
Tania yang sedang membersihkan taman depan rumah menatap Olaf dan Juan yang mana mereka berdua sepertinya hendak pergi ke kantor pada pagi ini, namun tanpa disengaja tatapan Tania dan Olaf bertemu hingga
membuat keduanya terkejut dan buru-buru mengalihkan pandangan mereka satu sama lain.
“Apa yang terjadi padamu?”
“Itu bukan urusanmu.”
Olaf masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan itu pergi dari rumah, sementara Juan yang didampingi oleh istrinya memperhatikan sosok Tania yang sedang sibuk membersihkan halaman rumah.
“Apakah perempuan itu yang membuat Olaf salah tingkah?”
“Menurutmu?”
“Sudahlah, lebih baik kamu segera pergi ke kantor, nanti kamu terlambat lagi.”
“Baiklah, aku pergi dulu.”
Juan mencium pipi istrinya sebelum ia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu meninggalkan rumah, sepeninggal Juan dan Olaf, Tania bisa bernapas lega karena ia dapat kembali melakukan pekerjaannya tanpa merasa terganggu ketika diperhatikan oleh kedua pria itu.
“Namamu Tania, bukan?”
Tania terkejut karena istrinya Juan mendatanginya saat ini, Tania menganggukan kepalanya, wanita itu nampak memperhatikan Tania dari ujung rambut hingga kaki, Tania nampak tidak nyaman ketika ia ditatap seperti
ini oleh wanita ini.
“Apakah ada masalah?”
*****
Rupanya Minanti diam-diam memperhatikan semua itu dari dalam, ia makin penasaran sebenarnya apakah Olaf tertarik pada salah satu asisten rumah tangga baru di rumah ini, namun wanita itu tidak mau memikirkan hal tersebut terlalu jauh.
“Mama ada di sini?”
“Iya, Mama sejak tadi memperhatikan kalian semua.”
“Bagaimana menurut Mama tentang gadis itu?”
“Maksudmu Tania? Dia gadis yang baik dan bertanggung jawab atas pekerjaannya.”
“Apakah Mama tidak curiga jika Olaf menyimpan perasaan padanya?”
“Sudahlah, lebih baik kita tidak perlu membahas masalah pribadi orang lain.”
Tania sudah selesai mengerjakan pekerjaanya di halaman luar dan kini ia masuk lewat pintu belakang yang memang dikhususkan untuk pintu keluar dan masuk para pekerja di rumah ini, ketika ia baru saja masuk, salah
seorang asisten rumah tangga memanggilnya untuk bertemu dengan Minanti.
__ADS_1
“Apa Nyonya memanggilku?”
“Iya, Nyonya memanggil kamu, lebih baik kamu segera pergi sekarang juga.”
Tania pun segera pergi menemui Minanti yang katanya sedang ada di ruang tengah, Minanti nampak tersenyum pada Tania ketika wanita itu melihat kedatangan Tania dari arah dapur.
“Nyonya memanggil saya?”
“Iya, aku memanggil kamu, bisakah kamu tolong pergi ke kantornya Olaf dan memberikan ini? Dokumen ini tertinggal karena tadi dia sangat buru-buru pergi ke kantor,” ujar Minanti menyerahkan sebuah berkas pada
Tania.
****
Jihan menolak panggilan dari Ferdian karena ia masih merajuk pada pria itu setelah Ferdian menceritakan semuanya pada Ester, hingga akhirnya tanpa Jihan duga justru pria itu datang ke rumah untuk bertemu
dengannya.
“Bukankah aku sudah mengatakan jangan pernah menemuiku lagi?”
“Sepertinya kita butuh bicara sekarang.”
“Aku sudah mengatakannya waktu itu bahwa aku tidak mau bicara denganmu!”
“Kita harus bicara sebentar.”
Ferdian menarik tangan Jihan untuk keluar rumah walaupun ia menolak untuk ikut bersama pria itu, namun karena tenaganya tidak sebanding dengan Ferdian maka apa boleh buat akhirnya Jihan tertarik juga sampai di tempat ini.
“Aku mau minta maaf padamu sebelumnya.”
“Baguslah kalau kamu sudah menyadari kesalahanmu.”
“Lalu bagaimana sekarang?”
