
Ricky kemudian mendengarkan cerita Felli ini dan akhirnya ia pun tahu apa yang menjadi pertimbangan Felli untuk menolak rujuk dengan Juan, sejujurnya ia bingung dalam bersikap, di satu sisi ia begitu senang karena Felli tidak akan kembali pada Juan, namun di sisi yang lain ia merasa sedih karena Felli nampak masih tidak rela jika ia yang harus mengalah dari Stefani.
“Maaf kalau aku sampai menangis seperti ini.”
“Tidak apa, wajar kalau kamu menangis, ini bukanlah keputusan yang mudah untuk kamu buat.”
“Terima kasih karena kamu sudah mendengarkan ceritaku ini.”
“Tidak masalah.”
Felli pun kembali melajukan kendaraannya yang tadi sempat ia berhentikan karena adanya gejolak perasaan dalam dirinya, kini akhirnya mereka pun sampai di ujung gang tempat di mana Ricky tinggal. Sebelum Ricky turun dari mobil Felli, Ricky sempat mengatakan bahwa Felli harus memulai menatap masa depan dari saat ini.
“Aku mengerti Ricky, terima kasih atas perhatianmu.”
“Tidak masalah, aku permisi dulu.”
*****
Minanti datang ke apartemen Tania untuk membahas apa yang terjadi di perusahaan anaknya, Tania menceritakan perihal masalahnya di perusahaan, ia merasa bingung dengan langkah berikutnya yang harus ia tempuh
karena ia juga tidak bisa terus menerus mempertahankan orang-orang yang menggerogoti perusahaan dari dalam dan akan membuat perusahaan jatuh.
“Mereka bukanlah orang sembarangan dan aku juga tidak bisa gegabah dalam menghadapi mereka.”
“Kamu benar, Nak, kita memang tidak dapat gegabah dalam menghadapi masalah ini.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan, Ma? Apakah aku harus mempertahankan mereka padahal sudah jelas kalau mereka adalah sumber dari semua kekacauan ini?”
“Olaf pasti memiliki solusi atas semua ini, Mama
yakin.”
Tidak lama kemudian Olaf pun datang ke apartemen Tania, ia sebenarnya tidak tahu kalau ia diundang datang ke sini karena ada masalah serius di perusahaan Tania, yang ia tahu kenapa dia diundang ke sini adalah untuk bercerita mengenai mengapa Felli menolak rujuk dengan Juan.
“Mama sudah sampai rupanya.”
“Nak, Tania butuh bantuanmu.”
“Bantuan? Bantuan apa?”
Tania kemudian menceritakan masalah yang saat ini ia hadapi pada Olaf, pria itu nampak diam dan menyimak dengan seksama apa yang Tania bicarakan ini dan akhirnya ia pun tahu apa inti dari semua pembicaraan
__ADS_1
itu.
“Aku mengerti sekarang, kamu ingin menyingkirkan mereka semua namun kamu takut akan konsekuensinya?”
*****
Mamanya Felli sudah mendengar berita bahwa anaknya menolak untuk rujuk kembali dengan Juan, walaupun ia begitu sedih dan kecewa dengan keputusan yang sudah Felli buat, namun apa boleh buat, ia harus menerima
semua keputusan itu dengan lapang dada.
“Nak.”
“Ada apa, Ma?”
“Sejujurnya Mama merasa begitu sedih karena melihat betapa banyaknya pengorbanan yang sudah kamu lakukan selama ini untuk suamimu.”
“Sudahlah, Mama tidak perlu mengungkit masalah itu lagi.”
“Baiklah, namun Mama harap selepas ini kamu akan hidup bahagia dan menemukan sosok pria yang tepat, pria yang akan menghapus semua duka dan air mata kesedihan yang saat ini kamu raskaan.”
Felli hanya diam menundukan kepalanya, sejujurnya ia tidak ingin membahas hal tersebut dulu saat ini, yang menjadi fokusnya adalah proses perceraiannya dengan Juan yang masih berjalan di pengadilan.
“Kalau begitu, Mama tinggal dulu.”
