Berkah Cinta

Berkah Cinta
Cerita Pada Dia


__ADS_3

Ricky rupanya sejak tadi menjadi tidak fokus dalam bekerja karena ia begitu penasaran dengan apa yang saat ini tengah Felli dan Olaf bicarakan, ia merasa heran kenapa saat ini Felli nampak menangis di hadapan Olaf, apakah pria itu sudah berbuat kasar padanya?


“Hei, kenapa kamu hanya diam saja di sini?” tanya Nanda yang membuat Ricky terkejut.


“Apa? Oh, maafkan aku,” ujar Ricky yang kemudian kembali bekerja setelah mendapatkan teguran dari Nanda.


Kini Nanda yang menatap ke arah Felli dan Olaf, ia benar-benar penasaran apa yang saat ini tengah kedua orang itu bicarakan, tidak lama kemudian nampak Olaf pamit untuk pergi dan kemudian pria tersebut keluar dari café ini meninggalkan Felli yang tengah menyeka air matanya yang tadi sempat tumpah akibat pembicaraannya dengan Olaf barusan. Kini Nanda yang menghampiri Felli dan duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh Olaf, Felli


sendiri nampak terkejut dengan kedatangan Nanda sedangkan ia sendiri masih sibuk menyeka air matanya yang tumpah tadi.


“Apa yang tadi kalian berdua bicarakan?”


“Bukan apa-apa.”


****


Tania merasa bimbang apakah ia harus menyerahkan semua bukti yang ia miliki ini pada kejaksaan namun tentu saja kalau ia melakukan hal tersebut akan ada risiko besar yang harus ia hadapi, mereka bukanlah orang


sembarangan dan pasti mereka akan melakukan segala cara untuk membuat Tania bungkam dan tidak mengatakan apa pun pada kejaksaan.


“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan saat ini?”


Ketika Tania sedang tidak fokus untuk bekerja karena adanya dokumen mengenai siapa saja orang yang membuat masalah ini terjadi, ponselnya berdering dan tertera nama Minanti di sana, ia pun segera menjawab telepon dari wanita tersebut.


“Halo?”


“Halo sayang, apakah Mama mengganggu waktumu?”


“Tidak, memangnya ada apa sampai Mama menelponku saat ini?”


“Mama hanya ingin bertanya apakah kamu baik-baik saja setelah Ester ditangkap lagi dan dibawa ke rumah sakit jiwa untuk melanjutkan pengobatannya.”


“Tentu saja, aku baik-baik saja.”


“Lalu Mama dengar ada sedikit masalah dalam perusahaan, ya?”


“Soal itu ….”


“Kalau kamu ingin bicara soal itu lebih baik nanti saja, kita bicara secara langsung, Mama akan datang ke apartemenmu, ok?”


“Baiklah, terima kasih banyak, Ma.”


*****

__ADS_1


Olaf kembali ke ruangan kerjanya dengan masih memikirkan apa yang Felli katakan tadi padanya, rupanya wanita itu berkorban demi anak yang ada di dalam perut Stefani. Ia kemudian meraih ponselnya dan mencari kontak Juan di sana, namun ketika ia hendak menekan tombol panggil, ia nampak ragu apakah ia harus melakukan ini atau tidak.


“Ya Tuhan, kenapa rasanya berat sekali kalau aku mengatakan hal ini pada Juan,” lirih Olaf.


Saat ia tengah memandangi layar ponselnya, nama Minanti muncul di layar ponselnya saat ini, segera saja Olaf langsung menjawab telepon dari sang mama.


“Ada apa, Ma?”


“Apakah Mama menngganggu waktumu, Nak?”


“Sama sekali tidak, ada apa Mama menelponku?”


“Apakah kamu sudah bertemu dengan Felli?”


“Oh, soal itu ….”


“Kamu pasti berhasil menghubunginya, kan? Dan dia juga pasti mau bertemu denganmu?”


“Ma… aku …..”


“Olaf, katakan pada Mama apa saja yang tadi kalian bicarakan, apakah dia sudah mengatakan alasan kenapa dia tidak mau rujuk dengan Juan?”


