Berkah Cinta

Berkah Cinta
Jangan Memaksa


__ADS_3

Handi nampak hadir di acara pertunangan antara Jihan dan Ferdian, walau bagaimanapun ia tidak akan melewatkan begitu saja pertunangan antara putrinya dengan Ferdian, Jihan nampak bahagia karena sang


papa bersedia hadir di acara pentingnya saat ini.


“Terima kasih karena Papa sudah mau datang.”


“Tidak masalah sayang, Papa tidak mungkin tidak datang di acara bahagiamu.”


“Aku pikir kamu tidak akan datang ke sini karena terlalu sibuk dengan gadis itu,” ketus Ester.


“Ma, bisakah tidak menyulut pertengkaran di hari bahagiaku?”


“Mama tidak menyulut pertengkaran sayang, Mama hanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, itu saja.”


“Sudahlah Ester, ini adalah hari bahagia Jihan, jangan kamu rusak hari bahagianya dengan pertengakaran seperti ini.”


“Kenapa kamu malah marah padaku? Apakah yang aku katakan itu salah?”


“Ada apa ini? Sepertinya kalian sedang marah?” tanya Maya yang menghampiri keluarga besannya ini.


“Bukan apa-apa, kami sama sekali tidak sedang marah-marah, hanay sedang mengobrol biasa saja, bukan begitu?”


Maka yang lainnya pun menganggukan kepalanya, Maya mengajak Ester untuk menyalami tamu undangan yang hadir saat ini dan setelah Maya dan Ester pergi, Jihan meminta maaf pada Handi atas apa yang Ester lakukan


tadi.


“Aku minta maaf atas apa yang Mama katakan tadi.”


“Kamu tidak perlu meminta maaf, Nak.”


****


Sementara itu Stefani datang ke rumah keluarga Olaf, ia berbincang dengan Juan dan juga istrinya, Stefani nampak penasaran ke mana perginya Minanti karena sejak tadi ia tidak melihat wanita itu di rumah ini.


“Ngomong-ngomong apakah Tante sedang pergi?”


“Iya, dia memang sedang pergi ke Seoul,” jawab Juan.


“Seoul? Untuk apa beliau pergi ke Seoul?” tanya Stefani heran.


“Memangnya kamu tidak tahu kalau mama pergi ke Seoul untuk berobatnya Tania?”


Ucapan istri Juan itu membuat Stefani terkejut bukan main, jadi Minanti pergi ke Seoul untuk pengobatan Tania? Kenapa Minanti bisa sangat dekat sekali dengan gadis itu?


“Apakah ada sesuatu yang salah?” tanya Juan.


“Apa? Oh tidak ada.”


Olaf yang baru saja selesai berolahraga dan masuk ke dalam rumah sama sekali tidak menyangka kalau saat ini ada Stefani di sana, ia langsung pergi ke kamarnya untuk mandi dan membersihkan dirinya yang habis berolahraga.

__ADS_1


“Kamu baru saja selesai olahraga?” tanya Stefani.


“Seperti yang kamu lihat,” jawab Olaf acuh dan kemudian pergi ke kamarnya.


“Tumben dia bersikap acuh begitu,” ujar Juan.


“Aku tidak tahu, kenapa dia bersikap begitu.”


Olaf membersihkan dirinya di dalam kamar mandi dan setelah ia selesai mandi dan membersihkan dirinya, ia pun keluar kamar mandi namun ia terkejut ketika mendapati sosok Stefani ada di dalam kamarnya.


“Stefani? Kenapa kamu ada di dalam kamarku?”


****


Stefani mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Olaf untuk itu ia pun masuk ke dalam kamar pria ini, namun Olaf mengatakan bahwa tidak seharusnya Stefani melakukan ini.


“Tidak seharusnya kamu melakukan ini Stefani, ini adalah kamarku.”


“Aku tahu ini kamarmu, namun kita sudah berteman sejak masih kecil kan? Kenapa harus canggung begitu?”


“Katakan saja apa yang ingin kamu tanyakan?”


Stefani kemudian berjalan menghampiri Olaf hingga membuat pria itu tidak nyaman, ia meminta agar Stefani segera mengatakan apa maksud dan tujuannya datang ke kamarnya karena ia tidak memiliki banyak waktu.


