Berkah Cinta

Berkah Cinta
Lepaskan Aku


__ADS_3

Ferdian mendapatkan kabar bahwa perusahaan Olaf akan mengikuti lelang untuk proyek strategis di sebuah wilayah, tentu saja Ferdian tidak akan membiarkan Olaf menang dalam lelang tersebut. Ia sudah memerintahkan


agar besok mereka mengadakan rapat untuk membahas agar perusahaan mereka mengikuti lelang tersebut.


“Hari yang melelahkan, ya?” tanya Ferdian berbasa-basi pada Tania yang baru keluar kamar mandi.


“Bukan urusanmu,” jawab Tania.


“Bagaimana dengan kandunganmu?”


“Baik, tidak terjadi masalah.”


“Baguslah, kalau kamu merasakan sesuatu kamu segera beritahu aku, ya?”


Tania tidak menanggapi ucapan Ferdian itu, ia memilih untuk melangkahkan kakinya keluar dari kamar, Ferdian pun merasa heran kenapa Tania malah pergi keluar kamar padahal hari sudah malam saat ini.


“Tania, kamu mau pergi ke mana?”


“Tentu saja tidur.”


“Tidur? Bukankah ini kamar kita?”


“Sepertinya kamu tidak mendengar ucapanku dengan baik tadi sebelum mandi, aku mengatakan bahwa aku ingin kita tidur terpisah dan kamu mengiyakannya.”


“Apa?! Tidak, kita sudah resmi menikah bagaimana bisa kita tidur di kamar yang terpisah seperti pasangan yang bermasalah?”


“Memang kita pasangan yang bermasalah.”


“Tania….”


“Sudahlah Ferdian, aku lelah, aku ingin istirahat tanpa gangguan darimu.”


****


Keesokan paginya Tania terbangun dengan posisi seseorang memeluknya dari belakang, tentu saja ia tahu siapa orang yang tidur dengannya saat ini padahal ia sudah memperingatkan Ferdian untuk jangan coba-coba masuk ke dalam kamarnya namun sepertinya pria ini memang keras kepala dan terus menguji kesabarannya. Dengan kasar Tania mendorong tangan Ferdian dari tubuhnya dan ia beringsut turun dari tempat tidur, rupanya apa yang Tania


lakukan itu membuat Ferdian terbangun, ia nampak masih berat untuk membuka matanya namun ia memaksakan diri untuk bangun.


“Kamu sudah bangun rupanya, jam berapa sekarang?”


“Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk jangan mencoba masuk ke dalam kamarku tanpa izin?!”


“Tania, aku ini suamimu, masa seorang suami tidak boleh tidur dengan istrinya, sih?”


“Ferdian ….”


“Tania, kamu pikir aku akan menyerah untuk membuatmu mencintaiku? Kamu salah Tania, aku akan terus berjuang untuk membuatmu jatuh cinta padaku.”

__ADS_1


“Terserah, namun aku hanya memperingatkanmu kalau apa yang kamu lakukan ini hanya menyakiti dirimu sendiri.”


“Aku sama sekali tidak menyakiti diriku sendiri, kok.”


Tania menghela napasnya kesal, percuma saja ia bicara dengan Ferdian, pria itu selalu saja membalas ucapannya, maka Tania memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi. Saat Tania sedang mandi, ponsel Tania yang diletakan di atas nakas berdering, Ferdian penasaran siapa yang menelpon pagi-pagi begini dan alangkah kesalnya ia ketika melihat sebuah nama terpampang di layar ponsel istrinya itu.


“Dasar pria tidak tahu diri, kamu ingin jadi duri dalam rumah tanggaku rupanya.”


****


Olaf terkejut ketika Ferdian yang menjawab telepon Tania, ia meminta agar Ferdian memberikan ponselnya pada Tania namun pria itu menolak dan Ferdian malah mengatai Olaf bahwa pria itu tidak tahu malu karena menggoda istri orang.


“Di mana Tania, aku tidak punya urusan denganmu.”


“Hei! Kamu ini tuli atau apa?! Sudah aku katakan jangan pernah coba menghubungi istriku lagi atau kamu akan mengetahui akibatnya!”


“Memangnya apa yang akan kamu lakukan padaku, hm?”


“Aku akan membuatmu hancur Olaf, jangan pikir aku tidak bisa menghancurkanmu dan perusahaanmu!”


