Berkah Cinta

Berkah Cinta
Salah Sasaran


__ADS_3

Olaf berniat untuk mengunjungi Tania hari ini lagi, ia tidak peduli jika ia akan bertemu dengan Ferdian dan mereka akan terlibat baku hantam lagi, Olaf bertekad akan memperjuangkan cinta pada Tania dan tidak akan takut dengan pria itu. Ketika pintu lift terbuka, ia dikejutkan dengan pemandangan mengerkan di mana saat ini Ester berusaha menusuk Tania dengan sebuah pisau di tangannya, ketika Ester hendak melakukan penyeranan itu dengan


cepat Olaf berdiri menghalangi Tania yang menutup kedua matanya karena saat ini posisinya sudah terpojok. Dan kejadian tidak diinginkan pun terjadi, Ester yang ingin menusuk Tania justru malah salah sasaran dan Olaf kini menjadi korbannya. Ester tentu saja panik karena ia salah sasaran, ia pun segera melarikan diri.


“Jangan kabur!”


Ester segera menutup pintu lift dengan gugup namun saat ia sampai di lantai dasar, satpam sudah berjaga di depan pintu dan langsung meringkusnya.


“Apa-apaan kalian?! Lepaskan aku!”


“Nyonya lebih baik tidak banyak bicara saat ini.”


****


Minanti dan Bram datang ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon dari Tania bahwa saat ini Olaf menjadi korban penusukan oleh Ester, kedua orang tua Olaf itu nampak begitu khawatir saat mendapatkan kabar tersebut, kini mereka hanya dapat berdoa yang terbaik bagi Olaf.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia sampai bisa ada di sini Tania?” tanya Minanti.


“Tadi… dia berusaha menolongku dari Tante Ester,” jawab Tania.


“Ester? Apa yang wanita itu lakukan padamu?” tanya Bram.


“Dia hendak membunuhku dengan pisau,” jawab Tania.


“Ya Tuhan, sekarang di mana wanita itu?! Aku tidak akan membiarkannya lolos begitu saja setelah yang ia perbuat ini.”


“Dia sudah diintrograsi di kantor polisi.”


“Syukurlah, namun semoga saja kali ini ia tidak akan lolos.”


“Semoga saja begitu.”


Akhirnya dokter yang menangani Olaf keluar dari ruang IGD, dokter mengatakan bahwa luka tusuk Olaf tidak dalam dan tidak sampai mengenai organ pentingnya, semua orang nampak begitu lega mendengar penjelasan dokter tersebut apalagi saat ini kondisi Olaf sudah stabil dan ia dapat dipindahkan ke ruang inap biasa.


“Terima kasih banyak dokter.”


“Saya permisi dulu.”


Kini Tania jadi teringat bagaimana dengan Ferdian? Apakah dia juga baik-baik saja? Tania pun pergi untuk menemui Ferdian yang tadi masih di ruang ICU mengingat pria itu banyak mengeluarkan darah.

__ADS_1


****


Maya nampak tidak suka ketika melihat Tania datang ke ruang ICU, ia menganggap bahwa Tania adalah dalang Ferdian sampai harus masuk ke ruang ICU.


“Mau apa lagi kamu datang ke sini?”


“Saya ingin tahu bagaimana keadaan Ferdian.”


“Apakah kamu sudah puas membuat anakku sekarang sekarat?!”


“Nyonya saya….”


“Kamu pikir aku sudah menyetujui hubungan kalian?! Kamu salah! Sampai saat ini aku tidak menyetujuinya dan bahkan sampai mati pun aku tidak akan pernah setuju dengan hubungan kalian karena kamu sudah membuat


anakku seperti ini!”


“Saya minta maaf, namun semua ini kecelakaan.”


“Kecelakaan katamu?! Enteng sekali kamu mengatakan kalau semua ini kecelakaan!”


“Nyonya saya benar-benar minta maaf, semua ini memang kecelakaan, saya juga benar-benar mengkhawatirkan Ferdian.”


