
Walaupun Ester meyakinkan dirinya tidak akan masuk penjara, namun ia masih saja tetap gelisah dengan ancaman Handi itu, ia jadi berpikir bagaimana kalau Handi tidak main-main dengan ancaman yang dibuatnya maka sudah dapat dipastikan kalau ia akan membusuk di penjara.
“Tidak, aku tidak akan masuk penjara hanya karena masalah spele ini, aku tidak akan dipenjara!”
Ester nampak kehilangan akal sehatnya saat ini, ia kemudian menuju kamar Tania, Tania yang sedang ada di kamarnya nampak terkejut ketika melihat Ester masuk ke dalam kamarnya dan wajah wanita itu nampak
memerah menahan amarah.
“Nyonya?”
“Kamu, bagaimanapun juga jangan sampai Handi melaporkanku ke polisi karena aku tidak akan mau masuk penjara!”
“Saya mengerti Nyonya.”
“Baguslah kalau kamu mengerti apa yang aku inginkan, aku harap kamu dapat kooperatif dan menjalankan apa yang aku perintahkan.”
Setelah mengatakan itu Ester pergi dari kamar Tania, gadis itu nampak menghembuskan napasnya lega karena kini Ester sudah pergi namun ia masih teringat dengan ancaman Ester barusan bahwa ia harus menghentikan Handi agar Ester tidak mendekam di penjara.
“Apa yang harus aku lakukan saat ini?” lirih Tania.
Saat ini Tania keluar dari dalam kamarnya dan kemudian pergi menuju ruangan kerja Handi, nampak tidak ada siapa pun di sana, karena tidak melihat sekitar ia sampai terkejut ketika salah seorang asisten rumah tangga bertanya padanya.
“Nona Tania, apa yang Nona lakukan di sini?”
****
Sementara itu Jihan sedang menunggu seseorang di sebuah restoran mewah, Ester berpesan padanya bahwa ia harus datang ke restoran ini untuk bertemu dengan pria yang sudah dijodohkan olehnya itu. Jihan awalnya tentu saja menolak namun karena Ester mengancam akan memutus aliran dana dari kartu kredit maka Jihan terpaksa harus mengikuti apa yang diinginkan oleh Ester ini.
“Kamu sudah datang rupanya,” ujar pria itu yang sudah duduk di kursi yang ada di depannya.
“Kamu sudah membuang waktuku selama 15 menit lebih, kamu pikir 15 menit itu bukan waktu yang berharga apa?”
“Ada apa denganmu? Kenapa begitu sensi sekali?”
“Aku benci karena mamaku menyuruhku datang menemuimu di restoran ini, padahal siang ini aku ada janji dengan teman-temanku, namun terpaksa aku harus membatalkannya demi pertemuan konyol ini.”
“Kamu pikir aku tidak membuang waktuku untuk bertemu denganmu? Aku harus memangkas waktuku bersama kekasihku karena harus bertemu denganmu.”
“Tunggu dulu, kamu bilang apa tadi? Kamu sudah punya kekasih?”
“Iya, aku sudah punya kekasih, jadi jangan berharap banyak padaku, apakah kamu mengerti?”
“Sepertinya kita sama-sama tidak menginginkan perjodohan konyol ini.”
****
Ketika Handi pulang bekerja, Ester mendesak agar Tania berbicara pada suaminya agar jangan sampai Handi melaporkan Ester ke polisi karena kalau tidak maka Tania akan merasakan akibatnya kalau berani melawannya.
__ADS_1
“Om.”
“Ada apa Tania? Apakah ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?”
“Iya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dan ini menyangkut tentang apa yang Om katakan pagi tadi.”
“Pagi tadi? Yang mana?”
“Soal Om akan melaporkan orang yang sudah menculikku.”
“Oh soal itu, memangnya kenapa Tania? Apakah ada masalah?”
“Hum, soal itu ....”
“Kenapa? Katakan saja padaku dan kamu tak perlu ragu.”
“Begini Om, aku... ingin agar Om tidak melaporkan masalah ini pada polisi.”
“Apa maksudmu Tania? Kenapa kamu mengatakan hal itu?”
“Anu... Om ....”
“Jangan bilang semua ini karena Ester.”
“Bukan kok.”
