Berkah Cinta

Berkah Cinta
Kenapa Masih Bertanya


__ADS_3

Sementara itu dalam perjalanan pulang, Minanti dan Juan sama sekali tidak mengobrol, mereka saling memandang ke luar jendela mobil hingga akhirnya kendaraan tersebut sampai juga di rumah, mereka berdua pun turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam rumah. Nampak Bram menyambut kedatangan mereka dengan bahagia, ia kemudian memeluk putranya itu dan mengatakan bahwa ia senang sekali akhirnya dapat melihat Juan kembali lagi ke rumah.


“Rumah ini sepi sekali tanpamu, kamu akan kembali tinggal di sini, kan?”


“Iya Pa.”


“Baguslah, rumah ini juga adalah rumahmu, jadi jangan pergi-pergi lagi, ya?”


“Iya Pa.”


“Juan pasti saat ini lelah, kata dokter dia masih butuh banyak istirahat, lebih baik dia segera pergi ke kamarnya saat ini.”


“Mamamu benar, Juan, kamu lebih baik masuk ke kamarmu, ya dan istirhat di sana,” ujar Bram.


“Iya Pa, terima kasih.”


Kemudian Juan pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang sudah lama tidak ia huni, perlahan ia membuka pintu kamarnya dan menatap sekeliling kamar ini, tidak ada yang berubah dari kamarnya ini ketika ia terakhir kali tidur di sini semuanya masih sama, bahkan foto dirinya dan Felli saja masih ada di meja kerjanya, Juan kemudian meraih foto itu dan menatap wajah Felli erat, perlahan tangannya terulur untuk memegang wajah Felli yang


ada di foto itu.


“Aku merindukanmu.”


*****


Tania sedang berada di dalam ruangan kerjanya, tiba-tiba saja seseorang menerobos masuk ke dalam ruangan kerjanya, sekretaris Tania meminta maaf karena ia sudah berusaha sebisa mungkin menghalangi orang


ini namun ia tetap saja memaksa masuk ke dalam ruangan Tania.


“Maafkan saya Nyonya.”


“Kamu bisa kembali bekerja.”


“Baiklah, saya permisi dulu.”


Sekretaris Tania itu pun kembali ke meja kerjanya dan menutup pintu ruangan kerja Tania, saat ini seorang pria menatapnya tajam setelah ia tahu apa yang sedang dilakukan oleh Tania.


“Mau apa anda datang ke sini?”


“Kamu pikir dapat menyembunyikan ini dariku, hah?”


“Saya tidak mengerti apa yang anda maksudkan ini.”

__ADS_1


“Ingat Tania, kamu menjadi Direktur Utama perusahaan ini karena aku mendukungmu dalam pemilihan namun beginikah caramu membalas semua kebaikan yang aku lakukan untukmu?”


“Saya benar-benar tidak mengerti apa yang sedang anda bicarakan.”


“Tania, aku ingatkan padamu sekali lagi, lebih baik kamu jangan lakukan itu karena kalau kamu masih melanjutkan ini semua maka kamu akan menyesalinya di kemudian hari.”


*****


Sementara Olaf yang ada di dalam ruangan kerjanya sedang mengetikan sesuatu di laptopnya namun ia kemudian menjadi tidak fokus karena memikirkan Tania, ia takut sesuatu hal yang buruk terjadi pada Tania apalagi Tania bilang dia akan mengikuti sarannya untuk bersih-bersih perusahaan dari orang-orang kotor yang ingin menggerogoti perusahaan diam-diam.


“Ya Tuhan, kok aku jadi khawatir begini, ya?”


Olaf kemudian mencoba menelpon sekretaris Tania untuk menanyakan bagaimana keadaan Tania saat ini.


“Halo siapa ini?”


“Ini aku.”


“Iya Tuan, ada apa?”


“Bagaimana keadaan Tania saat ini?”


“Tuan, bagaimana ini?”


“Tuan Wiratama datang ke kantor Nyonya Tania, dia nampak tidak suka dengan langkah yang Nyonya Tania lakukan, aku tidak tahu apa yang terjadi di dalam.”


“Kamu terus awasi mereka, terus laporkan padaku kalau ada sesuatu hal yang terjadi pada Tania, kamu mengerti?!”


“Iya Tuan, saya mengerti.”


