Berkah Cinta

Berkah Cinta
Apa yang Terjadi?


__ADS_3

Olaf nampak mengerutkan keningnya heran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh wanita ini, bagaimana mungkin Stefani mengatakan hal itu? Atau jangan-jangan wanita ini pun menaruh perasaan suka padanya?


“Kenapa kamu mengatakan hal itu padaku?”


“Kenapa? Apakah kamu tidak dapat mengerti kenapa aku mengatakan hal itu?”


“Demi Tuhan Stefani, bisakah kamu langsung mengatakan pokok pembicaraanmu ini dan jangan bertele-tele?! Aku sedang bekerja saat ini.”


“Aku mencintaimu!”


Olaf terperanjat ketika mendengar ucapan Stefani barusan, saat ini bahkan jauh lebih buruk lagi, ada dua wanita yang terang-terangan mengatakan jatuh cinta padanya namun tidak ada satu pun dari mereka yang Olaf sukai, lantas apa yang harus ia lakukan saat ini?


“Apakah kamu puas dengan apa yang aku katakan?”


“Bagaimana bisa kamu mengatakan itu? Apakah itu hanya bercanda?”


“Bercanda? Bagaimana mungkin aku bercanda untuk pembicaraan yang serius seperti ini Olaf?”


“Tidak, ini tidak lucu Stefani, ini tidak lucu!”


“Sudah aku katakan bahwa ini bukanlah sebuah komedi, aku mengatakan yang sesungguhnya padamu.”


“Bagaimana bisa kamu mencintaiku?”


“Aku sendiri juga tidak tahu Olaf, semua terjadi begitu saja, aku pikir aku dapat melupakan perasaan ini, namun ternyata tidak, aku tidak dapat menampik bahwa saat ini aku mencintaimu.”


*****


Saat ini Minanti dan Tania sedang berjalan-jalan di sebuah taman yang ada di kota Seoul sebelum besok Tania akan melakukan operasi rekonstruksi wajah, Minanti mengajak Tania untuk duduk di salah satu kursi taman untuk menikmati udara kota Seoul yang cukup bersahabat pada hari ini.


“Bagaimana perasaanmu saat ini?”


“Saya sejujurnya agak tegang.”


“Kamu tidak perlu tegang, semua akan baik-baik saja.”


“Sejujurnya juga saya masih kepikiran bagaimana saya dapat membalas jasa Nyonya.”


“Tania, Tania, kamu ini memang sudah aku katakan untuk tidak perlu memikirkan itu.”


“Namun tetap saja saya tidak dapat melakukannya Nyonya, maksudku...Nyonya terlalu baik sekali padaku hingga mau melakukan semua ini.”


“Tania, sejujurnya ada yang ingin aku katakan padamu.”


“Apa itu, Nyonya?”


“Sejujurnya aku ingin meminta bantuan darimu.”

__ADS_1


“Bantuan? Bantuan seperti apa?”


“Aku minta kamu merebut apa yang sudah dimiliki oleh


Ester.”


“Maksud Nyonya?”


“Ester, wanita itu begitu licik dan manipulatif, dia berambisi merebut semua harta kekayaan dan aset yang dimiliki oleh keluargamu, dia telah membunuh kedua orang tuamu dengan sengaja, apakah menurutmu wanita iblis seperti dia harus diampuni?”


“Nyonya ....”


“Sejujurnya aku tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh wanita itu, dan aku harap kamu dapat merebut apa yang sudah seharusnya menjadi milikmu dari tangan wanita itu.”


*****


Juan masuk ke dalam ruangan kerja Olaf untuk mengajak kakaknya itu makan siang, namun Olaf mengatakan bahwa saat ini dia sedang tidak ingin diganggu dulu, Juan nampak mengerutkan keningnya heran dengan tingkah


Olaf yang seperti ini, sepertinya ada sesuatu hal yang terjadi pada kakaknya.


“Kak, apakah ada sesuatu yang terjadi?”


“Kamu pasti tidak akan percaya jika mendengar semua ini.”


“Apa maksudmu? Katakan padaku, apa yang terjadi tadi.”


Juan nampak tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat Olaf mengatakan hal tersebut, ia nampak tak percaya bahwa ternyata Stefani menyimpan perasaan pada kakaknya, namun sebenarnya sejak awal Juan sudah


menduga itu semua.


“Kak, sebenarnya aku sih tidak terlalu terkejut karena gerak-gerik wanita itu memang agak mencurigakan.”


