Berkah Cinta

Berkah Cinta
Jelaskan Padaku


__ADS_3

Kedatangan Olaf secara langsung dimanfaatkan oleh Stefani untuk bertanya apakah benar Olaf yang menyuruh satpam ini melarangnya masuk ke dalam kantor.


“Olaf, kebetulan sekali kamu ada di sini, apakah benar yang satpam ini katakan?”


“Katakan? Memangnya apa yang satpam ini katakan padamu?”


“Dia mengatakan kalau kamu telah melarangku untuk datang ke sini, katakan padaku bahwa itu semua tidak benar, pasti satpam ini hanya mengada-ada, bukan?”


Olaf melirik pada satpam itu dan kemudian kini ia melirik pada Juan dan Stefani yang menunggu jawaban yang akan ia berikan, Olaf pun mengatakan bahwa memang benar dia yang menyuruh satpam ini melarang Stefani


masuk.


“Apa maksudmu? Itu tidak benar, bukan? Katakan kalau itu semua tidak benar!” seru Stefani.


“Itu semua benar, aku memang menyuruhnya untuk melarangmu masuk ke dalam gedung ini, kamu sudah puas sekarang? Kalau begitu silakan kamu tinggalkan gedung ini sebelum aku menyuruh satpam mengusirmu.”


Stefani nampak tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan, apakah Olaf baru saja mengusirnya? Stefani nampak tak terima, ia mengatakan bahwa Olaf tidak dapat melakukan hal ini padanya, namun Olaf nampak tidak mempedulikan apa yang Stefani katakan, pria itu tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung kantor.


“Tidak, Olaf! Berhenti kamu!”


****


Juan rupanya mengekori langkah Olaf sampai masuk ke dalam ruangan kerja pria itu, Juan menanyakan kenapa Olaf sampai melakukan hal itu pada Stefani, dengan tenang Olaf mengatakan bahwa ia terpaksa melakukan semua itu karena Stefani sudah sangat mengganggu dirinya.


“Dia sudah terlalu menggangguku, tidak salah jika aku menyuruh satpam untuk mengusirnya dari tempat ini.”


“Namun apakah kamu tidak kasihan padanya?”


“Kasihan? Kasihan untuk apa Juan? Dia pengganggu, dia suka seenaknya keluar masuk ke dalam ruangan kerjaku dan bertingkah seenaknya, dia pikir ini adalah ruangannya apa?”


Juan menghela napasnya berat, ia kemudian meminta izin untuk kembali ke ruangan kerjanya, selepas Juan pergi dari ruangan kerjanya, Olaf menghembuskan napasnya keras, untung saja satpam yang berjaga di depan gedung tidak mengizinkan Stefani masuk seperti yang sudah ia perintahkan.


“Baguslah kalau dia tidak diizinkan masuk ke dalam.”


Ketika Juan ingin kembali fokus dengan pekerjaannya, ia jadi terpikir perihal Tania, bayang-bayang wajah wanita itu yang berubah mengisi pikirannya, Olaf berusaha menghilangkan pikiran itu namun tidak kunjung berhasil.

__ADS_1


“Ada apa denganku? Kenapa aku malah memikirkan wanita itu?”


****


Sementara itu Ester merasa frustasi dan kesal karena sampai saat ini ia belum juga dapat menemukan siapa orang yang menyokong Tania hingga wanita itu bisa berbuat seenaknya padanya, Ester tentu saja tidak akan membiarkan Tania menang dalam permainan ini, ia sudah mengorbankan banyak hal termasuk nyawa kakak iparnya, Ester tidak akan membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah ia raih dengan susah payah.


“Tania, kamu pikir siapa kamu? Berani sekali kamu mengancamku dan mengatakan ingin mengambil apa yang sudah aku miliki, itu tidak akan pernah terjadi,” lirih Ester.


