
Akhirnya saat ini hari pernikahan antara Jihan dan Ferdian akan segera dilangsungkan, drama perceraian antara Ester dan Handi dihentikan untuk sementara waktu untuk mereka berdua fokus pada pernikahan antara Jihan dan Ferdian.
“Kamu nampak cantik sekali hari ini,” ujar Ester memuji penampilan Jihan yang sudah mengenakan gaun pengantinnya.
Jihan sama sekali tidak mengatakan apa pun, wajahnya nampak datar, tidak menampakan ekspresi apa pun, Ester membisikan sesuatu pada Jihan dan hal tersebut membuat Jihan kesal.
“Ma, aku tahu dan Mama tidak perlu sampai berulang kali mengingatkanku akan hal itu.”
“Ya Tuhan sayang, niat Mama itu baik lho.”
“Aku tahu, aku tahu apa yang harus aku lakukan Ma, bisakah Mama mempercayakan semua ini padaku? Aku bukan lagi anak kecil.”
“Baiklah, Mama mengerti namun kamu harus kecilkan suaramu karena banyak orang di sini.”
Setelah mengatakan itu Ester pun pergi meninggalkan Jihan seorang diri yang tengah menunggu sampai acara dimulai, akhirnya acara puncak pun dimulai, Handi menggandeng tangannya menuju altar di mana Ferdian
sudah menunggunya di sana, pria itu nampak tampan dan gagah dengan stelan jas yang dikenakan olehnya memiliki warna senada dengan gaun yang dikenakan oleh Jihan.
*****
Sementara itu saat ini Minanti baru saja tiba di Bandara dan disambut oleh Bram, Juan dan juga Felli, Minanti baru menyadari di mana keberadaan Olaf saat ini? Kenapa Olaf tidak datang untuk menjemputnya di Bandara? Apakah Bram tidak memberitahu Olaf bahwa hari ini ia akan datang?
“Di mana Olaf? Kok dia tidak ada bersama kalian?”
“Dia harus pergi ke kantor karena sebuah urusan mendadak.”
“Apa? Ya Tuhan, aku merasa sedih sekali karena dia tidak dapat menjemputku.”
“Namun kan ada aku yang menjemput Mama,” ujar Juan memeluk Minanti.
“Iya, Mama tahu, terima kasih karena kamu sudah mau menjemput Mama.”
“Kalau begitu lebih baik kita langsung masuk ke dalam mobil.”
Maka kemudian mereka masuk ke mobil masing-masing, Bram dan Minanti sementara Juan dan istrinya, di dalam mobil Bram bertanya pada Minanti mengenai kabar Tania, kenapa wanita itu tidak juga kembali ke Indonesia bersama dengan Minanti.
“Aku sudah mengatakannya padamu lewat telepon, ada beberapa hal yang perlu ia urus sampai ia dapat kembali ke Indonesia.”
“Benarkah? Ya ampun, apakah hal itu akan lama?”
“Aku tak tahu, namun semoga saja semua urusannya dapat selesai dengan waktu yang cepat hingga ia dapat kembali ke Indonesia.”
“Aku berharap begitu.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan Olaf? Apakah dia terus menerus menanyakan bagaimana kabar Tania?”
****
Di rumah itu, nampak Stefani menyambut kepulangan Minanti, Minanti nampak terkejut dan senang karena Stefani datang untuk menyambut kepulangannya dari Seoul, kini dua wanita itu sudah duduk di sofa dan mengobrol mengenai apa saja yang Minanti lakukan di Seoul, Stefani nampak begitu antusias mendengar cerita Minanti hingga Bram yang ikut duduk di sana diacuhkan.
“Ya Tuhan, kalau kalian sudah berbincang pasti aku akan dilupakan begitu saja.”
“Aduh sayang, kamu jangan begitu.”
“Iya Om, kalau Om mau ikut dalam obrolan kami, kami sama sekali tidak keberatan.”
“Aku saja tidak tahu apa yang sedang kalian bicarakan, lebih baik aku pergi dulu.”