Setelah itu sang mama pun pergi meninggalkan Felli sendirian di dalam kamarnya, selepas sang mama itu nampak Felli meraih ponselnya dan melihat apakah ada pesan masuk atau tidak dari Ricky namun rupanya pemuda itu sama sekali tidak mengirimkan pesan padanya.
“Kenapa juga aku mengharapkan pemuda itu mengirimkan pesan padaku?”
*****
Juan sudah diizinkan pulang dari rumah sakit, Stefani membantu Juan mengemasi semua barang-barang pria itu dan di saat ia tengah merapihkan semua barang-barang Juan, Minanti datang ke ruangan inap itu.
“Mama pikir kamu belum membereskan semua barang-barangmu.”
“Tentu saja Tante tidak perlu khawatir, ada aku di sini yang akan membereskan semuanya,” ujar Stefani.
“Bagaimana kondisimu saat ini, Nak?” tanya Minanti yang mengacuhkan Stefani dan menghampiri putranya.
Stefani tentu saja merengut kesal karena ia diabaikan oleh Minanti, Juan yang melihat itu tentu saja jadi merasa tidak enak pada calon istrinya tersebut.
“Aku baik-baik saja, Ma.”
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu, ayo kita pulang, namun khusus untuk kamu, kamu tidak boleh ikut bersama kami,” ujar Minanti tegas.
“Apa? Kenapa aku tidak boleh ikut Tante? Aku kan calon istrinya Juan.”
“Juan baru saja diiznkan pulang oleh dokter ke rumah dan kehadiranmu dikhawatirkan dapat membuat proses pemulihannya menjadi semakin lama, aku tidak ingin anakku pulih lama karena kamu.”
Stefani tentu saja merasa tersinggung dengan ucapan Minanti barusan dan ia ingin mendebat ucapan Minanti barusan, namun Juan mengatakan bahwa Stefani jangan mengatakan apa pun.
“Ayo Ma, kita pulang, terima kasih karena kamu sudah membantu mengemasi barang-barangku,” ujar Juan.
Maka kini Juan dan Minanti kemudian pergi dari ruangan inap itu meninggalkan Stefani yang masih terdiam dan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
“Bagaimana bisa dia melakukan ini padaku?!”
*****
Ricky menatap layar ponselnya lama, ia sejak tadi pagi ragu apakah harus menghubungi Felli atau tidak, setiap kali ia hendak menekan nomor Felli, selalu saja terbesit dalam benaknya bahwa ia akan mengganggu wanita itu dan karena pikiran itu membuatnya menjadi mengurungkan niatnya untuk menelpon Felli. Nanda yang sejak tadi memperhatikan tingkah aneh Ricky itu kemudian menghampiri pemuda tersebut sambil berdehem keras.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?”
“Bos?” ujar Ricky terkejut.
“Aku perhatikan sejak tadi kamu menatap layar ponselmu itu, ada apa? Menunggu Felli menghubungimu?”
“Tidak kok.”
“Benarkah? Kamu jelas sekali bukan pembohong yang
baik, Ricky.”
“Sungguh, aku tidak apa-apa.”
Ricky kemudian pergi dari hadapan Nanda untuk melayani seorang pelanggan yang baru saja datang di café ini, selepas pembicaraannya dengan Felli kemarin, Nanda belum berkomunikasi kembali dengan Felli, sejujurnya ia juga penasaran dengan bagaimana kabar sahabatnya itu, namun ia agak ragu apakah ia harus menghubungi Felli saat ini atau tidak.
“Apakah aku harus menghubunginya atau tidak, ya?”
Setelah melalui proses pemikiran yang panjang, akhirnya Nanda pun memutuskan untuk menelpon Felli dengan harapan kalau sahabatnya itu mau menjawab telepon darinya.
“Nomor yang anda tuju, tidak dapat menjawab, silakan coba beberapa saat lagi.”
Nanda nampak menghembuskan napasnya berat karena rupanya saat ini Felli tidak menjawab telepon darinya.
__ADS_1
“Semoga saja dia saat ini baik-baik saja.”