Berkah Cinta

Berkah Cinta
Amarah Memuncak


__ADS_3

Keputusan Handi yang menginginkan agar Tania ikut makan malam di meja makan tentu saja membuat Ester dan Jihan kesal, Handi nampak tidak mempedulikan ekspresi istri dan anaknya, ia tetap saja makan dengan tenang, Tania sendiri bukannya tidak merasakan aura permusuhan yang ditunjukan oleh Ester dan Jihan, namun karena ada Handi ia dapat bernapas lega karena dua wanita itu tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padanya.


“Terima kasih Om,” ujar Tania setelah ia menghabiskan makan malamnya.


“Tidak masalah, mulai sekarang kamu akan ikut sarapan dan makan malam bersama kami.”


“Bagaimana bisa kamu mengatakan itu?” tanya Ester keberatan.


“Aku yang punya kendali di sini, dan lagi pula ini rumah mendiang kakakku, Tania adalah anaknya, seharusnya kita memperlukannya dengan baik bukan malah memperlakukannya seperti pembantu.”


Jihan langsung pergi dari meja makan, ia tidak mau mendengar keributan apa pun yang akan terjadi di meja makan, Tania sendiri merasa tidak enak pada Handi karena kehadiran dirinya rupanya membuat Handi bertengkar dengan Ester.


“Saya permisi dulu.”


Selepas Tania pergi, Ester pun meluapkan kekesalannya pada Handi, ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya, bagaimana mungkin Handi mengizinkan Tania untuk sarapan dan makan malam bersama


di meja yang sama dengan mereka.


****


Handi tetap bergeming, ia mengatakan pada Ester bahwa keputusannya sudah bulat dan tidak akan dapat diganggu gugat oleh apa pun, Ester tentu saja tidak terima, ia mengatakan pada Handi bahwa ia tidak memiliki


kuasa di sini.


“Kamu lupa bahwa aku yang memiliki kuasa di sini?”


“Itu dulu Ester, kali ini aku yang akan menjadi pemimpin di rumah ini, aku yang akan mengatur semuanya bukan kamu.”


“Jadi kamu sudah mulai berani membantahku?”


“Apakah kamu lupa bahwa aku memegang bukti kuat bahwa kamu adalah orang yang menculik Tania dan membunuh Kak Bima dan Kak Hanum?”


“Kamu berani sekali mengancamku menggunakan itu!”


“Aku tidak bercanda Ester, aku akan melaporkanmu pada polisi kalau kamu berani menentangku lagi!”


Setelah mengatakan itu Handi langsung pergi meninggalkan Ester yang nampak begitu frustasi karena Handi sudah tidak dapat ia kendalikan.


“Ini semua karena pengaruh Tania, awas saja anak itu, aku tidak akan mengampuninya,” geram Ester.

__ADS_1


Ester pergi mencari di mana keberadaan Tania saat ini, rupanya saat ini Tania ada di kamarnya, ketika melihat Ester muncul di dalam kamarnya, Tania sontak berdiri apalagi saat ini Ester menatapnya dengan tatapan membunuh.


“Apa yang Nyonya lakukan di kamarku?”


*****


Akhirnya hari yang ditunggu oleh Jihan tiba juga, siang ini ia akan bertemu dengan Olaf, ia sudah berdandan secantik mungkin untuk memikat pria itu, ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa jangan terlihat terlalu murahan di depan pria itu karena kalau ia bersikap murahan maka Olaf pasti akan merasa besar kepala.


“Ingat Jihan, jangan buat pria itu besar kepala,” gumamnya.


Setelah mematut dirinya di depan cermin cukup lama dan melihat bahwa saat ini pakaian yang ia kenakan sudah cukup baik, Jihan segera keluar dari kamarnya untuk menuju restoran tempat di mana ia dan Olaf akan janjian bertemu.


“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Ester.


“Aku mau pergi ke luar sebentar, ingin bertemu seseorang,” jawab Jihan.


Ester menutup majalah yang ia baca, ia menatap Jihan seksama dari atas hingga bawah dengan tatapan curiga, sementara Jihan tentu saja merasa terganggu dengan tatapan Ester itu.


