wanita itu.”


“Ini sudah sangat keterlaluan, bagaimana bisa Juan melakukan hal di luar batas seperti itu.”

__ADS_1


“Percuma saja Mama akan memarahinya pun, dia tidak akan mendengarkan Mama.”


“Mama perlu bicara dengannya sekarang.”


Kini Minanti pun pergi menemui Juan yang ada di dalam kamarnya, ketika Minanti membuka pintu kamar Juan, nampak anaknya itu sedang mengemasi pakaiannya ke dalam sebuah koper.


“Kamu mau pergi ke mana?”


“Aku mau pergi dari rumah ini.”


****


Minanti sudah mencoba menghalangi Juan untuk tidak pergi dari rumah ini, namun Juan tetap saja berkeras untuk pergi dari rumah ini, ketika ia ditanya hendak pergi ke mana, Juan sama sekali tidak mengatakan dia akan pergi ke mana.


“Apakah kamu akan tinggal bersama Stefani?”


“Mama tidak perlu tahu akan hal itu.”


“Juan! Kamu dan Felli saja masih berstatus sebagai suami-istri, bagaimana bisa kamu ingin tinggal dengan wanita yang tidak memiliki hubungan apa pun denganmu?”


“Ma, sudah aku katakan kalau aku akan tinggal di mana itu bukan urusan Mama, jadi biarkan aku pergi sekarang.”


“Tidak, Mama tidak akan membiarkan kamu pergi sebelum kamu memberitahu kamu akan ke mana saat ini!”


Karena mendengar suara keributan, Olaf dan Bram pergi ke lantai atas dan menemukan Minanti dan Juan tengah bertengkar saat ini.


“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Bram yang melihat Juan sudah membawa kopernya keluar dari dalam kamar.


“Dia akan pergi tinggal bersama dengan wanita itu,” ujar Minanti.


“Apakah itu benar? Kamu akan tinggal dengan wanita itu?!” ujar Olaf berang.


“Sekali lagi aku katakan pada kalian semua, itu bukan urusan kalian aku akan tinggal di mana!”


*****


Tania memesan makanan lewat aplikasi ojek online dan saat ini ia menemui sosok driver yang membawakan makanannya di lobi apartemen, driver itu adalah Galang, Tania sendiri nampak terkejut ketika rupanya orang


yang mengantarkan pesanannya ini adalah pria itu.


“Ini pesananmu.”


“Terima kasih, ngomong-ngomong bagaimana kalau kita mengobrol sebentar?”


“Apa?”


“Tidak akan lama kok, sudah lama aku tidak bertemu denganmu, aku juga ingin tahu bagaimana kabar Jihan saat ini.”


Maka mereka pun duduk di sofa yang ada di lobi apartemen Tania, Galang menceritakan bahwa saat ini Jihan tengah menanti putusan akhir majelis hakim yang akan memberikannya vonis berapa tahun penjara.

__ADS_1


“Semoga dia kuat menerima apa pun vonis yang diberikan hakim padanya.”


“Aku pun berharap demikian.”


“Ngomong-ngomong bagaimana dengan kamu sendiri?”


“Apa?”


“Apakah kamu akan tetap setia pada Jihan?”


“Tentu saja aku akan tetap setia padanya, kami sudah berjanji bahwa nanti setelah dia keluar dari penjara, kami akan melangsungkan pernikahan.”


“Benarkah? Aku turut bahagia mendengarnya, semoga sampai pernikahan terlaksana, kalian bisa tetap menjaga komitmen satu sama lain.”


“Terima kasih banyak, namun sepertinya aku harus kembali.”


“Oh begitu, baiklah, hati-hati di jalan.”


“Baiklah.”


Maka Tania pun menatap kepergian Galang, ia menghembuskan napasnya sebelum melangkahkan kakinya menuju lift untuk kembali ke kamar apartemennya saat ini.


*****


Maya datang ke penjara untuk menjenguk anaknya, sidang pra peradilan sudah digelar dan majelis hakim telah menyatakan bahwa Ferdian bersalah atas suap yang ia berikan agar memenangkan perusahaannya dalam lelang


yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Ferdian nampak begitu kurus dan tidak merawat dirinya dengan baik selama di penjara dan hal tersebut membuat Maya sedih.


“Nak.”


“Mama?”


“Kamu nampak begitu menderita selama di sini.”


“Tidak, aku baik-baik saja.”


“Jangan berbohong, lihatlah dirimu, Nak. Kamu tidak merawat dirimu sendiri dengan baik, kamu nampak kurus sekali.”


“Mama tak perlu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja, bagaimana dengan Tania? Apakah dia juga baik-baik saja?”


“Kenapa kamu malah menanyakan wanita itu? Dia bahkan tidak menanyakan bagaimana kabarmu dan dia juga tidak pernah menjengukmu di penjara selama ini, kan?”


“Ma, jangan membenci Tania seperti itu.”


“Ferdian, anakku yang malang, kenapa kamu harus mengalami semua ini, Nak,” isak Maya.


Karena waktu kunjung yang sudah hampir habis, Ferdian meminta agar Maya menyampaikan pesannya untuk Tania saat ini, setelah Ferdian mengatakan pesan itu maka jam kunjung pun habis, ia kembali digiring masuk ke


dalam sel tahanannya.

__ADS_1


“Ya Tuhan Ferdian, kamu masih saja menyebut nama wanita itu, dia bahkan tidak memikirkanmu sama sekali namun kamu terus saja memikirkannya,” lirih Maya ketika ia keluar dari penjara, ia mengeluarkan ponsel dan hendak menghubungi Tania namun saat itulah tiba-tiba seseorang hendak merampas ponselnya.


“TOLONG! TOLONG!”


__ADS_2