
Sepulang bekerja, Olaf kembali datang untuk menjenguk Tania, lagi-lagi Tania belum sadarkan diri dan masih ada di ruang ICU, Handi nampak sangat sedih dan terpukul dengan musibah yang dialami oleh Tania, ia harap bahwa secepatnya Tania bisa segera sembuh dan beraktivitas seperti sedia kala.
“Tuan, apakah belum ada perkembangan terbaru?”
“Sampai saat ini belum ada.”
“Semoga saja Tania bisa segera siuman.”
“Aku juga terus berdoa agar dia bisa segera siuman, aku takut kalau dia akan pergi meninggalkanku.”
Ketika Handi dan Olaf sedang berbiciara, nampak Jihan dan Ferdian datang untuk menjenguk Tania, Jihan nampak terkejut ketika Olaf ada di tempat ini, namun di dalam hatinya ia begitu kesal karena pasti alasan Olaf datang ke rumah sakit ini adalah untuk menjenguk Tania.
“Mau apa kalian datang ke sini?” tanya Handi.
“Kami ingin mengetahui bagaimana kondisi Tania,” jawab Jihan.
“Seperti yang kalian lihat, Tania masih ada di dalam sana.”
“Papa.”
“Ada apa?”
“Boleh aku bicara pada Papa?”
“Baiklah, di mana kamu ingin bicara dengan Papa?”
“Lebih baik ikuti aku.”
Maka kemudian Jihan dan Handi pergi dari sana hingga menyisakan Olaf dan Ferdian yang nampak kaku satu sama lain.
****
Jihan menghela napasnya panjang sebelum ia mulai
bertanya pada Handi apakah sang papa akan melaporkan mamanya ke polisi atas
kasus percobaan pembunuhan, Handi pun menjawab bahwa ia akan melaporkan Ester setelah Tania siuman dan dapat memberi keterangan kalau memang Ester adalah dalang di balik semua ini.
“Papa tahu kalau kamu ada di pihak Mamamu, namun apa yang dia lakukan tidak dapat untuk dibenarkan.”
“Aku mengerti, namun Pa....”
“Ada apa Jihan?”
“Mama tidak akan mau dirinya masuk penjara, dia akan melakukan apa pun untuk membuat dirinya tidak masuk penjara.”
__ADS_1
“Papa tahu, namun Papa memiliki strategi khusus agar dia bisa segera mendekam di balik jeruji besi dan tidak membuat kekacauan lagi.”
“Baiklah kalau begitu.”
“Jihan, Papa juga tahu kalau kamu membenci Tania, namun sayang, Tania bukanlah orang jahat seperti yang selama ini mamamu katakan.”
Jihan sama sekali tidak memberikan respon atas ucapan Handi barusan, ia malah menatap ke arah yang lain, Handi meraih kedua tangan Jihan dan meminta pada anaknya itu untuk berdamai dengan Tania.
“Papa tahu bahwa ini sangat sulit untukmu menerima kenyataan, namun apa yang sudah dia lakukan tidak akan dapat dibenarkan dari segi apa pun.”
“Aku mengerti, Pa, lebih baik kita segera kembali ke sana.”
*****
Stefani datang ke rumah dan sedang mengobrol dengan Minanti, Minanti menceritakan bahwa saat ini Tania sedang berada di rumah sakit dan ia merasa kasihan pada gadis itu, ia menceritakan bagaimana kekejaman Ester
pada Tania selama ini.
“Ya Tuhan, aku tidak mengerti kenapa ada orang berhati jahat seperti itu, aku pikir orang seperti itu hanya ada di dalam sinetron saja, namun ternyata aku menemukan orang berhati dingin seperti wanita itu.”
“Tante, boleh aku tanya sesuatu?”
“Apa yang ingin kamu tanyakan memangnya?”
“Kamu tidak perlu ragu, kamu dapat mengatakannya, ayo katakan saja ada apa?”
Setelah cukup lama bergelut dengan pikirannya sendiri maka akhirnya Stefani pun mengatakan sesuatu yang memang sejak tadi ingin ia katakan pada Minanti.
“Apakah Olaf menyukai gadis bernama Tania itu?”
