
Tania membawa wanita ini masuk ke dalam ruangannya untuk bicara, setelah mereka sudah berada di dalam ruangan kerja Tania, maka kini Tania mempersilakan Stefani untuk mengatakan apa maksud dan tujuannya
datang ke kantornya.
“Sekarang kamu dapat mengatakan padaku apa maksud dan tujuanmu datang ke sini.”
“Kamu yakin ingin tahu apa maksud dan tujuanku datang ke sini?”
“Tentu saja, katakan padaku.”
“Bagaimana kalau aku mengatakan kalau aku ingin membunuhmu?”
“Apa?”
Stefani nampak mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan benda itu adalah sebuah pisau lipat yang mana wanita itu langsung mengacungkan benda tersebut pada Tania.
“Apa yang kamu lakukan ini?”
“Sudah aku katakan bahwa aku akan membunuhmu, kan? Aku tidak akan membiarkanmu terus menerus menghancurkan hidupku, dasar wanita tidak tahu malu!”
Namun sebelum Stefani melakukan aksinya itu, satpam yang berjaga di depan pintu ruangan kerja Tania dengan sigap masuk dan membekuk wanita itu.
“Apa-apaan kalian ini?! Lepaskan aku!”
“Anda sudah kelewatan, ikut kami sekarang!”
“Lepaskan aku!”
Stefani masih saja meronta meminta untuk dilepaskan namun satpam itu sama sekali tidak bergeming, ia tetap membawa Stefani pergi dari dalam ruangan kerja Tania.
****
Kabar bahwa Tania hendak diserang oleh Stefani sampai juga ke telinga Ferdian, tentu saja pria itu panik dan langsung menuju kantor Tania padahal saat ini ia tengah ada pembicaraan penting dengan anggota dewan
direksi yang mendukung rencananya memenangkan proyek dari pemerintah daerah.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Ferdian saat dia masuk ke dalam ruangan kerja Tania.
“Apa yang kamu lakukan di dalam ruanganku ini?” tanya Tania.
“Aku dengar dari sekretarismu bahwa ada seorang wanita tidak waras yang mengancammu dengan sebuah senjata.”
“Sudahlah, kamu bisa lihat sendiri aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
Ferdian memang melihat sekilas tidak ada luka atau memar di tubuh Tania, ia dapat bernapas lega untuk saat ini namun apakah ada jaminan kalau wanita tidak waras itu akan kembali melakukan aksinya di kemudian hari?
“Syukurlah kalau begitu.”
__ADS_1
“Kamu datang ke sini hanya untuk menanyakan hal tersebut?”
“Memangnya kenapa? Aku khawatir padamu, Tania.”
“Namun kamu bisa lihat sendiri bahwa aku baik-baik saja, kan?”
“Iya, apa yang kamu katakan itu memang benar, kalau begitu aku permisi dulu.”
“Lain kali kamu bisa telepon saja dari pada harus datang ke sini.”
“Memangnya kalau aku menelponmu ada jaminan bahwa kamu akan menjawab panggilan dariku?”
****
Kabar bahwa Tania hendak dicelakai oleh Stefani sampai juga ke telinga Minanti, tentu saja Minanti terkejut dan tak menyangka kalau Stefani hendak melakukan sesuatu hal yang buruk pada Tania selepas ia bertemu dengannya tadi.
“Ada apa?” tanya Bram selepas Minanti menjawab telepon dari seseorang.
“Stefani, dia hendak melakukan sesuatu hal yang buruk pada Tania tadi.”
“Apa? Memangnya apa yang hendak dia lakukan pada Tania?”
Minanti pun menceritakan apa yang hendak Stefani lakukan pada Tania, Bram nampak terkejut kalau Stefani hendak melakukan kejahatan seperti itu pada Tania.
“Ya Tuhan, kenapa dia jadi bertindak nekat seperti
“Dia sudah sangat berbahaya, aku harap dia segera diproses dengan hukum yang berlaku di negara ini.”
“Lalu bagaimana dengan Tania?”
“Untungnya saja Tania baik-baik saja, sebelum Stefani melukainya telah ada petugas keamanan yang dengan sigap mengamankan wanita itu.”