Maka setelah Bram sudah pergi, Olaf muncul dari pintu utama rumah, pria itu menghampiri Minanti dan memeluk sang mama, Minanti sendiri nampak membalas pelukan Olaf, ia begitu rindu pada putranya ini.
“Bagaimana kabarmu, Nak?”
“Seperti yang Mama lihat saat ini, aku baik, aku minta maaf karena tadi tidak dapat menjemput Mama di Bandara karena ada urusan mendadak.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf sayang, papa sudah menjelaskan semuanya.”
“Ngomong-ngomong di mana Tania?”
Mendengar nama Tania, ekspresi Stefani berubah, ia memasang wajah masam ketika Olaf menanyakan Tania di depannya, namun wanita itu sepertinya dapat menyembunyikan raut wajahnya dengan baik ketika Minanti menatap ke arahnya.
*****
“Mama tidak salah dengar, memang seperti itu, Stefani menyatakan cinta padaku.”
“Lalu bagaimana tanggapanmu?”
“Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak berharap terlalu besar padaku, aku sama sekali tidak memiliki perasaan padanya.”
“Begitu rupanya, lantas apa reaksinya?”
“Reaksinya seperti yang sudah Mama ketahui, dia tidak terima dan mencak-mencak.”
“Ya Tuhan.”
“Mama harus percaya padaku, aku sama sekali tidak sedang mengarang cerita saat ini.”
“Mama mengerti sayang.”
__ADS_1
“Aku mohon tolong berikan pengertian pada Stefani bahwa cinta itu adalah sesuatu hal yang tidak dapat dipaksa.”
“Mema mengerti sayang.”
“Baiklah kalau begitu, aku mau masuk ke kamarku dulu.”
“Tunggu dulu, sebelumnya ada sesuatu yang ingin Mama tanyakan padamu.”
“Memangnya apa yang ingin Mama tanyakan padaku?”
“Ini menyangkut soal Tania.”
“Jangan bilang kalau Mama ingin menuduhku menyukai Tania juga?”
“Mama ingin meminta kamu tidak terkejut ketika melihat hasil operasi rekonstruksi wajah yang Tania jalani.”
“Apa? Memangnya operasinya gagal?”
“Nanti juga kamu akan tahu sendiri.”
****
Malam ini adalah malam pertama untuk Jihan dan Ferdian, Jihan dan Ferdian sudah duduk di tepian kasur saat ini dengan pakaian yang mereka kenakan masih sama seperti saat acara resepsi berlangsung tadi, suasana hening tercipta di antara mereka berdua, baik Ferdian maupun Jihan memilih untuk diam.
“Bagaimana perasaanmu saat ini?”
“Entahlah, aku sendiri tidak mengerti apa yang aku rasakan saat ini.”
“Kalau kamu keberatan untuk kita tidur bersama, aku akan tidur di kursi saja.”
“Kenapa? Bukankah ini adalah kesempatanmu untuk malam pertama?”
“Kamu pikir aku ini pria hidung belang apa?”
Ferdian nampak kesal dengan ucapan Jihan barusan, ia melepaskan jas yang sejak tadi ia kenakan dan kemudian pergi ke kamar mandi, sementara itu Jihan menghapus riasan make up yang sejak tadi menutupi wajahnya,
tidak lama kemudian Ferdian sudah keluar dari kamar mandi dan kini giliran Jihan untuk membersihkan dirinya, namun Jihan masih saja menatap pantulan dirinya di depan cermin.
“Apakah menurutmu aku ini kurang cantik?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Tania, dia tidak lebih cantik dariku, namun kenapa dia bisa memikat Olaf?”
__ADS_1
“Mana aku tahu, kamu tanyakan saja hal itu padanya.”
“Aku tidak bisa membiarkan semua ini terjadi, Tania aku bersumpah kamu tidak akan mendapatkan Olaf,” ujar Jihan seraya menatap pantulan dirinya di depan cermin saat ini.