“Benarkah?”


“Iya, ketika pertama kali dia datang ke Indonesia, dia menanyakan tentangmu, dan selama dia mengobrol denganku dan istriku, dia pun lebih banyak bertanya tentangmu.”


“Ya Tuhan, ini bahkan semakin buruk.”


“Apa maksudmu semakin memburuk?”


“Karena bukan hanya dia yang mengatakan bahwa dia mencintaiku.”


“Benarkah? Jadi ada orang lain lagi yang menyatakan cinta padamu?”


“Begitulah.”


“Kamu hebat sekali, dua orang langsung menyatakan cinta padamu.”

__ADS_1


“Itu bukan sebuah prestasi, itu membuat kepalaku jadi


pusing.”


****


Ester menatap surat cerai yang diberikan oleh Handi padanya, Ester nampak memikirkan dan menimbang apa keputusan yang ia akan ambil saat ini, haruskah ia bercerai dengan Handi atau tidak, sekarang Handi bukanlah


siapa-siapa dan ia tidak membutuhkan pria itu lagi, sejujurnya Ester lebih memilih menghabisi nyawa Handi saat ini juga namun karena Jihan, semua rencananya jadi terganjal.


“Aku setuju kalau Papa dan Mama bercerai,” ujar Jihan yang membuat Ester tersentak dari lamunannya.


“Apa?”


“Sepertinya apa yang papa katakan itu benar, kalian sudah tidak cocok lagi.”


“Jihan, kamu menyetujui kalau kami berpisah?”


“Iya, aku menyetujuinya dengan ini aku harap Mama tidak akan mengusik Papa lagi, dan Mama melupakan ambisi Mama yang ingin membunuh itu.”


“Jihan kamu ....”


“Kalau sampai Mama masih ingin membunuh Papa, maka aku tidak akan tinggal diam, aku akan melakukan apa pun untuk melindungi Papa, tolong Mama ingat hal tersebut baik-baik.”


Setelah mengatakan itu, Jihan pun pergi dari hadapan Ester, selepas kepergian Jihan kini Ester menggeram kesal karena putrinya itu menjadi penghalang rencananya untuk dapat memusnahkan Handi selama-lamanya.


“Jihan, kenapa kamu harus menjadi duri dalam daging?”


Namun rupanya Jihan bersembunyi di balik dinding dan dapat mendengar apa yang dikatakan oleh Ester barusan, Jihan bertekad tidak akan membiarkan Ester melakukan tindakan keji itu pada Handi.


“Aku tidak akan membiarkan Mama melakukan itu, tidak


akan pernah.”


****


Jihan meminta Ferdian untuk menemuinya saat ini, Ferdian tentu saja tidak keberatan untuk menemui Jihan saat ini, namun sungguh terkejutnya ia ketika lokasi yang Jihan kirim padanya adalah sebuah klub malam, bagaimana mungkin Jihan ada di tempat seperti ini? Ferdian berusaha menghubungi nomor Jihan, namun nomor ponsel wanita itu tidak aktif hingga mau tidak mau akhirnya Ferdian datang ke klub malam itu untuk memastikan bahwa Jihan memang ada di sana, ketika ia tiba di klub malam itu, Ferdian menyisir setiap sudut ruangan yang dipenuhi oleh banyak orang hingga akhirnya ia dapat menemukan Jihan tengah duduk seorang diri di sebuah meja yang di atasnya dipenuhi minum-minuman beralkohol.


“Jihan, apa yang kamu lakukan di tempat ini? Dan kamu minum?”


“Kenapa? Apakah kamu tidak tahu kalau aku sering ke sini dan minum?”


“Ini tidak bagus, lebih baik kita pergi dari sini,” ujar Ferdian yang hendak membawa Jihan pergi dari tempat ini, namun Jihan menolaknya.


“Tidak, aku masih ingin disini, lebih baik kamu duduk dan temani aku minum di sini,” ujar Jihan.


“Tidak Jihan, kamu mabuk, lebih baik aku membawa kamu pulang sekarang juga,” ujar Ferdian ngotot ingin membawa Jihan pulang namun diluar dugaan justru Jihan mencium bibirnya dengan ganas hingga membuat Ferdian terdiam di tempatnya.

__ADS_1


“Apakah kamu yakin ingin membawaku pulang? Bagaimana kalau kita habiskan malam ini bersama?” lirih Jihan dengan tangannya yang dengan nakal menelusuri tubuh Ferdian.


__ADS_2