
Alih-alih terkejut dengan yang dikatakan oleh Ester, Minanti justru tertawa kecil mendengar ucapan Ester itu, ia kemudian mengatakan bahwa Ester terlalu berpikiran buruk padanya.
“Sepertinya anda terlalu berpikiran buruk pada saya.”
“Saya tidak berpikiran buruk pada anda, namun saya sudah tahu apa yang anda racang saat ini.”
Namun obrolan mereka harus terhenti saat asisten rumah tangga datang dan membawakan minuman untuk Ester, setelah asisten rumah tangga itu pergi kini Ester kembali mengatakan pada Minanti bahwa wanita itu sebaiknya
tidak perlu ikut campur dalam masalah keluarganya.
“Saya katakan pada anda, lebih baik saat ini anda tidak perlu ikut campur dalam kemelut keluarga saya.”
“Bukankah sudah saya katakan pada anda, bahwa anda sepertinya terlalu berpikiran buruk pada saya?”
Ester tidak mau berlama-lama berada di sana, ia kemudian berpamitan pada Minanti tanpa menyentuh minuman yang sudah dibuatkan oleh asisten rumah tangga tadi, selepas Ester pergi kini Minanti meminta agar asisten rumah tangganya membawa kembali minuman ini ke dalam.
“Bibi, tolong bawa ini ke dalam lagi, tamunya sudah pulang.”
“Baik Nyonya.”
Rupanya percakapan antara Ester dan Minanti lagi-lagi didengarkan oleh Felli, ia nampak begitu penasraan sebenarnya apakah yang terjadi saat ini.
****
Olaf mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak mencintai Tania, namun hatinya tidak bisa berbohong bahwa ia jatuh cinta pada wanita itu, sekuat apa pun ia berusaha menolak, namun hatinya tidak dapat berbohong, Olaf merasa kesal pada dirinya sendiri karena kenapa ia harus jatuh cinta pada wanita itu? Olaf terus memikirkan perasaannya pada Tania hingga ia tidak dapat fokus dalam bekerja, Olaf meraih ponselnya dan mencari kontak Tania di sana, ia nampak ragu apakah harus menghubungi Tania saat ini atau tidak, di saat ia menatap layar ponselnya itu muncul sekretarisnya yang sebelumnya sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.
“Permisi, Tuan.”
“Ada apa?”
“Anda ada rapat jam 2 siang nanti.”
“Baiklah.”
“Lalu ada dokumen yang perlu anda tanda tangani saat ini.”
“Letakan saja di atas meja kerjaku.”
“Baik.”
Setelah meletakan dokumen yang harus ditandatangani oleh Olaf, sekretaris itu pun berpamitan untuk kembali ke meja kerjanya, sepeninggal sekretarisnya itu Olaf masih memegangi ponselnya dan ia masih dilanda keraguan yang besar, haruskah ia menghubungi Tania saat ini atau tidak.
“Apakah aku harus menghubungi dia atau tidak, ya?”
Olaf masih saja bingung dan memikirkan ini hingga akhirnya ia menghembuskan napasnya berat dan memilih untuk mengetikan sebuah pesan pada wanita itu.
__ADS_1
****
Ester kembali ke rumah dengan kegeraman yang luar biasa, ia tidak menyangka bahwa rupanya Minanti adalah dalang di balik semua ini, Jihan nampak tidak mau terlalu banyak bertanya dan lebih memilih untuk menyibukan diri dengan ponselnya ketimbang meladeni Ester.
“Kamu tahu siapa sebenarnya dalang di balik semua ini?”
“Kenapa memangnya?” tanya Jihan acuh.
“Dia adalah mamanya Olaf.”
Mendengar jawaban dari Ester itu membuat Jihan mengerutkan keningnya heran, rupanya ucapan Ester itu sukses membuat Jihan mengalihkan pandangannya dari ponsel dan kini menatap Ester penuh tanda tanya, apa maksudnya Ester mengatakan hal tersebut padanya?
“Kenapa menatap Mama seperti itu? Apakah yang Mama ucapkan tadi masih kurang jelas?”
