
Juan mendatangi kamar Felli karena memang ia belum
selesai berbicara, ketika ia sampai di kamar wanita itu nampak Felli baru saja
keluar dari kamar mandi dan ia sama sekali tidak terkejut ketika melihat
kedatangan Juan.
“Mau apa kamu ke sini?”
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu kalau masalah
kita belum selesa?”
“Ya Tuhan Juan, sudahlah jangan buat keributan, hari
sudah malam.”
“Aku tidak akan ribut kalau kamu jujur padaku kalau
kamu berselingkuh dengan pria itu!”
“Hentikan bicara omong kosongmu.”
“Semua orang menganggapmu sebagai korban di sini,
namun mereka tidak tahu apa-apa tentangmu, mereka harus tahu kalau kamu pun
sama busuknya dengan aku.”
“Sudah selesai bicaranya? Sekarang juga keluar dari
kamarku.”
“Aku ingin kita berpisah.”
“Apakah kamu yakin?”
“Tentu saja aku yakin.”
“Baiklah kalau memang begitu keinginanmu, aku pun juga
lelah kalau setiap hari harus bertengkar denganmu.”
Juan pun pergi dari kamar Felli, dan selepas kepergian
Juan kini Felli terduduk di tepi tempat tidur sambil membayangkan rumah
tangganya dengan Juan yang akan segera berakhir.
“Apakah semuanya memang harus berakhir seperti ini?”
*****
Keesokan harinya adalah hari libur, Olaf mendatangi
apartemen Tania untuk mengajak wanita itu pergi ke luar bersama namun Tania mengatakan
bahwa saat ini ia tidak ingin ke mana-mana dan ingin istirahat saja di rumah.
“Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk tetap di rumah
saja dan tidak perlu ke kantor? Kamu baru saja keluar dari rumah sakit namun
sudah pergi bekerja.”
“Memangnya aku bisa libur berlama-lama? Masih banyak
pekerjaan yang harus aku selesaikan sebagai Direktur Utama di perusahaan.”
“Ngomong-ngomong soal perusahaan, aku jadi teringat
sesuatu.”
“Ada apa?”
“Akhirnya pemerintah daerah memilih perusahaan kami
sebagai pemenang lelang.”
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Sudahlah Tania, kamu tidak perlu terkejut begitu.”
“Jangan-jangan kamu menggunakan cara yang sama seperti
Ferdian dulu, ya?”
“Tidak kok, hanya butuh nego halus dan sedikit lobi
untuk pemerintah daerah yang baru.”
“Tapi tetap saja berisiko.”
“Apakah kamu takut kalau aku pun akan dipenjara
seperti Ferdian karena kasus suap menyuap?”
“Tentu saja aku takut, bagaimana kalau nasibmu akan
sama seperti nasib pria itu.”
“Tania, aku dan dia berbeda, aku tahu bagaimana cara
bermain cantik tanpa terendus oleh penegak hukum yang berwajib.”
__ADS_1
“Semoga saja begitu.”
“Jadi aku datang ke sini sepertinya sia-sia saja
karena kamu pun tidak mau diajak ke luar.”
“Kita bisa menghabiskan waktu di apartemenku, aku akan
buatkan makanan yang enak untukmu.”
“Benarkah?”
*****
Felli mengadukan Juan pada Minanti soal perceraian
itu, Minanti nampak menghela napasnya berat, ia benar-benar tidak menyangka
bahwa kembalinya Stefani setelah sekian lama wanita itu tinggal di luar negeri
justru membuat masalah pada keluarganya.
“Kamu tidak perlu khawatir, Mama akan coba bicara
dengan Juan, ya.”
“Terima kasih banyak, Ma.”
“Mama tidak perlu repot-repot bicara denganku karena
aku tidak sudi melanjutkan pernikahan kami,” ujar Juan yang tiba-tiba muncul.
“Bicara apa kamu ini?”
“Ma, Mama jangan mau terperdaya olehnya, dia itu sama
iblisnya denganku!”
“Bicara apa kamu ini?”
“Dia itu juga berselingkuh dengan orang lain, dia
berselingkuh dengan seorang pemuda yang usianya di bawahnya!”
“Bisakah kamu tidak perlu menyalahkan orang lain?”
“Apa?”
“Sudahlah Ma, Juan memang seperti itu,” ujar Fell.
“Apa katamu?! Kamu ingin cari muka di depan Mamaku,
ya!” berang Juan.