“Baguslah kalau mengerti.”


TUT


Olaf menutup sambungan teleponnya dengan gusar, kini malah dirinya yang tidak dapat fokus dalam bekerja karena memikirkan tentang Tania, ia takut kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada kekasihnya itu.


“Ya Tuhan semoga saja tidak ada hal buruk yang menimpa Tania saat ini,” gumam Olaf yang nampak mondar-mandir di dalam ruangan kerjanya menanti kabar selanjutnya dari sekretaris Tania.


*****


Sementara itu di tempat yang lainnya, Stefani baru saja turun dari mobilnya dan saat ini dirinya sudah berada di depan rumah keluarga Olaf, ia hendak masuk ke dalam namun satpam yang berjaga di depan pintu tidak dapat mengizinkannya masuk ke dalam rumah itu dan tentu saja karena merasa dihalangi oleh satpam itu, Stefani merasa kesal.

__ADS_1


“Apa-apaan kamu ini? Kamu tahu bahwa sebentar lagi saya akan menikah dengan Juan, namun berani sekali kamu melarang saya masuk!”


“Maaf Nona, namun saya hanya melakukan apa yang Tuan perintahkan.”


“Pokoknya biarkan aku masuk ke dalam sekarang atau aku akan laporkan kamu pada polisi.”


“Maaf Nona, namun saya benar-benar tidak dapat melakukan itu, saya tidak bisa membiarkan Nona masuk karena ini adalah perintah langsung dari Tuan Bram, tolong Nona pahami posisi saya, saya tidak mau kehilangan


pekerjaan saya.”


“Saya tidak peduli, pokoknya buka pintu gerbang ini sekarang juga!”


“Maaf, namun saya tidak dapat melakukan itu.”


Stefani tentu saja tidak terima, ia berteriak-teriak seperti orang tidak waras yang menyebabkan pengguna jalan menjadi melihatnya dengan tatapan heran, namun Stefani nampak tidak peduli jika dia menjadi pusat tontonan bagi pengguna jalan yang melintas karena tujuannya datang ke sini adalah bertemu dengan Juan.


“Juan, buka pintunya!”


*****


Sementara itu asisten rumah tangga mendatangi Minanti dan mengatakan bahwa di luar ada Stefani yang berteriak-teriak seperti orang tidak waras meminta agar mereka membukakan gerbang rumah, namun Minanti mengatakan bahwa bilang pada satpam untuk tidak perlu membukakan pintu untuk wanita itu.


“Baik Nyonya.”


Asisten rumah tangga itu pun kemudian pergi meninggalkan Minanti yang sedang membaca majalah, sementara Bram pun menghampiri Minanti karena ia ia merasa terganggu dengan suara Stefani yang berisik dari luar gerbang rumah mereka.


“Wanita itu berteriak-teriak di depan gerbang rumah kita, ya?”


“Begitulah, keputusanmu untuk tidak mengizinkan wanita itu masuk ke dalam rumah ini sepertinya sudah bagus, kita memang tidak dapat mengizinkannya untuk masuk karena dia pasti akan membuat masalah.”


Sementara itu dari dalam kamarnya, Juan dapat melihat bahwa saat ini Stefani sedang berteriak-teriak dari luar pagar rumahnya, namun Juan sama sekali hanya diam dan menatap dari dalam jendela kamarnya. Tidak lama


kemudian ponsel Juan berdering dan ketika ia melihat nama Stefani di layar ponselnya, ia tidak berusaha untuk segera menjawab telepon tersebut dan membiarkannya saja, Stefani nampak tidak patah semangat, ia kembali mencoba menelpon Juan saat ini dan kali ini Juan pun menjawab telepon Stefani.


“Kenapa kamu baru menjawab teleponku sekarang?!”


“Aku minta maaf, ada apa menelponku?”


“Kamu tidak perlu pura-pura tak tahu, aku tahu bahwa saat ini kamu pasti sedang melihatku dari dalam kamarmu, bantu aku agar aku dapat masuk ke dalam!”


“Kenapa aku harus membantumu?”

__ADS_1


“Kenapa? Kamu masih bertanya kenapa?! Kamu lupa bahwa aku ini adalah calon istrimu dan di dalam perutku ini ada anakmu, Juan!”


__ADS_2