
Olaf pun memanggil petugas hotel dan menanyakan apa maksud dari semua ini, namun petugas hotel tersebut mengatakan bahwa mereka tidak tahu apa pun mengenai hal ini. Olaf tentu saja geram mendengar jawaban
dari petugas hotel yang menatakan mereka tidak tahu apa pun mengenai hal ini padahal harusnya mereka bertanggung jawab penuh atas keamanan tamu mereka di kamar ini. Sebagai solusi pihak hotel pun memberikan keleluasaan bagi Tania dan Olaf untuk pindah kamar, karena tidak ingin memperpanjang masalah, maka Tania
pun setuju agar mereka dapat pindah dari kamar itu.
“Aku tidak mengerti kenapa mereka menanggapi keluhan kita seperti itu,” ujar Olaf yang masih emosi dengan apa yang baru saja terjadi.
“Sudahlah, aku tidak mau memperpanjang masalah ini, lagi pula kita semua sudah melihat rekaman kamera CCTV tadi, dan mereka tidak berbohong ketika mengatakan kalau kameranya rusak.”
“Justru apakah itu menurutmu tidak aneh? Bagaimana bisa mereka membiarkan kamera CCTV rusak? Bagaimana kalau ada kejahatan seperti yang tadi kita alami?”
“Sudahlah Olaf, lebih baik kita sudahi saja perdebatan hari ini.”
*****
Setelah bulan madu selama beberapa hari di hotel itu, kini Olaf dan Tania pulang ke rumah mereka yang baru, rumah yang dibeli oleh Olaf dari uangnya sendiri ini sudah diisi oleh beberapa perabotan yang ia pesan
sebelumnya.
“Bagaimana menurutmu rumah ini?”
“Bukankah sebelumnya kamu sudah pernah membawaku ke sini? Kenapa kamu malah bertanya lagi?”
“Aku kan hanya ingin meminta pendapatmu soal rumah ini setelah perabotannya datang.”
“Rumah ini nyaman untuk ditinggali, apakah kamu puas?”
Olaf tersenyum dan kemudian ia mendekatkan wajahnya namun Tania langsung menahan kepala Olaf agar tidak terlalu dekat dengannya.
“Ada apa?”
“Kamu pikir aku tidak tahu apa yang hendak kamu lakukan padaku?”
Olaf tertawa mendengar ucapan Tania barusan, kini Tania mengatakan bahwa ia akan menyiapkan makan siang untuk mereka namun Olaf mengatakan bahwa mereka lebih baik pesan makanan secara online saja.
“Tidak, aku tidak mau pesan makanan secara online, aku ingin masak sendiri.”
“Namun sepertinya di dalam kulkas belum ada bahan makanan.”
__ADS_1
Tania kemudian mengecek kulkas setelah Olaf mengatakan hal tersebut dan memang di dalam kulkas itu tidak banyak pilihan bahan makanan yang dapat ia olah menjadi makanan.
“Lihat? Aku tidak berbohong ketika mengatakan kalau di dalam sana tidak ada bahan makanan, kan?”
“Kamu ini malas sekali kenapa tidak mengisi kulkas ini dengan bahan makanan?”
“Aku kan belum sempat sayang, lagi pula kulkasnya juga baru datang beberapa hari yang lalu.”
*****
Minanti datang ke rumah Olaf dan Tania setelah mendapatkan kabar bahwa mereka berdua sudah pulang dari bulan madu, kedatangan Minanti disambut hangat oleh Olaf dan Tania, Minanti membantu Tania menyiapkan
makanan untuk mereka walaupun Tania sudah melarang Minanti melakukan itu namun tetap saja Minanti melakukannya.
“Sudah aku bilang Mama tidak perlu melakukan ini.”
“Sudahlah Tania, Mama tidak masalah melakukan ini.”
Setelahnya kini mereka bertiga makan di meja makan, obrolan di meja makan pun tercipta dengan hangatnya, Tania dan Olaf menceritakan bagaimana mereka menghabiskan waktu bulan madu singkat mereka.