“Iya Ma, tadi aku sudah bertemu dengan Felli dan dia sudah terus terang padaku mengenai alasannya kenapa tidak ingin rujuk dengan Juan.”


“Namun aku ragu Ma, apakah aku harus mengatakan ini atau tidak.”


“Olaf, katakan pada Mama sekarang.”


*****


Sementara itu Minanti datang ke rumah sakit untuk menjenguk Juan dan di sana ada sosok Stefani yang tengah menyuapi Juan buah-buahan, Juan seketika menatap ke arah Minanti yang baru saja datang, Minanti sendiri nampak bingung apakah ia harus mengatakan apa alasan Felli menolak rujuk dengannya atau tidak.


“Ma, kenapa diam saja di situ?”


“Ah, tidak apa-apa.”


“Mama tidak nyaman dengan kehadiran Stefani?”


“Tidak apa, lanjutkan saja, Mama datang untuk mengabari kalau nanti malam Mama akan pergi ke apartemen Tania, ada yang perlu kami bicarakan.”


“Begitu rupanya, kalau begitu Mama tidak perlu datang ke rumah sakit besok pagi karena besok aku sudah boleh pulang.”


“Tidak Nak, Mama tetap akan datang dan mengantarkanmu pulang dari rumah sakit ini.”

__ADS_1


Minanti sempat melirik sekilas ke arah Stefani sebelum akhirnya ia pun berpamitan pada putranya sebelum ia pergi ke apartemen Tania, selepas Minanti pergi, Stefani langsung mengutarakan perasaannya yang diacuhkan oleh Minanti barusan.


“Apakah mamamu itu begitu membenciku sampai-sampai dia mengacuhkanku begitu?”


“Sudahlah, kamu tidak perlu memikirkan hal tersebut.”


“Juan, kamu pasti akan menikah denganku, kan?”


“Astaga Stefani, bukankah kamu sudah sering menanyakan hal itu? Kenapa kamu masih saja menanyakan hal tersebut? Tentu saja aku akan menikah denganmu.”


Walaupun Juan sudah mengatakan bahwa ia akan menikahinya namun Stefani merasa belum puas karena ia yakin bahwa Juan pasti akan cari-cari kesempatan untuk bersama lagi dengan Felli namun tentu saja ia tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi.


****


Selepas bekerja kini Ricky memberanikan diri untuk menemui Felli yang masih duduk di kursinya sejak tadi, karena tidak menyadari kalau café ini sudah tutup, Felli terkejut ketika Ricky menghampirinya dan mengajaknya untuk pulang.


“Pulang?”


“Ini sudah waktunya café tutup.”


“Benarkah? Aku minta maaf karena tidak menyadari kalau sudah waktunya tutup.”


“Tidak apa-apa.”


Setelah berpamitan pada Nanda dan karyawan lain, Felli dan Ricky keluar dari café tersebut, Felli seperti biasa ingin mengantarkan Ricky pulang walaupun pemuda itu sudah menolaknya namun tetap saja Felli berkeras


agar Ricky mau diantarkan pulang olehnya. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara Felli dan Ricky hingga akhirnya Ricky pun memberanikan diri bertanya sesuatu pada Felli.


“Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”


“Apa yang ingin kamu tanyakan memangnya?”


“Ini menyangkut tentang yang tadi siang.”


Felli nampak terdiam sesaat sebelum akhirnya ia menepikan mobilnya karena tiba-tiba saja perasaannya menjadi bergejolak ketika diungkit tentang masalah tersebut.


“Aku minta maaf kalau sudah membuatmu tidak nyaman kalau memang pertanyaan itu tidak mau kamu jawab, maka kamu tidak perlu menjawabnya.”


“Tidak, aku baik-baik saja, aku akan jelaskan apa yang tadi aku dan Olaf bicarakan.”


Felli nampak berusaha meredakan gejolak emosi yang ada dalam dirinya sebelum ia menceritakan apa yang tadi dirinya dan Olaf bicarakan.


“Ini menyangkut mengapa aku menolak untuk rujuk dengan Juan.”

__ADS_1


__ADS_2