
Minanti pulang dengan perasaan hancur dan kecewa, ia pulang sendirian di tengah derasnya guyuran air hujan, tiba-tiba saja sebuah mobil menepi di sisinya, seseorang keluar dari dalam mobil dan membawakan payung
untuknya.
“Kamu tidak bawa payung?”
“Bukan urusanmu.”
“Naiklah ke dalam, aku akan mengantarkanmu.”
“Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri.”
“Bisakah kamu mendengarkanku sekali saja?”
Maka Minanti pun terpaksa menuruti apa yang dikatakan oleh Bima, ia masuk ke dalam mobil pria itu dan Bima pun melajukan kendaraannya menuju rumah Minanti. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah Minanti, tidak ada
obrolan yang terjadi di antara mereka hingga akhirnya saat ini Bima dan Minanti sudah tiba di depan rumah wanita itu.
“Terima kasih karena kamu sudah mengantarkanku.”
“Tidak masalah.”
Bima melihat rumah Minanti yang gelap, ia pun menanyakan pada wanita itu apakah tidak ada orang di rumah saat ini.
“Iya, tidak ada orang di rumah, asisten rumah tanggaku juga pasti sudah pulang ke rumah.”
“Kalau begitu, aku akan mengantarkanmu masuk sampai ke dalam.”
“Tidak perlu berlebihan, aku bisa sendiri.”
“Tidak, bagaimana kalau ada orang jahat yang sedang merampok rumahmu dan kemudian ketika kamu memergoki aksinya maka dia akan melakukan kejahatan padamu.”
****
Minanti merasa bahwa apa yang Bima katakan itu agak berlebihan, namun belakangan ini memang aksi perampokan memang marak di daerah sini, tetangga rumah saja sudah ada yang kebobolan sampai dua kali. Maka
Minanti dan Bima masuk ke dalam rumah itu, hujan belum ada tanda-tanda akan berhenti malam ini, setelah memeriksa bahwa rumah aman dan tidak ada sesuatu yang mencurigakan, maka Bima pun berpamitan pada Minanti.
“Aku pulang dulu.”
“Kamu tidak menginap saja? Hujan lebat sekali di luar.”
“Tidak, selamat malam.”
“Tunggu dulu, aku akan membuatkan kamu teh.”
“Tidak perlu.”
“Sudahlah, pokoknya kamu harus menunggu.”
Maka Bima pun duduk di ruang tamu sambil menunggu Minanti kembali dari dapur membuatkannya segelas teh hangat, Minanti yang sudah membuatkan teh hangat untuk Bima menaruh minuman tersebut di atas meja.
__ADS_1
“Silakan.”
“Terima kasih.”
Bima pun kemudian meminum teh hangat itu dan Minanti nampak duduk diam sambil memperhatikan pria yang ia cintai itu sampai akhirnya sesuatu hal yang aneh pun terjadi pada Bima.
“Ada apa Bima?”
Bima merasa ada sesuatu yang aneh dalam dirinya, ia seperti tidak dapat mengendalikan dirinya dan kemudian dengan segera ia menyambar bibir Minanti dan mendorong tubuh perempuan itu sampai tertidur di kursi.
“Bima, ada apa ini?”
*****
Ketika pagi tiba, Bima terbangun ketika sinar matahari menyinari wajahnya, ia membuka kedua matanya dan merasa terkejut ketika ia bangun tidak di kamarnya dan yang lebih membuat Bima terkejut adalah dirinya
terbangun dengan tidak mengenakan apa pun.
“Kamu sudah bangun rupanya.”
“Minanti, apa yang terjadi padaku semalam?”
“Kamu tidur.”
“Tidak, aku yakin pasti ada sesuatu yang terjadi, apa yang sudah kamu lakukan padaku?”
“Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa semalam kamu melakukan hal itu padaku?”
“Kamu tidak mengingat apa yang semalam sudah kita lakukan?”
“Apa?”
“Aku dan kamu melakukan itu semalam.”
“Tidak, aku tak percaya!”
“Terserah kamu percaya atau tidak, namun hal itulah yang terjadi.”
“Kamu pasti sengaja melakukan itu, kan?”
“Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan!”