“Kalau iya aku yang mengancamnya, kamu akan buat apa?”
“Ester! Sudah aku katakan padamu, jangan pernah mengancam Tania lagi, kenapa kamu masih saja melakukannya?”
“Kenapa aku melakukannya? Bukankah kamu yang memaksaku untuk melakukannya, maka jangan salahkan aku jika dia akan menderita kalau kamu masih akan tetap saja melaporkanku ke polisi.”
“Om... Tania mohon,” ujar Tania.
“Kamu dapat dengar sendiri apa yang dia katakan bukan?”
*****
Jihan baru saja pulang dan ia langsung ditarik oleh Ester masuk ke dalam kamar, Ester nampak begitu penasaran apa saja yang Jihan dan pria itu bicarakan, Jihan mengatakan bahwa ia tidak menyukai pria itu dan ia ingin perjodohan ini segera dibatalkan.
“Apa-apaan kamu? Bukankah Mama sudah pernah mengatakannya padamu untuk tidak bicara sembarangan?”
“Ma, aku dan dia sama-sama tidak mencintai, kami memiliki tujuan hidup yang berbeda, bukankah kalau dipaksakan malah akan buruk?”
“Kamu pikir Mama dan Papamu menikah itu atas dasar cinta? Tapi nyatanya kami masih bersama sampai saat ini kan?”
“Namun Papa dan Mama tidak pernah rukun dan aku tidak mau itu.”
__ADS_1
“Jihan, sudahlah Mama sedang tidak ingin berdebat denganmu, ikuti saja apa yang Mama katakan, ok? Dan semua akan baik-baik saja.”
“Ma, namun aku tidak mau melakukannya.”
“Kalau kamu tidak mau melakukannya, bukankah kamu sudah tahu hal buruk apa yang akan terjadi selanjutnya?”
“Mama selalu saja begitu.”
“Mama melakukan ini demi kebaikan kamu.”
“Kebaikan? Sudahlah, aku lelah.”
Jihan kemudian keluar dari kamar itu dan ia sempat berpapasan dengan Handi namun Jihan sama sekali tidak menyapa sang papa dan terus berjalan menuju kamarnya, Handi dapat merasakan bahwa saat ini Jihan pasti baru saja bertengkar dengan Ester lagi.
*****
Tania sedang menyiram tanaman di taman depan rumah, saat ia tengah menyiram tanaman itu, nampak sang asisten rumah tangga membawa dua buah kantung berisi sampah, sontak saja Tania langsung mengambil sampah
tersebut walaupun sang asisten rumah tangga menolaknya.
“Nona Tania tidak perlu melakukannya, Bibi bisa sendiri.”
“Sudahlah Bi, tidak masalah, toh juga aku dapat melakukannya kok.”
Tania pun membuang sampah tersebut ke luar rumah, sesaat setelah ia membuang sampah itu ke tempat sampah yang ada di dekat luar rumah, tatapannya tertuju pada sosok pria yang tengah berolahraga sore di jalan dekat rumah, kalau Tania perhatikan wajahnya sepertinya wajah pria itu tidaklah asing, Tania masih meraba-raba di mana sepertinya mereka berdua pernah bertemu sebelumnya, di saat itulah sosok pria itu berlari melewati depan rumah dan pandangan mereka bertemu, pria itu menghentikan langkah kakinya dan berjalan menghampiri Tania.
“Kamu... bukankah kita sudah pernah bertemu sebelumnya?”
“Apa? Oh... iya... kita pernah bertemu sebelumnya.”
“Apakah kamu tinggal di sekitar sini?”
“Iya, begitulah.”
“Apakah ini rumahmu?”
“Iya, ini... tempat tinggalku.”
“Wah ternyata tidak aku sangka kalau kita bertetangga, ya.”
Tania tidak berani menatap wajah pria ini, ia terus saja menundukan kepalanya hingga membuat pria itu heran dengan sikap Tania ini.
“Kenapa kamu tidak mau menatap wajahku, apakah di wajahku ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Tidak ada kok, aku permisi dulu.”
“Tunggu dulu, kita belum berkenalan bukan? Namaku Olaf,” ujar pria bernama Olaf itu menyodorkan tangannya pada Tania.
__ADS_1
“Aku... aku ....”