“Maksud Mama adalah Tania memiliki hubungan dengan mamanya Olaf begitu?”
“Begitulah, setelah Mama runtut lagi, sekarang aku tahu siapa dalang di balik semua ini.”
“Namun bagaimana bisa mamanya Olaf dalang di balik semua ini?”
“Dia ingin menguasai hartaku, namun dia menggunakan Tania sebagai bonekanya melakukan itu, sayangnya sebelum dia berhasil mencapai apa yang dia inginkan, aksinya sudah aku ketahui.”
“Apakah Mama mengatakan ini hanya mengada-ngada saja?”
“Apa maksudmu mengada-ada? Mama mengatakan ini serius, Jihan.”
padanya tadi.
****
Tania nampak heran kenapa Olaf mengirimkan pesan singkat padanya, dari pesan itu Olaf meminta agar mereka bertemu nanti malam, padahal nanti malam ia ada janji bertemu dengan Ferdian, sebenarnya Tania sangat penasaran apa yang membuat Olaf sampai mengirimnya pesan seperti ini, apa yang ingin dia sampaikan padanya? Tania menghembsukan napasnya berat, kira-kira ia harus memilih Olaf atau Ferdian ya?
“Bagaimana ini?”
Tania kemudian akhirnya memilih untuk membalas pesan Olaf dan menolak untuk bertemu dengan alasan dia sudah memiliki janji dengan Ferdian, setelah berulang kali mengetikan pesan itu akhirnya Tania memberanikan
diri untuk mengirimkan pesan tersebut pada Olaf. Tidak lama setelah ia mengirimkan pesan itu pada Olaf, Ferdian menelponnya, Tania segera menjawab telepon dari pria itu.
“Halo?”
“Tania, aku ingin minta maaf padamu.”
“Minta maaf? Kenapa memangnya?”
“Begini, nanti malam sepertinya kita tidak dapat bertemu, aku harus bertemu dengan kedua orang tuaku untuk membahas soal perceraianku dengan Jihan, aku minta maaf, ya?”
__ADS_1
“Oh begitu rupanya, aku tidak masalah kok.”
“Namun aku janji, lain kali aku pasti akan mengajakmu makan malam lagi.”
“Sudahlah, kamu tidak perlu merasa bersalah begitu, ya?”
“Baiklah, aku tutup dulu teleponnya, ya?”
“Iya, baiklah.”
TUT
Akhirnya telepon pun ditutup, Tania menatap pesan yang sudah ia terlanjur kirim pada Olaf, ia ingin kembali membalas pesan Olaf namun ia mengurungkan niatannya itu.
****
Olaf nampak kecewa dengan balasan yang diterima oleh Tania, namun entah kenapa ia tergelitik untuk menelpon Tania saat ini, ia ingin mendengar secara langsung apa alasan Tania menolak makan malam dengannya, Olaf
pun memberanikan diri menelpon Tania dan tidak lama kemudian akhirnya Tania menjawab telepon darinya.
“Halo?”
“Tania, bolehkah aku bicara sesuatu padamu?”
“Baiklah, ada apa memangnya?”
“Katakan sejujurnya padaku, kenapa kamu tidak mau aku ajak makan malam.”
“Itu …..”
“Sebab kamu sudah memiliki janji dengan pria itu?”
“Apa?”
“Sudahlah Tania, kamu tidak perlu mencoba menutupinya, katakan saja kalau memang kamu sudah ada janji dengan pria itu.”
“Sejujurnya tadi memang aku sudah memiliki janji dengan dia, namun saat ini dia membatalkannya karena ada urusan mendadak, aku tidak jadi pergi dengan dia malam ini.”
“Benarkah? Lalu kenapa kamu mengatakan padaku lewat pesan bahwa kamu tidak dapat pergi?”
“Itu karena sebelumnya dia belum menelponku, dia baru saja memberikan kabar setelah aku mengirimkan pesan balasan untukmu.”
“Jadi malam ini kamu tidak ada acara?”
“Begitulah.”
__ADS_1
“Baiklah, bagaimana kalau nanti malam kita pergi bersama?”
“Baiklah.”