“Juan hentikan!”
itu juga tidak sebaik yang Mama kira, dia itu juga berselingkuh dengan seorang
pemuda!”
“Juan cukup!”
“Jadi Mama lebih percaya dengan apa yang dikatakan
oleh wanita ini? Baiklah, aku akan mendapatkan buktinya, bukti yang sangat
lengkap agar Mama percaya bahwa dia pun berselingkuh!” seru Juan lalu pria itu
pergi meninggalkan mereka berdua.
“Mama baik-baik saja?” tanya Felli.
“Iya, Mama baik-baik saja,” jawab Minanti sambil
memijat pelipisnya.
*****
Juan pergi ke apartemen Stefani, wanita itu pun
membukakan pintu apartemennya untuk Juan, Stefani pikir kalau Juan tidak akan
pernah mau lagi menginjakan kakinya ke apartemennya setelah insiden ia
dipergoki oleh Olaf dan Minanti namun ternyata dugaannya salah, pria ini tetap
mau datang menemuinya.
“Juan, sepertinya kamu ada masalah saat ini.”
“Iya, aku memang ada masalah saat ini.”
“Apakah ini soal Felli lagi?”
“Iya, wanita itu selalu saja mencari muka di depan
keluargaku dan aku benar-benar muak dengannya.”
“Kamu yang sabar, ya.”
“Stefani, namun sebelumnya aku ingin bertanya padamu.”
“Apa itu?”
“Soal insiden hari itu ketika aku bangun tanpa
__ADS_1
mengenakan pakaian, sebenarnya apa yang terjadi?”
“Kamu tidak ingat apa pun?”
“Tidak, memangnya apa yang terjadi?”
“Kita bercinta, kamu menyerangku terlebih dahulu
kemudian membawaku ke tempat tidur.”
“Apa?! Lalu…apakah aku…aku….”
“Iya, kamu melakukan itu tanpa menggunakan pengaman.”
“Ya Tuhan.”
“Sudahlah Juan, aku tidak masalah kok.”
“Benarkah?”
“Tentu saja, kalau pun aku hamil maka kamu harus
bertanggung jawab atas anak yang aku kandung ini.”
“Tentu saja Stefani, aku pasti akan bertanggung
jawab.”
“Namun aku tidak mau jadi istri siri atau siri kedua,
aku ingin menjadi satu-satunya istrimu.”
“Tentu saja, aku dan Felli tidak lama lagi akan
bercerai dan kamu akan jadi satu-satunya istriku.”
*****
Olaf memuji masakan Tania yang enak, Tania merasa
bahwa masakannya biasa-biasa saja namun Olaf saja yang memujinya terlelu
berlebihan.
“Tapi sungguh ini enak sekali Tania.”
“Sudahlah Olaf jangan terlalu memujiku begitu.”
“Kenapa memangnya?”
“Nanti aku jadi terlalu percaya diri dan itu tidak
baik.”
Olaf nampak tersenyum kecil mendengar ucapan Tania
barusan, ketika mereka tengah menikmati makan siang mereka dengan penuh
keceriaan, pintu bel apartemen Tania berbunyi, Tania pun segera bergegas menuju
pintu untuk melihat siapa orang yang datang ke apartemennya dan rupanya orang
yang datang saat ini adalah Minanti.
“Nyonya?”
“Halo Tania, apa kabar? Apakah aku mengganggu
waktumu?”
“Sama sekali tidak, silakan masuk.”
Minanti melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen
Tania, namun ia menemukan sepasang satu milik Olaf di rak, sudah pasti anaknya
itu ada di sini saat ini.
“Olaf ada di sini?”
“Oh, iya…dia sedang makan.”
“Begitu rupanya.”
Olaf nampak mengerutkan keningnya heran kenapa mamanya
datang ke apartemen Tania siang ini, Minanti mengatakan bahwa ia sebenarnya
ingin membuatkan makan siang untuk Tania namun rupanya Tania sudah memasak
untuk makan siang mereka.
“Sepertinya aku datang terlambat.”
“Sama sekali tidak, kok, masih ada satu porsi lagi
untuk anda.”
“Ma?”
“Ada apa, Nak?”
“Apakah Mama dan Papa bertengkar lagi di rumah?”
“Kamu ini bicara apa, sih?”
__ADS_1
“Aku kira seperti itu, aku tidak ingin Papa dan Mama
bertengkar lagi.”