
Galang tidak mau menghabiskan waktu terlalu banyak dan ia pun mengatakan sesuatu yang membuat Jihan terkejut bukan main saat pria itu mengatakannya.
“Aku mencintaimu dan aku berharap kita dapat bersama lagi.”
“Apa?”
“Aku tahu ini terdengar klise namun maukah kamu memberikan kesempatan kedua untukku?”
“Galang ….”
“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, kamu dapat menjawabnya nanti ketika kamu sudah siap, namun jangan lama-lama.”
Karena waktu berkunjung sudah habis, maka mau tidak mau kini Galang harus pergi dari tempat ini padahal ia masih ingin berbincang banyak dengan Jihan namun apa boleh buat, peraturan tetaplah peraturan dan semua orang harus menaati peraturan tersebut. Galang melangkahkan kakinya keluar dari tempat itu dan secara tidak sengaja ia berpapasan dengan seseorang dari masa lalunya yang membuat hubungan antara dirinya dan Jihan berakhi.
“Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini.”
Orang itu nampak terkejut dan gugup ketika bertemu kembali dengan Galang, ia tidak menanggapi ucapan Galang dan bergegas masuk ke dalam kantor polisi.
****
Olaf sudah diizinkan pulang ke rumah oleh dokter, tentu saja Minanti dan Bram begitu bahagia karena akhirnya putra mereka dapat kembali ke rumah setelah beberapa hari mendapatkan perawatan serius akibat luka
yang ia derita.
“Syukurlah kalau hari ini dokter sudah mengizinkanmu untuk pulang.”
“Iya, sejujurnya aku sudah bosan ada di rumah sakit dan ingin sekali pulang.”
Olaf sudah tidak sabar untuk mengunjungi Tania lagi, ia tidak akan mempedulikan ancaman Ferdian dan kali ini ia memiliki tekad yang lebih besar agar dirinya dan Tania dapat bersatu. Namun kebahagiaan Olaf itu harus pudar ketika dari jauh ia melihat Tania sedang menemani Ferdian duduk di kursi taman rumah sakit, pria itu dengan sengaja merangkul bahu Tania dan mendekatkan tubuh Tania padanya. Olaf yang melihat itu tentu saja geram dan
hendak menghampiri mereka namun Minanti segera menahan lengannya.
“Olaf, kamu mau pergi ke mana?”
“Aku ingin menghampiri mereka.”
“Jangan buat masalah di sini, ini adalah rumah sakit.”
Olaf menghembuskan napasnya kesal, dari kejauhan Ferdian yang menatapnya nampak menyunggingkan sebuah seringai dan hal tersebut makin membuat kemarahan Olaf sampai ke ubun-ubun.
“Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini,” ujar Minanti membawa Olaf pergi dari rumah sakit sebelum sesuatu hal yang buruk dapat terjadi nantinya.
****
__ADS_1
Tania merasa heran kenapa Ferdian sejak tadi menatap ke belakang dan pria itu nampak menyeringai, Tania yang penasaran kemudian ikut melihat ke arah Ferdian menatap saat ini namun ia tidak menemukan siapa pun di
sana.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa, aku senang karena kamu ada di sini.”
Namun Tania nampak tak percaya begitu saja dengan yang dikatakan oleh Ferdian, ia yakin bahwa sebenarnya pria itu menyembunyikan sesuatu padanya, atau jangan-jangan barusan Olaf melihat mereka?
“Aku harus pergi bekerja sekarang.”
“Baiklah, namun sepulang bekerja kamu harus kembali ke sini.”
“Aku tidak bisa janji soal itu.”
“Tentu saja kamu bisa, kamu kan calon istriku.”
“Namun mamamu tidak menyetujui pernikahan kita.”
“Kamu tidak perlu memikirkan apa yang mama katakan, satu hal yang pasti bahwa kita akan menikah titik.”
