Berkah Cinta

Berkah Cinta
Aku Akan Membuatmu Menderita


__ADS_3

Jihan mendapatkan peringatan keras dari Handi bahwa jangan pernah mencoba mencelakai Tania lagi, Jihan nampak hanya menganggukan kepala dan setelah Handi pergi kini Jihan mencak-mencak, ia benar-benar benci


pada Tania, ia bersumpah akan membuat Tania sengsara sepanjang hidupnya karena telah memperlakukannya seperti ini.


“Nak, apakah kamu baik-baik saja?” tanya Ester.


“Apakah Mama ini sedang bercanda? Mama bilang aku baik-baik saja?” tanya Jihan.


“Mama tahu kamu kesal dengan papamu, namun bersabarlah,” ujar Ester.


“Semua karena gadis itu, aku ingin sekali dia segera meninggalkan dunia ini selama-lamanya,” ujar Jihan.


“Kamu tenang saja sayang, Mama sudah menyusun rencana untuk itu.”


“Benarkah? Apakah rencana Mama kali ini tidak akan gagal?”


“Berani sekali kamu mengatakan hal itu pada Mama.”


“Aku minta maaf, aku berkata begitu karena rencana Mama kadang-kadang gagal.”


“Sudahlah, jangan membuat Mama kesal dengan meledek Mama seperti itu.”


Jihan masuk ke dalam kamarnya sementara itu Ester meraih ponselnya, ia nampak menelpon seseorang, ia mengatakan bahwa sudah saatnya saat ini mereka bertindak.


*****


Olaf baru saja tiba di rumahnya dan rupanya ketika ia tiba di rumah, kedua orang tuanya sudah tiba di rumah, Olaf hanya dapat menghela napasnya berat ketika sang mama memintanya untuk datang menghampirinya.


“Nak, ke sini.”


“Ada apa, Ma?”


“Bagaimana kabarmu?”


“Seperti yang Mama lihat, apakah aku tidak baik-baik saja?”


“Kamu masih saja seperti itu.”


“Kenapa kamu tidak menjemput Mama dan Papa di Bandara?” tanya sang papa.


“Bukankah sudah ada Juan dan Sisil? Kenapa aku juga harus ikut menjemput kalian ke Bandara?”


Sang papa nampak kesal dengan ucapan Olaf, namun istrinya berusaha menenangkan sang suami, Olaf mengatakan bahwa saat ini ia lelah dan ingin mandi lalu bersitirahat di kamar.

__ADS_1


“Ya ampun, aku pikir selama kita tinggal di luar negeri sikapnya akan berubah, namun dia tetap saja seperti itu.”


“Sudahlah Pa, Olaf memang seperti itu namun dia menjalankan tugasnya dengan baik di perusahaan.”


“Iya Mama memang benar soal itu.”


Olaf sudah berada di dalam kamarnya, ia jadi teringat pertemuannya dengan Tania yang tidak disengaja, ia nampak tersenyum ketika melihat deretan angka di layar ponselnya, tadi dengan sedikit paksaan Olaf akhirnya bisa mendapatkan nomor Tania dan ia sudah berjanji pada gadis itu untuk segera menghubunginya nanti.


“Baiklah, aku akan segera mandi dan menghubunginya.”


*****


Tania sedang membersihkan perabotan rumah di ruang tengah, secara tidak sengaja ia mendengarkan percakapan antara Ester dengan seseorang lewat telepon, awalnya Tania tidak berniat untuk menguping terlalu jauh mengenai apa yang saat ini sedang Ester bicarakan di telepon, namun ada sesuatu hal yang membuat Tania jadi mengurungkan dirinya untuk pergi karena mendengar perkataan Ester yang mengungkit soal kedua orang tuanya yang sudah meninggal.


“Tidak waras katamu? Apakah kamu lupa dengan yang terjadi pada Bima dan Hanum?”


......


“Aku tahu, namun Handi sudah benar-benar membuatku muak, belakangan ini sikapnya membuatku tidak tahan lagi dengannya.”


.....


“Bercerai dengannya katamu? Awalnya juga aku ingin bercerai dengannya namun kalau dipikir-pikir lagi, bercerai dengannya tidak akan membuatku mendapatkan keuntungan lain halnya dengan kalau dia meninggal dunia.”