“Kenapa Mama menatapku begitu?”


“Kenapa dandananmu nampak begitu mencolok?”


“Katakan, kamu ingin bertemu dengan siapa?”


“Aku ingin menemui orang yang aku cintai.”


Ester nampak tergelak dengan jawaban yang diberikan oleh Jihan barusan, ia tentu saja tidak percaya dengan yang dikatakan oleh putrinya itu.


“Benarkah? Kalau begitu beri tahu Mama seperti apa rupa pria yang kamu cintai itu?”


“Dia jelas tampan dan kaya raya.”


“Benarkah? Kalau begitu boleh Mama lihat foto dan beri tahu Mama siapa namanya.”


“Aku tidak punya fotonya, tapi kalau nanti kita sudah bertemu aku akan memberikan fotonya pada Mama.”


*****


Akhirnya Jihan tiba juga di restoran tempat ia dan Olaf janjian bertemu saat ini, Olaf nampak mempesona dengan pakaian formalnya saat ini yang dibalut dengan jas, sudah Jihan duga bahwa Olaf bukanlah pria biasa, dia pasti berasal dari keluarga kaya raya dan ini adalah kesempatan baginya untuk dapat merebut hati pria ini.

__ADS_1


“Halo.”


“Kamu terlambat 10 menit.”


“Aku minta maaf, jalanan sangat macet.”


“Baiklah, tidak perlu basa-basi, silakan katakan apa yang ingin kamu katakan.”


“Apa? Kita bahkan belum pesan minum atau makan?”


“Maaf, namun aku tidak punya banyak waktu untuk basa-basi denganmu, silakan katakan apa yang ingin kamu katakan karena waktuku tidak banyak.”


Jihan nampak merengut kesal, rencananya makan siang romantis dengan pria ini sepertinya terancam akan gagal namun tentu saja Jihan tidak akan membiarkan semua itu terjadi, ia akan membuat rencananya berhasil bagaimanapun caranya.


“Hum, tolonglah kita pesan makan dan minum dulu.”


“Jadi kamu menyuruhku datang ke sini hanya untuk membuang waktuku? Maaf, namun masih banyak hal yang aku kerjakan, permisi.”


*****


Ferdian nampak misuh-misuh saat dalam perjalanan menuju rumah Jihan, ia disuruh oleh sang mama untuk mengajak Jihan makan siang bersama, ia bahkan harus meninggalkan pekerjaannya di kantor demi memenuhi


keinginan sang mama. Ia sudah mencoba menghubungi Jihan sejak tadi namun nomornya tidak aktif hingga mau tidak mau ia harus datang ke rumah Jihan secara langsung untuk melihat apakah gadis itu ada di rumah atau tidak. Ferdian nampak mematut dirinya terlebih dahulu sebelum turun dari mobil dan berjalan menuju pintu rumah, ketika itu matanya tertuju pada sosok Tania yang sedang membersihkan sisa dedaunan di samping halaman rumah, tatapan Ferdian masih terfokus untuk beberapa saat pada Tania, ia nampak terpesona dengan kecantikan


natural Tania yang dapat menyihir siapa pun yang melihatnya, namun suara Ester membuat lamunannya tentang Tania terhenti.


“Lho? Ferdian? Kok kamu ke sini?”


“Eh Tante, anu... aku mau mengajak Jihan makan siang bersama.”


“Jihan? Sayangnya saat ini dia sedang tidak ada di rumah.”


“Oh benarkah? Sayang sekali.”


Ester nampak berbicara panjang lebar pada Ferdian namun pria itu sama sekali tidak mempedulikan apa yang Ester katakan dan malah fokus pada Tania, Ester pun nampak heran dengan Ferdian yang menatap ke suatu


tempat dan alangkah terkejutnya ketika tatapan Ferdian tertuju pada Tania.


“Ferdian, kamu menatap apa?”

__ADS_1


“Apa? Oh bukan apa-apa Tante, saya permisi dulu kalau begitu.”


__ADS_2