“Aku sudah katakan padamu bahwa aku tidak punya banyak waktu, katakan apa alasan kamu datang ke sini.”


“Ada apa dengan mamaku?”


“Aku ingin tahu sebenarnya sudah berapa lama mamamu dekat dengan gadis bernama Tania itu?”


“Kenapa kamu ingin tahu hal itu?”


“Atau jangan-jangan kamu sudah mengenalkan Tania itu sebagai kekasihmu pada mamamu?”


“Kamu ini bicara apa? Jangan bicara sembarangan, lebih baik saat ini juga kamu keluar dari dalam kamarku sekarang!”


“Kenapa kamu jadi sensi begini?”


*****


Jihan sama sekali tidak bahagia dengan pertunangannya dengan Ferdian, ia memandangi terus cincin pertunangannya dengan pria itu, sebentar lagi ia dan Ferdian akan melangkah ke arah hubungan yang lebih serius


yaitu pernikahan, dan sudah tidak ada alasan untuknya mundur dari semua ini. Ia sudah terlanjur maju sejauh ini dan ia akan melakukannya, toh juga Ferdian tidak akan melarangnya untuk dekat dengan Olaf, mereka menikah hanya sebagai formalitas belaka.


“Jihan, apakah kamu sudah tidur?”


“Kalau aku sudah tidur, lalu yang ada di depan Mama ini siapa?”


Ester melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Jihan, sementara itu Jihan nampak tidak mempedulikan kedatangan Ester, ia sibuk menatap cincin yang melingkar dari jarinya itu.

__ADS_1


“Kenapa kamu menatap cincin itu?”


“Memangnya salah kalau aku menatap cincin pertunanganku sendiri?”


“Apakah kamu sedang datang bulan? Mama perhatikan sepertinya belakangan ini kamu jadi lebih sensitif sekali.”


“Sudahlah Ma, bisakah Mama tidak perlu berbasa-basi padaku dan langsung saja masuk pada intinya, apa yang ingin Mama katakan padaku karena aku sudah lelah sekali saat ini dan ingin tidur.”


“Baiklah, Mama harap kamu dan Ferdian tetap akan melanjutkan pertunangan ini sampai ke jenjang pernikahan.”


“Jadi hanya itu saja yang ingin Mama katakan padaku? Bukankah sudah tidak ada lagi jalan untukku keluar dari permainan Mama ini?”


****


Jihan pagi ini memutuskan untuk jalan-jalan keluar dari rumahnya untuk menenangkan pikiran dan secara


kebetulan ia bertemu dengan Olaf yang juga sedang berolahraga, Jihan menyapa pria itu, awalnya Olaf tidak


mau mempedulikan gadis itu namun Jihan mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia katakan pada Olaf hingga akhirnya Olaf pun mau menemuinya.


“Ada apa?”


“Kamu tahu bahwa saat ini aku telah bertunangan?”


“Sudah, berita soal pertunanganmu menjadi viral di mana-mana.”


“Bagaimana reaksimu saat tahu saat ini aku sudah bertunangan?”


“Reaksiku? Biasa saja.”


“Kamu tidak cemburu atau apa begitu?”


“Tentu saja tidak, untuk apa aku harus cemburu? Aku tidak memiliki perasaan apa pun padamu.”


“Begitu rupanya, lalu bagaimana kalau saat ini Tania yang bertunangan, bagaimana perasaanmu saat tahu Tania akan bertunangan?”


“Kenapa tiba-tiba saja kamu jadi membicarakan tentang Tania?”


“Karena dari sepengelihatanku, sepertinya kamu tertarik dengan apa pun yang berhubungan dengan Tania.”


“Itu pasti hanya perasaanmu saja.”


“Tidak, aku bisa merasakannya, kamu pikir aku ini tidak dapat merasakan kalau kamu tertarik pada Tania?”


“Sudahlah, aku tidak memiliki waktu untuk bicara hal omong kosong denganmu, apakah kamu mengerti?”


“Tidak Olaf, kamu menipu dirimu sendiri, aku tahu kalau kamu tertarik pada Tania, kamu mencintai Tania, kan? Apakah sangat sulit untukmu mengakui bahwa kamu jatuh cinta pada Tania?!”


“Kenapa kamu jadi memaksaku mengatakan bahwa aku mencintai Tania?!”

__ADS_1


__ADS_2