Berkah Cinta

Berkah Cinta
Masa Lalu Memang Menyakitkan


__ADS_3

Juan mendatangi kamar Felli karena memang ia belum


selesai berbicara, ketika ia sampai di kamar wanita itu nampak Felli baru saja


keluar dari kamar mandi dan ia sama sekali tidak terkejut ketika melihat


kedatangan Juan.


“Mau apa kamu ke sini?”


“Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau masalah


kita belum selesa?”


“Ya Tuhan Juan, sudahlah jangan buat keributan, hari


sudah malam.”


“Aku tidak akan ribut kalau kamu jujur padaku kalau


kamu berselingkuh dengan pria itu!”


“Hentikan bicara omong kosongmu.”


“Semua orang menganggapmu sebagai korban di sini,


namun mereka tidak tahu apa-apa tentangmu, mereka harus tahu kalau kamu pun


sama busuknya dengan aku.”


“Sudah selesai bicaranya? Sekarang juga keluar dari


kamarku.”


“Aku ingin kita berpisah.”


“Apakah kamu yakin?”


“Tentu saja aku yakin.”


“Baiklah kalau memang begitu keinginanmu, aku pun juga


lelah kalau setiap hari harus bertengkar denganmu.”


Juan pun pergi dari kamar Felli, dan selepas kepergian


Juan kini Felli terduduk di tepi tempat tidur sambil membayangkan rumah


tangganya dengan Juan yang akan segera berakhir.


“Apakah semuanya memang harus berakhir seperti ini?”


*****


Keesokan harinya adalah hari libur, Olaf mendatangi


apartemen Tania untuk mengajak wanita itu pergi ke luar bersama namun Tania mengatakan


bahwa saat ini ia tidak ingin ke mana-mana dan ingin istirahat saja di rumah.


“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tetap di rumah


saja dan tidak perlu ke kantor? Kamu baru saja keluar dari rumah sakit namun


sudah pergi bekerja.”


“Memangnya aku bisa libur berlama-lama? Masih banyak


pekerjaan yang harus aku selesaikan sebagai Direktur Utama di perusahaan.”


“Ngomong-ngomong soal perusahaan, aku jadi teringat


sesuatu.”


“Ada apa?”


“Akhirnya pemerintah daerah memilih perusahaan kami


sebagai pemenang lelang.”


“Apa? Bagaimana bisa?”


“Sudahlah Tania, kamu tidak perlu terkejut begitu.”


“Jangan-jangan kamu menggunakan cara yang sama seperti


Ferdian dulu, ya?”


“Tidak kok, hanya butuh nego halus dan sedikit lobi


untuk pemerintah daerah yang baru.”


“Tapi tetap saja berisiko.”


“Apakah kamu takut kalau aku pun akan dipenjara


seperti Ferdian karena kasus suap menyuap?”


“Tentu saja aku takut, bagaimana kalau nasibmu akan


sama seperti nasib pria itu.”


“Tania, aku dan dia berbeda, aku tahu bagaimana cara


bermain cantik tanpa terendus oleh penegak hukum yang berwajib.”

__ADS_1


“Semoga saja begitu.”


“Jadi aku datang ke sini sepertinya sia-sia saja


karena kamu pun tidak mau diajak ke luar.”


“Kita bisa menghabiskan waktu di apartemenku, aku akan


buatkan makanan yang enak untukmu.”


“Benarkah?”


*****


Felli mengadukan Juan pada Minanti soal perceraian


itu, Minanti nampak menghela napasnya berat, ia benar-benar tidak menyangka


bahwa kembalinya Stefani setelah sekian lama wanita itu tinggal di luar negeri


justru membuat masalah pada keluarganya.


“Kamu tidak perlu khawatir, Mama akan coba bicara


dengan Juan, ya.”


“Terima kasih banyak, Ma.”


“Mama tidak perlu repot-repot bicara denganku karena


aku tidak sudi melanjutkan pernikahan kami,” ujar Juan yang tiba-tiba muncul.


“Bicara apa kamu ini?”


“Ma, Mama jangan mau terperdaya olehnya, dia itu sama


iblisnya denganku!”


“Bicara apa kamu ini?”


“Dia itu juga berselingkuh dengan orang lain, dia


berselingkuh dengan seorang pemuda yang usianya di bawahnya!”


“Bisakah kamu tidak perlu menyalahkan orang lain?”


“Apa?”


“Sudahlah Ma, Juan memang seperti itu,” ujar Fell.