Saat ini Ester ada di ruangan kerja yang sebelumnya digunakan oleh Handi, namun semenjak mereka pisah rumah hingga bercerai, Ester menggunakan ruangan ini untuk menjadi ruangan kerjanya, Ester memang tidak memimpin perusahaan secara langsung, ia memasang seseorang untuk menjadi bonekanya agar mengelabui semua orang bahwa orang itu adalah Komisaris dan Direktur Utama perusahaan.


“Permisi Nyonya, Tuan Restu ada di luar.”


“Suruh dia masuk ke dalam sini.”


“Baik Nyonya.”


Tidak lama kemudian asisten rumah tangganya masuk dengan seorang pria, asisten rumah tangga itu mempersilakan pria itu untuk masuk sebelum akhirnya ia pergi dari ruangan ini dan membiarkan Ester dan pria


ini untuk berbicara empat mata.


****


Ferdian baru saja menyelesaikan pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya di sebuah restoran, setelah acara penandatanganan dokumen, kini Ferdian hendak pergi dari restoran itu namun ketika ia melintasi deretan meja dan kursi yang ada di restoran itu, kedua matanya tertuju pada sosok wanita cantik yang sedang duduk sendiran di salah satu meja, wanita itu seperti sedang menunggu seseorang, Ferdian melirik ke kanan dan ke kiri untuk


memastikan bahwa tidak ada orang di sekitarnya sebelum ia berjalan menghampiri meja wanita itu.


“Permisi Nona.”


Wanita itu nampak terkejut ketika melihat Ferdian berada di dekat mejanya, Ferdian berusaha mengenali siapa wanita ini karena kalau ia lihat dari wajahnya sepertinya wajah wanita ini mengingatkannya pada seseorang.


“Maaf, apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Apa?”


“Oh, maaf kalau aku lancang, perkenalkan aku Ferdian,” ujar pria itu menyodorkan tangannya pada wanita ini.

__ADS_1


Wanita ini nampak ragu untuk menjabat tangan Ferdian, namun pria itu nampak masih saja menyodorkan tangannya untuk mereka berdua berjabat tangan, pada akhirnya wanita ini pun mau untuk Ferdian ajak berjabat


tangan.


“Jadi, siapa namamu?”


“Tania.”


****


Tania yang sedang menunggu Minanti di restoran ini begitu terkejut ketika menemukan sosok Ferdian ada di dekat mejanya saat ini, Tania sudah mendengar perihal pernikahan antara Ferdian dan Jihan, kalau Tania lihat sepertinya pria ini berusaha mengenalinya dan sepertinya Ferdian tertarik padanya hingga ia menyodorkan tangan untuk mereka berkenalan.


“Jadi siapa namamu?”


“Tania.”


Ketika mendengar nama Tania, raut wajah Ferdian agak berubah, Tania sendiri nampak masih tenang di kursinya namun tidak dengan Ferdian, ia langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Tania dan memperhatikan dengan seksama wajah wanita ini.


“Maaf, apakah ada sesuatu yang salah dengan wajahku?”


“Apa? Oh, aku minta maaf, hanya saja… namamu mengingatkanku pada seseorang.”


“Benarkah? Sepertinya nama Tania itu adalah nama yang pasaran.”


“Kamu benar, namun sepertinya kita berdua pernah bertemu sebelumnya, namun sepertinya hal itu tidak mungkin, bukan?”


Tania tidak menjawab pertanyaan Ferdian dan ia hanya terkekeh pelan, ia melihat Minanti baru saja datang ke restoran, wanita itu nampak heran ketika melihat Tania sedang mengobrol bersama seorang pria, Tania meminta izin pada Ferdian untuk pergi ke toilet dulu sebentar.


“Permisi, aku mau pergi ke toilet dulu sebentar.”


“Baiklah, silakan.”


Tania pun melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Minanti berdiri, ia membawa Minanti pergi ke toilet untuk mereka berdua dapat berbicara dengan aman, setelah mereka berdua sudah sampai di toilet barulah Minanti bertanya siapa sosok pria itu.


“Apakah kamu tidak mau menjelaskan padaku siapa pria yang tadi duduk denganmu itu?”

__ADS_1


“Aku akan menjelaskannya pada Nyonya.”


__ADS_2