Berkah Cinta

Berkah Cinta
Apakah Dia Setuju?


__ADS_3

Tania kembali mendatangi penjara dan lagi-lagi ia menyodorkan surat cerai pada Ferdian, namun pria itu seperti yang sudah-sudah, ia tetap tidak mau menandatangani surat cerai itu.


“Tania, kenapa sih setiap kali kamu datang ke sini selalu saja menyodorkan surat itu padaku?”


“Kenapa? Bukankah kamu sudah tahu alasannya kenapa aku selalu menyodorkan surat ini padamu?”


“Tania, sudah aku katakan padamu bahwa sampai mati pun, aku tidak mau menandatangani surat cerai itu!”


“Ferdian, bisakah kamu tidak perlu keras kepala dan segera tanda tangani surat ini? Kalau kamu ingin aku bebaskan, maka tanda tangani surat ini dan kamu dapat bebas!”


“Kamu pikir aku mau menandatangani surat cerai itu hanya untuk aku dibebaskan? Kamu salah Tania, aku lebih memilih untuk dipenjara seumur hidup dari pada aku harus menandatangani surat cerai itu.”


“Ferdian, tadinya aku tidak mau melakukan ini, namun terpaksa aku harus melakukan cara kekerasan padamu kalau kamu tidak mau menandatangani surat cerai itu.”


“Apa yang akan kamu lakukan?”


“Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin akan membuatmu menderita hingga pada akhirnya kamu tidak memiliki pilihan lain selain menandatangani surat cerai itu.”


****


Rumah tangga Juan dan Felli sudah benar-benar berada di ujung tanduk, walaupun mereka tinggal satu rumah, namun mereka sudah pisah kamar sejak beberapa pekan yang lalu. Rupanya hal tersebut membuat Minanti


khawatir dengan kelangsungan rumah tangga anak keduanya, ia tidak mau kalau sampai Jaun dan Felli bercerai di kemudian hari.


“Nak.”


“Ada apa, Ma?”


“Boleh Mama bicara denganmu?”


“Silakan.”


Minanti pun melangkahkan kakinya menuju Juan, ia duduk di dekat anaknya itu dan menggenggam tangan Juan dengan erat.


“Ada apa, Ma?”


“Mama perhatikan belakangan ini rumah tanggamu dengan Felli makin tidak harmonis saja.”


“Begitulah.”


“Mama tidak ingin sampai kalian bercerai.”


“Entahlah, semakin hari wanita itu semakin membuatku tertakan saja, rasanya berpisah adalah satu-satunya jalan terbaik bagi kami.”


“Apakah ini semua karena Stefani?”


“Apa?”

__ADS_1


“Apakah kamu sudah dibayang-bayangi oleh wanita itu?”


“Mama ini bicara apa, sih?”


“Sebenarnya Mama tidak mau mengatakan ini, namun kalau Mama perhatikan kamu memang sebenarnya tertarik dengan Stefani, kan?”


“Baiklah, aku mengaku kalau memang aku tertarik pada Stefani.”


“Nak, ingatlah kalau kamu sudah menikah, kamu tidak boleh sampai tertarik pada wanita lain.”


“Aku mengerti, namun sikap Felli semakin lama semakin menyebalkan, bagaimana biisa aku bertahan dengannya?”


“Mama yakin kalau kalian pasti bisa melakukannya, Mama sangat yakin.”


*****


Sementara itu Tania mendatangi Maya, wanita itu telah diusir dari rumah tempatnya tinggal selama puluhan tahun karena rumah itu disita oleh kejaksaan, kini Maya sudah tidak memiliki tempat tinggal, dengan sisa tabungan yang ia miliki kini Maya mengontrak sebuah rumah kecil yang jauh dari kata layak untuk dihuni.


“Tania?”


“Lama kita tidak berjumpa.”


“Mau apa kamu datang ke sini?”


“Ada sesuatu yang ingin aku katakan pada anda.”


“Apa yang ingin kamu katakan?”


“Ada apa dengan anakku?”


“Anak anda membuatku kesal, dia tidak ingin melakukan apa yang aku perintahkan namun aku yakin kalau anda berbeda.”


“Apa yang kamu bicarakan ini?”


“Anda pasti tidak ingin tinggal di rumah tidak layak seperti ini, bukan?”