Bima nampak emosi dan ia mengenakan kembali pakaiannya dan pergi dari rumah itu, sejak saat itu hubungan antara Minanti dan Bima pun merenggang dan akhirnya kabar yang tidak ingin didengar oleh Minanti pun
terjadi. Bima dan Hanum akan segera menikah dan di saat itulah, Minanti dinyatakan mengandung anaknya Bima.
“Papamu sudah menikah dengan wanita lain, namun aku akan pastikan kalau kamu akan dekat dengan papamu.”
****
Minanti diam-diam mengamati Hanum dan Bima, ia mencari tahu apa saja yang kedua orang itu lakukan setelah mereka resmi menikah, saat itu memang Minanti hadir di acara pernikahan Hanum dan Bima, namun sikap Bima
__ADS_1
masih dingin padanya. Minanti kemudian mendapatkan kabar bahwa saat ini Hanum tengah hamil dan ia tidak bisa membiarkan wanita itu hamil karena kalau sampai ini dibiarkan maka anaknya tidak akan mendapatkan haknya sebagai anak Bima.
“Tidak, aku tidak bisa membiarkan wanita itu hamil.”
Maka kemudian Minanti melakukan cara kotor untuk membuat Hanum keguguran dan setelah Hanum keguguran, sampai Minanti melahirkan wanita itu tidak kunjung memiliki anak. Selepas ia melahirkan anaknya tanpa diketahui seorang pun, kini Minanti membawa anaknya menuju rumah Bima dan Hanum, ia meletakan anak itu di depan pintu pagar.
“Baik-baiklah nak, papamu akan merawatmu di sini.”
Tidak lama kemudian Minanti pun pergi dari rumah Bima dan Hanum sebelum ada seseorang yang mengetahui aksinya ini, tidak lama setelah Minanti pergi, Hanum membuka pintu pagar rumah dan terkejut ketika melihat ada
seorang bayi tergeletak di depan pintu pagar rumahnya sambil menangis.
“Ya Tuhan, anak siapa ini?”
Hanum segera meraih anak itu dan berusaha menenangkannya, anak itu perlahan mulai berhenti menangis dan Bima pun keluar dari dalam rumah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
“Anak siapa ini?”
“Aku juga tidak tahu anak siapa ini, namun… tadi aku menemukannya di depan pintu pagar rumah sedang menangis.”
*****
Pada akhirnya semua pun terungkap juga bahwa Tania memang adalah anak kandung Minanti yang selama ini ia tinggalkan, Minanti merasa berdosa pada Tania karena sudah menelantarkan anaknya selama ini.
“Aku minta maaf Tania karena selama ini tidak pernah jujur padamu, aku berharap dengan kamu dirawat oleh papamu hidupmu dapat bahagia, namun justru sebaliknya, kamu mendapatkan bencana ketika papa dan
mamamu meninggal dunia, ini salahku Tania, aku minta maaf.”
“Dan apakah kalau Nyonya minta maaf semua akan berubah?”
“Tania ….”
“Tolong tinggalkan aku sendiri.”
“Baiklah, sekali lagi aku minta maaf.”
Maka kemudian Minanti pun pergi meninggalkan Tania sendirian, dalam perjalanan pulang ke rumah, wanita itu terus saja menitikan air mata karena menyesal sudah membuat Tania menderita selama ini.
“Aku minta maaf,” isak Minanti.
Sampai akhirnya ia pun tiba di rumah, ketika ia tiba di rumah nampak Bram sudah menunggunya, ia nampak mengerutkan kening kenapa Minanti pulang dengan wajah sembab berlinang air mata begitu.
“Apa yang terjadi padamu?”
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak, kamu jelas tidak baik-baik saja.”
“Seperti yang kamu inginkan, aku sudah mengatakan semuanya pada Tania.”
“Benarkah?”
__ADS_1
“Kamu benar, aku adalah ibu kandung Tania, aku yang sudah menelantarkan anak itu puluhan tahun, aku pikir dengan meninggalkannya di rumah Bima ia akan mendapatkan hidup yang bahagia namun justru aku menjerumuskannya ke dalam bencana kehidupan, ibu macam apa aku ini?” isak Minanti.