“Benarkah? Aku sama sekali tidak takut dengan ancamanmu, kamu hanya berstatus sebagai wakil Direktur Utama di perusahaan, kamu hanya menjadi kaki tangan papamu dan kamu bukan orang yang berkuasa penuh di perusahaan jadi mana mungkin kamu dapat menghancurkan perusahaanku dan aku?”


“Kamu sombong sekali rupanya, Tania pasti sudah terperdaya dengan tingkah laku dan kata-katamu yang manis dan sopan, andai dia tahu pria seperti apa kamu ini.”


“Sudahlah, aku malas bicara denganmu, berikan ponselnya pada Tania.”


TUT


Olaf nampak tak percaya bahwa sambungan teleponnya dimatikan sepihak begitu saja oleh Ferdian, bahkan yang lebih parahnya lagi nomornya diblokir oleh pria itu.


“Sepertinya dia ingin cari gara-gara denganku.”


****


Sementara itu Tania nampak terkejut ketika ia melihat Ferdian memegang ponselnya, dengan segera ia merampas kembali ponsel itu dari tangan Ferdian, ia menatap curiga pada Ferdian mengenai apa saja yang sudah ia


lakukan dengan ponselnya.


“Apa yang sudah kamu lakukan dengan ponselku?”


“Aku menjawab panggilan.”


“APA?! Kenapa kamu lancang sekali!”


“Tania, kenapa kamu begitu menyukai pria bernama Olaf itu? Andai kamu tahu betapa menjijikannya dia.”


“Sudahlah, aku tidak memilik waktu untuk membicarakan hal omong kosong seperti ini denganmu.”

__ADS_1


“Apa katamu? Omong kosong?!”


Tania kemudian hendak keluar dari dalam kamar namun tangannya ditahan oleh Ferdian, tentu saja ia tidak akan membiarkan Tania pergi begitu saja.


“Tania, kamu pikir kamu mau ke mana, hah?!”


“Lepaskan tanganmu!”


“Kamu pasti ingin bertemu dengan Olaf, kan?!”


“Lepaskan aku!”


Tiba-tiba saja Tania merasa perutnya begitu sakit dan ia mengaduh kesakitan, Ferdian yang mendengar Tania kesakitan sambil memegangi perutnya tentu saja panik, ia takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada


anak yang ada di dalam kandungan Tania.


“Tania, kamu baik-baik saja?”


“Perutku, sakit sekali.”


“Kita akan pergi ke rumah sakit sekarang juga!”


****


Sementara itu Olaf berusaha menghubungi Tania melalui nomor ponselnya yang lain namun ia tetap tidak dapat menghubungi Tania karena wanita itu tidak menjawab panggilan darinya.


“Ke mana dia?”


“Kamu menelpon siapa?”


Olaf terkejut karena tiba-tiba saja Juan menghampirinya, Olaf mengatakan bahwa Juan tidak perlu ikut campur mengenai apa yang saat ini terjadi, ia pun segera masuk ke dalam rumah.


“Apa yang sebenarnya terjadi dengannya?”


Olaf melewatkan sarapan paginya, ia beralasan bahwa saat ini ada sesuatu hal yang penting harus ia urus, tentu saja semua orang nampak mengerutkan keningnya heran dengan sikap Olaf yang tidak biasa ini.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Minanti.


“Aku pun tak tahu, namun sepertinya sikapnya agak aneh sejak tadi,” jawab Juan.


Olaf melajukan kendaraannya menuju apartemen Tania, namun ia baru mendapatkan informasi kalau Tania rupanya sudah pindah ke rumah yang telah dibeli oleh Ferdian. Olaf segera menuju alamat yang diberikan oleh petugas apartemen itu, namun ketika ia tiba di rumah itu, satpam mengatakan bahwa saat ini Ferdian dan Tania sedang tidak ada di rumah.


“Kamu pasti berbohong, kan? Mereka pasti ada di dalam sekarang!” seru Olaf berang.


“Tidak Tuan, saya bersumpah bahwa mereka tidak ada di dalam sekarang, Nyonya Tania dan Tuan Ferdian sekarang pergi ke rumah sakit.”


“Rumah sakit? Memangnya apa yang terjadi kenapa mereka pergi ke rumah sakit?!”

__ADS_1


__ADS_2