“Apa katamu?! Kamu ingin cari muka di depan Mamaku,


ya!” berang Juan.


“Juan hentikan!”


itu juga tidak sebaik yang Mama kira, dia itu juga berselingkuh dengan seorang


pemuda!”


“Juan cukup!”


“Jadi Mama lebih percaya dengan apa yang dikatakan


oleh wanita ini? Baiklah, aku akan mendapatkan buktinya, bukti yang sangat


lengkap agar Mama percaya bahwa dia pun berselingkuh!” seru Juan lalu pria itu


pergi meninggalkan mereka berdua.


“Mama baik-baik saja?” tanya Felli.


“Iya, Mama baik-baik saja,” jawab Minanti sambil


memijat pelipisnya.


*****


Juan pergi ke apartemen Stefani, wanita itu pun


membukakan pintu apartemennya untuk Juan, Stefani pikir kalau Juan tidak akan


pernah mau lagi menginjakan kakinya ke apartemennya setelah insiden ia


dipergoki oleh Olaf dan Minanti namun ternyata dugaannya salah, pria ini tetap


mau datang menemuinya.


“Juan, sepertinya kamu ada masalah saat ini.”


“Iya, aku memang ada masalah saat ini.”


“Apakah ini soal Felli lagi?”


“Iya, wanita itu selalu saja mencari muka di depan


keluargaku dan aku benar-benar muak dengannya.”


“Kamu yang sabar, ya.”


“Stefani, namun sebelumnya aku ingin bertanya padamu.”


“Apa itu?”


“Soal insiden hari itu ketika aku bangun tanpa

__ADS_1


mengenakan pakaian, sebenarnya apa yang terjadi?”


“Kamu tidak ingat apa pun?”


“Tidak, memangnya apa yang terjadi?”


“Kita bercinta, kamu menyerangku terlebih dahulu


kemudian membawaku ke tempat tidur.”


“Apa?! Lalu…apakah aku…aku….”


“Iya, kamu melakukan itu tanpa menggunakan pengaman.”


“Ya Tuhan.”


“Sudahlah Juan, aku tidak masalah kok.”


“Benarkah?”


“Tentu saja, kalau pun aku hamil maka kamu harus


bertanggung jawab atas anak yang aku kandung ini.”


“Tentu saja Stefani, aku pasti akan bertanggung


jawab.”


“Namun aku tidak mau jadi istri siri atau siri kedua,


aku ingin menjadi satu-satunya istrimu.”


“Tentu saja, aku dan Felli tidak lama lagi akan


bercerai dan kamu akan jadi satu-satunya istriku.”


*****


Olaf memuji masakan Tania yang enak, Tania merasa


bahwa masakannya biasa-biasa saja namun Olaf saja yang memujinya terlelu


berlebihan.


“Tapi sungguh ini enak sekali Tania.”


“Sudahlah Olaf jangan terlalu memujiku begitu.”


“Kenapa memangnya?”


“Nanti aku jadi terlalu percaya diri dan itu tidak


baik.”


Olaf nampak tersenyum kecil mendengar ucapan Tania


barusan, ketika mereka tengah menikmati makan siang mereka dengan penuh


keceriaan, pintu bel apartemen Tania berbunyi, Tania pun segera bergegas menuju


pintu untuk melihat siapa orang yang datang ke apartemennya dan rupanya orang


yang datang saat ini adalah Minanti.


“Nyonya?”


“Halo Tania, apa kabar? Apakah aku mengganggu


waktumu?”


“Sama sekali tidak, silakan masuk.”


Minanti melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen


Tania, namun ia menemukan sepasang satu milik Olaf di rak, sudah pasti anaknya


itu ada di sini saat ini.


“Olaf ada di sini?”


“Oh, iya…dia sedang makan.”


“Begitu rupanya.”


Olaf nampak mengerutkan keningnya heran kenapa mamanya


datang ke apartemen Tania siang ini, Minanti mengatakan bahwa ia sebenarnya


ingin membuatkan makan siang untuk Tania namun rupanya Tania sudah memasak


untuk makan siang mereka.


“Sepertinya aku datang terlambat.”


“Sama sekali tidak, kok, masih ada satu porsi lagi


untuk anda.”


“Ma?”


“Ada apa, Nak?”


“Apakah Mama dan Papa bertengkar lagi di rumah?”


“Kamu ini bicara apa, sih?”

__ADS_1


“Aku kira seperti itu, aku tidak ingin Papa dan Mama


bertengkar lagi.”


__ADS_2