“Sayangnya kita belum bisa liburan ke luar negeri karena masih banyak hal yang perlu dikerjakan di sini,” ujar Olaf.
“Namun aku tidak masalah soal itu, aku sudah merasa senang dengan bulan madu singkat kita,” ujar Tania.
“Tentu saja.”
Setelahnya makan kini Tania membawa semua piring kotor ke tempat cuci piring, dan lagi-lagi Minanti membantunya padahal Tania sudah mengatakan bahwa Minanti tidak perlu melakukan hal tersebut namun Minanti
mengatakan bahwa ia sama sekali tidak keberatan dengan hal tersebut.
*****
Stefani mendapatkan tuduhan dari Minanti setelah wanita itu pulang ke rumah, tadi di rumah Olaf dan Tania, ia sempat mengobrol dengan Tania mengenai apa yang terjadi di acara bulan madu kedua anaknya itu dan rupanya ada sebuah teror tidak mengenakan. Minanti pun jadi kepikiran bahwa Stefani adalah dalang dari semua ini.
“Mama ini kenapa, sih? Kok pulang-pulang langsung marah-marah dan menuduhku?”
“Aku ingatkan padamu untuk tidak mengusik mereka berdua.”
“Tapi aku tidak melakukan apa pun, Ma.”
__ADS_1
“Apakah kamu pikir aku akan percaya dengan apa yang kamu katakan ini?!”
Bram yang mendengar keributan segera keluar dari kamarnya dan mendapati Stefani dan Minanti tengah bertengkar, entah apa yang saat ini tengah mereka perdebatkan saat ini.
“Ada apa ini?” tanya Bram penasaran.
“Dia ini tidak berubah kelakuannya, masih saja suka mengganggu kehidupan orang lain,” ujar Minanti menunjuk Stefani.
“Kamu ini bicara apa, Minanti?”
“Bram, apakah kamu tahu yang dilakukan oleh wanita ini? Dia sudah merusak acara bulan madu Tania dan Olaf,” jawab Minanti.
“Tidak, semua itu tidak benar, aku tidak melakukan apa pun,” ujar Stefani.
“Cukup Stefani!”
*****
Juan baru saja pulang ke rumah dan ketika ia masuk ke dalam kamar, ia mendapati sosok Stefani sedang duduk di tepian tempat tidur dengan wajah yang ditekuk, Juan sama sekali tidak tertarik bertanya apa yang terjadi pada Stefani saat ini dan rupanya hal tersebut malah membuat Stefani menjadi kesal dengan kelakuan suaminya ini.
“Kamu memangnya tidak melihat kalau aku sedang tidak baik-baik saja saat ini?” tanya Stefani.
“Aku tidak melihatnya,” jawab Juan dengan santainya.
“Kamu ini memang benar-benar, ya! Apakah kamu tahu kalau aku dituduh oleh kedua orang tuamu karena melakukan teror pada Tania dan Olaf?”
“Apa katamu? Kamu melakukan teror pada mereka?”
“Tidak Olaf, aku tidak melakukan itu.”
“Stefani, sekarang aku tanya padamu dan tolong kamu jawab dengan jujur, apakah kamu yang melakukan teror itu?”
“Tidak Juan, aku bukan pelakunya.”
“Baguslah, karena kalau memang kamu pelakunya maka jangan harap setelah anak itu lahir aku akan tetap menjadi suamimu,” ujar Juan dingin lalu ia pergi ke kamar mandi.
Stefani tentu saja berdecak kesal dengan respon Juan ini, Juan yang sekarang sangat berbeda dengan Juan yang dulu begitu jatuh cinta padanya.
“Pria itu benar-benar berubah, namun aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir begitu saja,” lirih Stefani.
__ADS_1
Stefani kemudian meraih ponselnya dan kemudian ia keluar dari dalam kamar untuk menelpon seseorang, namun tentu saja sebelumnya ia harus memastikan terlebih dahulu kalau saat ini kondisinya memang sedang aman dan tidak ada tanda-tanda Juan maupun Minanti saat ini.
“Kenapa kamu keluar kamar?”