Tania menghembuskan napasnya kesal dan kemudian ia pergi meninggalkan Ferdian yang masih duduk di kursi taman rumah sakit itu seorang diri, pria itu nampak masih menyeringai saat Tania pergi meninggalkannya.
Sementara itu Tania sudah masuk ke dalam mobilnya, ia mencari ponselnya di dalam tas tangannya dan setelah ia mendapatkan ponsel tersebut, ia mencari kontak seseorang dan langsung menelponnya.
****
Ketika tiba di rumah, Olaf langsung mengurung dirinya di dalam kamar, bayang-bayang Ferdian yang begitu dekat dengan Tania membayang-bayangi pikirannya saat ini, semakin ia pikirkan maka semakin jengkel pula ia dibuatnya.
“Aku harus mencari cara agar mereka tidak menikah.”
Olaf terkejut ketika mendengar ponselnya berdering, ia meraih benda yang ia taruh di atas nakas itu dengan segera, raut wajahnya berubah saat melihat siapa orang yang menelponnya saat ini, dengan segera ia menjawab panggilan dari orang ini.
“Halo?”
“Kamu masih di rumah sakit?”
“Tidak, aku sudah pulang.”
“Begitu rupanya, aku minta maaf karena tidak bisa hadir tadi.”
“Tidak apa.”
__ADS_1
“Hum, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, namun aku tidak enak mengatakannya.”
“Kamu ingin mengatakan apa? Jangan sungkan padaku.”
“Sebenarnya tadi aku melihat sikap Ferdian agak aneh ketika kami duduk di kursi taman rumah sakit, apakah kamu melihat kami di sana?”
“Soal itu rupanya, iya aku memang secara tidak sengaja melihat kalian ada di sana.”
“Begitu rupanya.”
“Kapan kamu datang ke rumah sakit?”
“Dia memintaku menginap semalam di sana.”
“APA?! Namun dia tidak melakukan sesuatu hal yang buruk padamu, kan?”
“Tidak, dia sama sekali tidak melakukan hal yang buruk padaku.”
“Syukurlah kalau begitu, kalau dia berlaku buruk padamu, kamu segera kabari aku akan kuberi dia pelajaran.”
****
Tania sudah berada di dalam ruangan kerjanya, ia sudah mengganti semua dekorasi ruangan ini menjadi sesuai dengan keinginannya, bahkan ia menaruh foto keluarganya di meja kerjanya agar ketika ia lelah dalam bekerja
nanti ia dapat kembali bersemangat setelah melihat foto kedua orang tuanya yang kini sudah meninggal dunia.
“Pa, sekarang perusahaan ini kembali pada kita.”
Tania mengusap foto mendiang sang papa itu dan kemudian memeluknya, ia membayangkan bahwa saat ini sang papa sedang memeluknya saat ini. Namun baru saja Tania ingin fokus bekerja, ia mendengar suara keributan dari bawah, ia kemudian berjalan ke arah jendela untuk melihat ke bawah ada keributan apa, rupanya di bawah sana ada seorang wanita yang membawa ransel dan berteriak-teriak pada satpam.
“Apa yang terjadi?”
Tania kemudian memanggil sekretarisnya untuk masuk ke dalam ruangan kerjanya, tidak lama kemudian sekretaris itu masuk ke dalam ruangan kerja dan bertanya apa yang dapat ia bantu saat ini.
“Apakah di bawah sedang ada keributan?”
“Iya Nyonya, namun ada tidak perlu khawatir karena petugas keamanan akan melakukan tugasnya dengan baik.”
“Sebenarnya dia kenapa? Sepertinya dia berteriak-teriak di bawah sana? Apa yang dia inginkan?”
“Dia ingin bertemu dengan anda saat ini Nyonya, dia mengancam jika tidak dapat bertemu dengan Nyonya maka dia akan meledakan dirinya di bawah sana.”
“Apa katamu?!”
__ADS_1