“Aku senang sekali mendengarnya, untung saja Tania baik-baik saja.”
“Iya, aku pun juga demikian.”
Sementara itu Bram jadi memikirkan tentang Felli, menantu mereka itu sampai hari ini belum juga kembali ke rumah ini padahal menantu mereka itu janji pergi tidak akan lama.
“Ngomong-ngomong, apakah kamu sudah bicara dengan Felli? Ini sudah lebih dari 3 hari dan dia belum juga kembali, selain itu juga Juan nampak acuh tak acuh dengan istrinya itu.”
“Semoga saja Felli dapat segera kembali.”
****
Ferdian harus lembur di kantornya karena banyak sekali hal yang perlu ia urus, sementara di rumah mereka saat ini Tania sedang menjamu Olaf yang datang berkunjung ke rumah ini. Olaf mengkhawatirkan Tania yang katanya hendak dilukai oleh Stefani, Olaf juga akan memastikan kalau Stefani akan dipenjara atas semua tindakannya itu.
“Apakah kamu mengkhawatirkanku?”
__ADS_1
“Tentu saja aku mengkhawatirkanku, ketika aku mendengar berita bahwa Stefani hendak mencelakaimu membuatku jadi tidak tenang dan ingin segera ke sini namun tadi siang banyak sekali pekerjaan yang harus
aku selesaikan hingga pada malam ini aku baru bisa datang, untung saja Ferdian belum kembali.”
“Iya, sepertinya dia sedang sibuk mempersiapkan segala sesuatu agar dirinya tidak ditangkap dan dipenjara oleh Kejaksaan atas tindakannya.”
“Apakah kamu yakin kalau Ferdian akan tetap ditangkap dan diadili atas suap yang ia lakukan?”
“Tentu saja aku yakin, aku akan pastikan kalau dia ditangkap dan diadili atas tindakan yang sudah ia lakukan.”
“Tania… aku tahu ini terdengar tidak pas untuk kondisi saat ini, namun aku ingin mengatakannya padamu.”
“Sebenarnya apa yang hendak kamu katakan padaku?”
“Andai nanti kamu dan Ferdian sudah resmi berpisah, maukah kamu menikah denganku?”
“Olaf… kamu pasti sudah tahu apa jawabanku bukan?”
“Jadi kamu tidak akan menolaknya?”
****
Ferdian baru pulang ke rumah lewat tengah malam karena banyak sekali hal yang harus ia selesaikan dan persiapkan, bagaimanapun juga Ferdian tidak akan membiarkan dirinya ditangkap dan dipenjara atas tindakannya
yang melanggar hukum itu.
“Tidak, mereka tidak akan pernah dapat menangkapku dan mengadiliku.”
Ferdian akhirnya tiba di rumah dan langsung masuk ke dalam, nampak rumah sudah sepi dan Tania pun sudah tertidur lelap di tempat tidur, Ferdian menatap wajah istrinya yang sedang tertidur itu. Setelah puas menatap wajah Tania yang sedang lelap tertidur itu kini pria itu beranjak menuju kamar mandi, Tania terbangun dari tidurnya dan meraih ponselnya untuk melihat jam berapa saat ini dan di saat itulah sosok Ferdian muncul dari kamar mandi.
“Kamu baru pulang?”
“Begitulah, banyak sekali hal yang perlu aku selesaikan, kenapa bangun?”
“Entahlah, tiba-tiba saja aku merasa lapar.”
“Lapar? Kamu mau makan apa? Biar aku buatkan.”
“Tidak, aku tidak mau makanan buatanmu, aku ingin jajan di luar.”
“Jajan? Kamu tahu bahwa saat ini jam 2 dini hari dan sedikit sekali warung yang buka?”
“Kalau kamu tidak mau mengantarkanku, maka aku bisa pergi sendiri saja.”
“Apa? Itu justru lebih berbahaya, aku akan pergi bersamamu.”
“Tapi bukankah kamu baru saja kembal? Kamu juga pastinya lelah sekali, nanti kalau kamu memaksakan diri mengemudi dan kita kecelakaan bagaimana?”
__ADS_1
“Semua itu tidak akan terjadi, naiklah.”