.......


DEG


Tania terkejut dengan yang dikatakan oleh Ester barusan, tanpa ia sadari rupanya saat ini Tania menjatuhkan kemocengnya hingga menimbulkan bunyi di lantai, Ester nampak terkejut, ia buru-buru mengecek ke arah sumber suara. Tania buru-buru berlari meninggalkan tempat itu sebelum Ester tiba di sana.


“Tidak, sepertinya tadi ada seseorang di sini, namun aku pikir itu hanya halusinasiku saja,” lirih Ester.


****


Tania nampak tidak menyangka bahwa ia akan mendengarkan sesuatu yang begitu membuatnya terkejut, bagaimana mungkin kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya itu ternyata adalah ulah Ester? Kenapa wanita itu sangat jahat pada kedua orang tuanya hingga tega melakukan hal keji itu?


“Tania, kenapa kamu hanya diam saja di situ?”


Tania terkejut ketika Ester memanggil namanya, Tania buru-buru berdiri dan menundukan kepalanya, Ester nampak melipat kedua tangannya dan menatap tajam Tania.


“Maaf Nyonya.”


“Kembali bekerja dan jangan malas-malasan.”

__ADS_1


Ketika Ester hendak pergi meninggalkan Tania, gadis itu mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia tanyakan padanya, Ester pun memberhentikan langkah kakinya dan kembali berbalik badan menatap Tania.


“Memangnya apa yang hendak kamu tanyakan padaku?” tanya Ester angkuh.


Tania nampak hanya menatap Ester saja, lidahnya mendadak kelu dan ia tidak dapat menanyakan apa yang sebenarnya ingin sekali ia dengar secara langsung dari mulut wanita ini, apakah benar kalau Ester yang


telah membunuh kedua orang tuanya?


“Kenapa kamu hanya diam saja? Kamu sudah membuang waktuku!” seru Ester kesal dan kemudian wanita itu berjalan menjauhi Tania.


Tania hanya dapat menghela napasnya berat dan menundukan kepalanya, kenapa rasanya sulit sekali bagi dirinya bertanya hal itu pada Ester?


“Apakah mungkin dia yang membuat papa dan mama meninggal?”


*****


Jihan mendatangi kamar Tania, ia nampak langsung meraih ponsel Tania dan mencoba mencari kontak Olaf di ponsel itu dan rupanya ia akhirnya menemukan apa yang ia cari, Tania yang kembali ke kamarnya nampak


terkejut ketika Jihan ada di kamarnya dan saat ini tengah menggenggam ponselnya.


“Apa yang Nona lakukan di kamar saya?”


“Itu bukan urusanmu.”


“Bukannya tidak sopan memasuki kamar orang lain tanpa izin apalagi menyentuh barangnya?”


Jihan pun emosi dengan ucapan Tania barusan, Jihan mengatakan bahwa Tania tidak seharusnya mengatakan hal seperti itu.


“Apakah kamu lupa kamu hanya pembantu di rumah ini, aku adalah pemilik rumah ini, wajar kalau aku keluar masuk kamarmu.”


“Namun apakah hal itu dapat dibenarkan?”


“Sejak kapan kamu jadi berani menantangku?”


Tania meminta Jihan mengembalikan ponselnya, namun Jihan menolak bahkan ia sengaja membanting ponsel itu ke lantai hingga membuat ponsel itu hancur, tidak hanya itu Jihan pun menginjak-injak ponsel itu.


“Rasakan itu.”


“Apa yang sudah Nona lakukan?”


“Kamu yang memulai semuanya, maka itu adalah balasannya.”


Tania nampak berusaha memungut ponselnya yang sudah rusak, namun ia melihat Jihan saat ini tengah meraih foto masa kecilnya dengan kedua orang tuanya, dan tanpa perasaan Jihan merusak foto itu.

__ADS_1


“Tidak! Jangan lakukan itu!” seru Tania mendorong tubuh Jihan hingga ia jatuh dan kepalanya membentur ujung tempat tidur.


“Ada apa ini?” tanya Ester yang datang setelah mendengar keributan.


__ADS_2