
Tania terkejut ketika Ferdian sudah berada di sampingnya dan pria itu bertanya perihal Olaf, Tania mengatakan bahwa pria tadi bukan siapa-siapa, untungnya saja Ferdian tidak menanyakan perihal pria tadi lebih lanjut, mereka pun kembali masuk ke dalam rumah.
“Tania, aku serius ingin menjalin hubungan dengamu,” ujar Ferdian.
“Apakah kamu yakin?”
“Tatap mataku, apakah kedua mataku berbohong ketika mengatakan itu?”
Tania menatap ke dalam dua mata Ferdian dan ia menemukan bahwa Ferdian mengatakan hal yang sebenarnya, pasti pria ini sudah sangat tergila-gila padanya, Tania hanya tersenyum menanggapi ucapan Ferdian barusan.
“Ferdian, terima kasih karena kamu sudah menyukaiku.”
“Apakah kamu tidak dapat membalas perasaanku?”
“Bukannya aku tidak bisa, hanya saja kamu bisakah tolong berikan aku waktu untuk memikirkan semua ini? Maksudku… bukankah menurutmu hal ini terlalu cepat?”
Ferdian menghembuskan napasnya berat, apa yang Tania katakan memang ada benarnya juga, mereka masih terlalu dini dalam mengenal satu sama lain dan Ferdian sudah mengutarakan perasaan sukanya pada wanita ini.
“Baiklah, kamu memang benar soal ini, aku akan memberikan waktu untuk kamu dapat memikirkan semua ini.”
“Terima kasih.”
****
Mood Olaf seketika buruk saat melihat Tania dan Ferdian berduaan di rumah tadi, entah kenapa ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya saat melihat kedekatan kedua orang itu, apakah memang saat ini merasakan yang namanya cemburu?
“Kak, kamu sepertinya tidak dalam keadaan mood yang baik,” ujar Juan.
“Kenapa kamu mengatakan hal tersebut?”
“Karena itulah yang aku lihat saat ini.”
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak, raut wajahmu tidak dapat berbohong, kamu boleh saja mengatakan bahwa saat ini kamu baik-baik saja, namun sayangnya kamu tidak pandai dalam berdusta.”
Olaf menghela napasnya panjang, ia kemudian meminta Juan menggantikannya dalam negosiasi dengan rekan bisnis mereka yang baru, Juan pun menerima permintaan Olaf itu karena kalau Olaf memaksakan diri untuk bertemu dengan rekan bisnis mereka, sudah pasti tidak akan ada kerja sama di antara kedua perusahaan tersebut.
“Baiklah, aku mengerti.”
“Terima kasih, maaf kalau aku harus merepotkanmu.”
“Sama sekali tidak, kok.”
Juan pun kemudian keluar dari ruangan kerja Olaf, ia mengatakan pada sekretaris Olaf bahwa dirinya yang akan bertemu dengan calon rekan bisnis perusahaan dan ia juga yang akan bernegosiasi dengan mereka.
__ADS_1
“Baik Tuan Juan.”
“Baiklah, saya pergi dulu.”
Juan hendak kembali ke ruangan kerjanya ketika ponselnya berdering, ia melihat ada nama Stefani di sana, ia nampak begitu penasaran kenapa sampai Stefani menghubunginya saat ini.
“Kenapa dia menghubungiku, ya?”
****
Handi tiba di rumah, ia menemukan Tania sedang termenung seorang diri di ruang tengah, Handi pun pergi menghampiri Tania dan menanyakan pada wanita ini apa yang saat ini terjadi, Tania nampak terkejut dengan kedatangan Handi karena terlalu fokus melamun hingga akhirnya ia tidak menyadari bahwa Handi saat ini sudah pulang.
“Om sudah pulang?”
“Iya Tania, kamu tidak perlu merasa terkejut begitu.”
“Maaf, aku tidak tahu kalau Om sudah pulang.”
“Sudahlah, tidak apa-apa, namun kalau dari yang Om lihat saat ini sepertinya kamu sedang ada masalah, ya?”
“Maksud Om?”
“Bukannya Om bermaksud sok tahu atau sebagainya Tania, hanya saja… kalau sepengelihatan Om sepertinya kamu saat ini sedang mengalami sesuatu.”