“Apa maksudmu dengan pertanyaan tadi?”
“Kamu sudah terlanjur mengatakan pada pria itu bahwa aku adalah calon suamimu dan apakah kamu akan mengakhirinya?”
Jihan baru menyadari bahwa ia sudah mengatakan sesuatu yang konyol dan pria itu pasti beranggapan bahwa Ferdian memang adalah calon suaminya namun Jihan pikir itu baik karena dengan begitu pria itu tidak akan menemuinya lagi.
“Tentu saja itu adalah hal yang bagus, dia tidak akan mengusikku lagi, dan soal mengakhiri...bukankah kamu bilang kita bebas dalam hubungan konyol ini?”
****
Tania berdiri dengan kaku di depan kantor Olaf, ia dihampiri oleh satpam yang berjaga di gerbang dan menanyakan apa maksud dan tujuan Tania datang ke tempat ini.
“Permisi, ada yang dapat kami bantu?” tanya satpam itu.
__ADS_1
Tania yang sejak tadi memperhatikan gedung pencakar langit di depannya terkejut ketika disapa oleh satpam, ia pun menjawab bahwa saat ini ia harus memberikan dokumen ini pada Olaf karena menurut Minanti dokumen ini adalah dokumen yang penting.
“Mohon tunggu sebentar.”
Satpam itu kembali ke posnya dan seperti tengah menelpon seseorang, Tania tetap berdiri di tempatnya sambil menunggu apakah ia akan diizinkan masuk ke dalam kantor ini atau tidak, dan tidak lama kemudian akhirnya satpam tadi kembali menghampiri Tania dan mengatakan bahwa saat ini Tania bisa masuk ke dalam.
“Silakan anda masuk.”
“Terima kasih.”
Setelah mendapatkan izin dar satpam di gerbang kini ada satpam lagi di lobi namun satpam itu tidak menanyakan apa pun pada Tania dan mempersilakan Tania langsung masuk ke dalam.
“Saya ingin mengantarkan dokumen ini ke ruangan Tuan Olaf,” ujar Tania pada petugas resepsionis di depan.
“Tunggu sebentar ya,” ujar resepsionis itu ramah.
Tania lagi-lagi menunggu beberapa saat ketika resepsionis itu berbicara dengan seseorang di telepon, tidak lama kemudian setelah menutup telepon itu resepsionis memberikan izin pada Tania untuk pergi ke ruangan Olaf.
*****
Akhirnya Tania kini sudah sampai di depan ruangan kerja pria itu, sang sekretaris sudah mengizinkan Tania untuk masuk ke dalam namun Tania nampak ragu untuk mengetuk pintu ruangan kerja Olaf.
“Anda sudah diberikan izin untuk masuk ke dalam ruangan, silakan masuk.”
“Namun aku ragu.”
“Baiklah, biar saya bantu.”
Sekretaris itu membantu Tania membuka pintu ruangan kerja Olaf dan mempersilakan gadis itu untuk masuk ke dalam ruangan, Olaf nampak terkejut ketika melihat siapa orang yang datang saat ini.
“Tania?”
“Silakan.”
Sekretaris itu pun pergi dari ruangan kerja Olaf dan menyisakan mereka berdua yang nampak canggung satu sama lain, Olaf pun bertanya apa yang membawa Tania untuk datang ke ruangan kerjanya.
“Oh, aku hampir lupa Nyonya Minanti menyuruhku memberikan ini padamu, katanya berkas ini sangat penting, kamu tadi meninggalkannya di rumah.”
“Oh benarkah?”
Olaf menerima berkas yang disodorkan oleh Tania, ia membaca dokumen itu dan memang benar ini adalah dokumen yang tadi pagi tertinggal di rumah namun ia sudah menyuruh sopir pribadinya untuk mengambil
dokumen ini namun bagaimana bisa Tania yang membawakan dokumen ini ke sini?
“Kalau begitu, saya permisi dulu.”
“Tunggu dulu.”
__ADS_1
Tania yang sudah bersiap berbalik badan mengurungkan niatnya saat mendengar Olaf memintanya untuk berhenti, Tania pun membalikan badannya dan menatap Olaf yang tadi menyuruhnya untuk berhenti.
“Ada apa, Tuan?”