Baru saja Maya hendak mengatakan sesuatu pada Tania, dokter keluar dari dalam ruang IGD dan mereka segera menghampiri dokter untuk bertanya bagaimana kondisi Ferdian terkini.


“Pasien mengeluarkan banyak darah selama perjalanan, namun untungnya saja sekarang semua sudah terkendali, untungnya saja luka tusuk yang ia alami tidak mengenai organ penting dalam tubuhnya dan saat ini pasien sudah perlahan stabil kondisinya.”


“Syukurlah kalau begitu.”


****


Minanti mencari di mana keberadaan Tania saat ini dan akhirnya ia menemukan Tania sedang duduk seorang diri di salah satu kursi yang ada di koridor rumah sakit, Minanti pun duduk di sebelah Tania seraya mengusap pundak Tania, Tania menoleh ke arah Minanti yang sedang tersenyum padanya.


“Nyonya.”


“Ada apa sayang?”


“Aku merasa bersalah pada Olaf dan Ferdian, mereka berdua celaka karena aku.”


“Sudahlah, kamu tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri seperti itu, semua ini musibah dan tidak ada satu pun dari kita yang menginginkan kejadian mengerikan ini terjadi.”

__ADS_1


“Namun kalau saja mereka tidak datang ke apartemenku, maka semua tidak akan terjadi.”


“Lantas apa gunanya kamu mengatakan itu? Bukankah saat ini semuanya sudah terjadi?”


Tania terdiam mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Minanti barusan, Minanti kemudian memeluk Tania untuk menenangkan keresahan yang dirasakan oleh Tania ini.


“Aku tahu kalau kamu saat ini sedang diliputi oleh perasaan bersalah karena sudah membuat Olaf dan Ferdian terluka dan terbaring di rumah sakit, namun aku tidak mau sampai kamu menyalahkan dirimu apalagi menghukum dirimu sendiri karena masalah ini.”


“Nyonya ….”


“Sudahlah, Olaf ingin bertemu denganmu saat ini.”


“Apakah dia sudah siuman?”


“Iya, dia sudah siuman dan dia sedang mencarimu saat ini, lebih baik kita pergi ke sana sekarang.”


****


Tania dan Minanti tiba di ruang inap Olaf, ketika mereka datang saat ini Olaf tengah ditemani oleh Bram, raut wajah Olaf nampak bahagia ketika melihat Tania menjenguknya saat ini.


“Syukurlah kalau kamu sudah siuman,” ujar Tania.


“Bagaimana keadaanmu? Kamu baik-baik saja, kan? Tidak terjadi sesuatu hal yang buruk padamu?”


“Kenapa kamu malah mengkhawatirkanku? Kamu sendiri terluka karena berusaha melindungiku.”


“Aku tidak apa-apa, asal kamu baik-baik saja.”


Tania tidak kuasa membendung air matanya agar tidak tumpah, ia memeluk tubuh Olaf dengan erat dan menumpahkan air mata kesedihannya pada pria itu, Minanti dan Bram nampak berdiri agak jauh dari mereka sambil tersenyum senang melihat keduanya. Namun rupanya di luar ruangan inap Olaf, ada sepasang mata yang memperhatikan Olaf dan Tania yang sedang berpelukan itu, kedua tangannya mengepal dengan kuat dan menatap tajam pada kedua orang tersebut yang sepertinya tidak menyadari kehadirannya.


“Stefani?”


Orang itu terkejut ketika ada seseorang yang memanggil namanya dan ketika ia berbalik badan dan menemukan Juan dan Felli di sana, mereka berdua segera menghampiri Stefani dan bertanya kenapa wanita itu tidak


masuk saja ke dalam.


“Aku harus pergi dulu, permisi.”


Juan dan Felli menatap heran ke arah Stefani yang pergi begitu saja, Felli meminta pada suaminya untuk masuk duluan karena ia ingin membicarakan sesuatu dengan Stefani, Felli berhasil menghadang Stefani sebelum wanita itu masuk ke dalam lift.

__ADS_1


“Minggir.”


“Aku ingin bertanya sesuatu padamu dan aku harap kamu mau menjawabnya dengan jujur.”


__ADS_2