Tania menghela napasnya berat, apakah ia harus menceritakan masalahnya pada Handi? Namun ia menggelengkan kepalanya, Handi tidak boleh sampai tahu apa yang terjadi saat ini.
“Kamu yakin? Mungkin Om tidak akan dapat memberikan saran yang baik untuk masalahmu, namun setidaknya kalau kamu bercerita mungkin saja hal tersebut akan mengurangi beban pikiranmu.”
“Sungguh, aku baik-baik saja, kok.”
“Baiklah kalau memang begitu, Om percaya padamu.”
Handi kemudian pergi ke kamarnya meninggalkan Tania, sepeninggal Handi kini Tania merasa bersalah pada pria itu, ia merasa bersalah karena sudah tidak jujur pada Handi yang sudah sangat baik padanya.
****
Ketika Ferdian pulang, Jihan langsung menyambutnya dengan omelan, ia tidak terima kalau Ferdian menjalin hubungan dengan Tania, namun Ferdian mengatakan bahwa ia tidak peduli dengan apa yang Jihan katakan,
ia tetap akan menjalin hubungan dengan Tania.
“Aku tidak peduli dengan semua yang kamu katakan Jihan, aku mencintai Tania.”
“Kamu sudah dibutakan oleh wanita itu, dia bukan wanita baik-baik.”
“Dan apakah menurutmu kamu adalah wanita baik-baik?”
__ADS_1
“Apa katamu?”
“Jangan menuduh seseorang tidak baik kalau kamu sendiri tidak baik, Jihan.”
“Berani sekali kamu mengatakan itu padaku!”
“Tentu saja aku berani mengatakan itu padamu, memangnya kenapa kamu sampai marah begini? Bukankah sejak awal aku sudah mengatakan bahwa pernikahan kita hanya sebatas formalitas belaka? Kalau kamu ingin menyudahi sandiwara menyebalkan ini, maka aku sangat senang karena aku akhirnya tidak perlu berlakon baik-baik saja di depan orang tua kita.”
“Jadi kamu ingin kita berdua berpisah begitu?”
“Bukannya aku yang menginginkan itu, namun kamu yang menginginkan semua itu, Jihan.”
“Tidak Ferdian, kamu yang menginginkan itu, kamu ingin kita berpisah agar kamu dapat leluasa menemui Tania, bukan begitu?”
“Sekarang aku bertanya padamu, apakah kamu mencintaiku?”
“Apa?”
“Kalau kamu tidak mencintaiku, kenapa kamu harus mengurusi masalah pribadiku? Urus saja masalah pribadimu, mengerti?”
****
Jihan tidak dapat menahan dirinya lagi untuk tidak mengatakan hal ini pada Handi, ia akan buktikan pada Tania bahwa ia akan menjadi mimpi buruk untuk wanita itu, ia tidak akan membiarkan Tania mencuri Ferdian darinya, tidak akan pernah. Jihan akhirnya tiba di depan rumah Handi, ia langsung mengetuk pintu rumah sekuat tenaga hingga akhirnya asisten rumah tangga membukakan pintu untuknya.
“Di mana papaku?”
“Tuan Handi ada di ruangan kerjanya.”
Jihan kemudian segera pergi menuju ruangan kerja Handi, ia langsung membuka pintu tersebut dan membuat Handi yang ada di dalam ruangan kerja itu terkejut dengan kedatangan Jihan yang tidak ia sangka sebelumnya.
“Jihan? Ada keperluan apa kamu ke sini, Nak?”
“Aku datang ke sini untuk mengatakan sesuatu hal yang penting pada Papa dan aku harap Papa mempercayai apa yang aku katakan ini.”
“Katakan saja, apa yang sebenarnya kamu ingin katakan pada Papa.”
“Sebenarnya apakah Papa tahu yang dilakukan oleh Tania selama ini?”
“Kenapa memangnya kamu menanyakan hal itu?”
“Pasti Papa tidak tahu bahwa selama ini dia itu adalah wanita penggoda.”
“Jihan, jaga ucapanmu, Tania bukanlah wanita begitu.”
“Lihat? Papa saja membelanya.”
__ADS_1
“Itu semua karena kamu selalu membicarakan omong kosong Jihan!”
“Tapi apa yang aku katakan kali ini adalah fakta, dia berselingkuh dengan suamiku!”