“Iya, tentu saja aku tidak ingin tinggal di rumah ini.”


“Kalau begitu aku dapat membantu anda, namun tentu saja hal tersebut tidaklah gratis, anda harus melakukan apa yang saya perintahkan.”


“Apa yang kamu inginkan Tania?”


“Buat Ferdian menandatangani surat cerai ini, kalau dia mau menandatangani surat cerai ini maka aku akan dengan senang hati memberikan anda rumah yang layak huni beserta pinjaman modal usaha.”


“Apakah kamu serius dengan apa yang kamu katakan barusan Tania?”


“Tentu saja aku serius, aku akan melakukan itu semua asalkan anda mau membantuku membuat Ferdian menandatangani surat cerai itu.”

__ADS_1


*****


Tania kini berada di rumah masa kecilnya, ia tidak berniat untuk tinggal di rumah ini karena banyak kenangan menyakitkan ketika ia berada di rumah ini, masa-masa ketika Ester dan Jihan menindasnya masih terbayang dalam benaknya namun kini kedua wanita yang sudah berlaku jahat padanya itu, sudah mendapatkan balasan untuk perbuatan yang mereka lakukan padanya di masa lalu. Tania kemudian pergi menuju ruang perpustakaan, ia melihat satu persatu buku yang ada di rak, sampai akhirnya ia pun menemukan sebuah buku usang yang menarik perhatiannya.


“Buku apa ini, ya?”


Tania pun membaca buku itu yang tidak lain adalah sebuah buku catatan mendiang sang mama, rupanya di sana sang mama menuliskan banyak hal tentang hari-harinya terdahulu, sampai akhirnya Tania pun sampai di sebuah halaman di mana saat ini ada sebuah foto tua yang menarik perhatiannya.


“Sepertinya wajah wanita ini tidak asing.”


Tania melihat deretan wanita yang sedang berfoto di sana itu, wajah salah satu wanita itu nampak tidak asing di matanya, wanita itu mengingatkannya pada sosok Minanti.


“Sepertinya ini benar, Nyonya Minanti.”


Tania pun mengambil ponselnya dan mencari kontak seseorang di sana, ia kemudian mengirimkan foto itu pada seseorang yang kemudian orang tersebut menelponnya balik.


*****


Olaf bergegas menuju rumah di mana Tania dulu tinggal bersama keluarganya, ia langsung masuk ke dalam rumah dan mendapati Tania masih ada di ruang perpustakaan ketika ia datang.


“Aku tidak menyangka kalau kamu akan datang secepat ini ke sini.”


“Sejujurnya aku penasaran dengan apa yang kamu kirimkan barusan, itu memang foto masa muda mamaku.”


“Benarkah?”


“Iya, lihat ini.”


Olaf pun memperlihatkan foto ketika papa dan mamanya menikah dulu, kalau Tania bandingkan foto itu dan foto yang ia pegang, memang wajah Minanti ketika masih muda mirip sekali dengan yang ada di kedua foto tersebut.


“Sepertinya apa yang kamu katakan itu memang benar.”


“Kalau begitu pasti kedua orang tuamu mengenal mamaku.”


“Sepertinya begitu, kenapa kamu tidak mencoba bertanya pada mamamu saja?”


“Aku akan mencoba bertanya padanya, namun… sepertinya dia tidak nyaman ketika aku atau papa menanyakan masa lalunya.”


“Apa?”


“Aku sudah beberapa kali ingin mengorek cerita masa lalu mama, namun mama selalu saja menghindar dan mengatakan bahwa ia tidak mau mengungkit tentang semua hal yang ada di masa lalu, rasanya… ada sesuatu yang coba ia sembunyikan dari kami.”


Tania sama sekali tidak berkomentar menganai apa yang barusan Olaf katakan, ia berpikir sebenarnya ada hubungan apa antara Minanti dan kedua orang tuanya di masa lalu.


“Kira-kira, apa hubungan mereka di masa lalu, ya?” gumam Olaf.


“Entahlah.”

__ADS_1


Ponsel Tania berdering, ia melirik ke arah ponselnya yang mana di layar tersebut tertera sebuah nama, ia pun segera menjawab telepon tersebut.


“Bagaimana? Apakah dia setuju?”


__ADS_2