Minanti sendiri nampak terkejut, ia tidak dapat menjawab dengan pasti pertanyaan yang barusan diajukan oleh Stefani karena kalau dilihat dari luar Olaf nampak begitu khawatir dan perhatian pada Tania, namun ketika Minanti menanyakan apakah Olaf menyukai Tania maka anaknya itu mengatakan bahwa ia tidak menyukainya.
“Kalau soal itu Tante pun tidak tahu, Nak.”
“Begitu rupanya.”
“Namun memangnya kenapa kamu menanyakan hal tersebut? Apakah kamu menyukai Olaf?”
“Tante ini bicara apa, sih? Tentu saja tidak.”
*****
Ester mendatangi makam Bima dan Hanum, kedua tangannya mengepal kuat dan memandang kedua makam itu dengan tajam, Ester bersumpah akan melakukan apa pun untuk membuat rencananya dapat berhasil dan tidak seorang pun yang dapat menghalanginya.
“Kalian berdua sudah meninggal dunia, kalian berdua tidak akan dapat menghalangiku melakukan apa yang aku inginkan!”
__ADS_1
Ester tahu ini terlihat tidak masuk akal, namun ia yakin bahwa ada campur tangan Bima dan Hanum sampai-sampai semua rencana yang ia susun dengan matang dan rapih harus gagal dan berantakan, Ester tidak dapat menerima itu semua.
“Aku tidak akan berhenti sampai tujuanku tercapai dan tidak ada seorang pun yang dapat untuk menghalangiku, apakah kalian mengerti?!”
Beberpa peziarah yang kebetulan ada di area pemakaman nampak menatap Estrer dengan berbagai tatapan aneh, mereka sepertinya menganggap bahwa Ester sudah kehilangan akalnya hingga dapat berteriak di makam
seseorang.
"Ingat itu kalian berdua, kalian tidak akan dapat menghalangiku!”
Ester pun segera pergi dari makam Bima dan Hanum itu, ia masuk ke dalam mobilnya dan karena orang suruhannya semuanya sudah ditangkap oleh polisi dan saat ini mereka dalam proses intrograsi.
“Kalau kalian berani mengkhianatiku maka kalian akan tahu balasan apa yang akan aku berikan pada kalian semua!”
****
Stefani datang ke kantor Olaf untuk mengajak pria itu makan siang bersama, namun Olaf mengatakan bahwa ia tidak bisa untuk pergi makan siang bersama dengan Stefani, namun Stefani tetap saja memohon dan meminta agar Olaf mau menerima ajakannya ini.
“Stefani, bukankah aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku tidak bisa? Maka memang aku tidak bisa untuk makan siang bersamamu.”
“Lalu bagaimana dengan makan malam?”
“Aku juga tidak bisa.”
“Apakah semua ini karena kamu ingin bertemu dengan Tania?”
“Apa maksudmu?”
“Sudahlah Olaf, berhenti menipu dirimu sendiri, kamu mencintai Tania, bukan?”
“Aku tidak mencintai Tania, bagaimana bisa kamu menyimpulkan bahwa aku menyukai Tania?”
“Dari semua sikapmu pada gadis itu, terlebih Tante Minanti pun mengatakan bahwa sikapmu pada Tania tidak sama seperti gadis lain.”
“Mamaku bilang begitu padamu?”
“Sudahlah Olaf, akui saja kalau kamu menyukai Tania, kenapa kamu harus menipu dirimu sendiri begini?”
“Untuk yang terakhir kalinya aku katakan padamu, bahwa aku tidak mencintai Tanuia dan kalau kamu masih mengatakan hal omong kosong lagi, maka sebaiknya kamu pergi saja dari ruangan kerjaku, atau apakah perlu
aku memanggil satpam untuk menyeretmu keluar dari ruangan kerjaku?”
“Olaf, kenapa kamu harus bersikap berlebihan begini padaku?”
“Apa katamu? Aku berlebihan? Aku hanya memberikan opsi padamu, kamu tidak lihat bahwa saat ini aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu namun kamu tiba-tiba saja datang dan membuatku tidak bisa kembali fokus pada pekerjaanku.”
__ADS_1