
Juan mengantarkan Stefani ke apartemennya, sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen wanita itu, tidak terjadi percakapan di antara mereka berdua. Saat ini mereka berdua sudah sampai di apartemen Stefani, wanita itu menarik tangan Juan dan membuat pria itu menatapnya.
“Terima kasih atas hari ini, semoga kamu tidak akan mengkhianati janji yang sudah kamu buat padaku.”
“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku sudah berjanji padamu untuk menikah denganmu, jadi tidak seharusnya kamu khawatir berlebih tentang hal tersebut.”
“Baiklah, aku akan mencobanya.”
Stefani kemudian melepas sabuk pengaman yang ia kenakan dan bersiap untuk turun dari mobil Juan, sebelum wanita itu turun nampak Stefani menatap lagi ke arah Juan seolah memberikan isyarat pada pria itu namun Juan tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Stefani ini.
“Apa? Kamu ingin apa?”
Stefani berdecak kesal dan kemudian ia dengan segera membungkam bibir Juan untuk sesaat sebelum akhirnya ia pun turun dari mobil dan melambaikan tangannya pada pria itu yang masih memegangi bibirnya karena tidak
percaya dengan apa yang baru saja Stefani lakukan padanya.
*****
Tania meminta saran dari Minanti mengenai tawaran Olaf yang menginginkan agar perusahaan mereka ada di bawah satu manajemen, Minanti mengatakan bahwa ia mendukung apa pun keputusan yang sudah Tania buat karena ia yakin anaknya itu sudah memikirkan hal tersebut secara matang.
“Kenapa Mama percaya padaku?”
“Karena kamu adalah putri papamu, papamu adalah orang yang dapat mengambil keputusan yang tepat dan Mama percaya akan hal itu.”
“Terima kasih karena sudah mau mendengarkan keluh kesahku, Ma.”
“Tidak masalah sayang, selamat malam.”
TUT
Akhirnya Tania menutup sambungan teleponnya dengan Minanti, sampai jam 11 malam ini ia belum juga dapat memejamkan matanya karena memikirkan soal tawaran Olaf. Namun setelah berdiskusi dengan Minanti barusan
maka Tania kini sudah memiliki jawaban atas tawaran Olaf tadi, sebenarnya ia ingin menelpon Olaf malam ini juga namun sepertinya Olaf sudah tidur dan ia tidak ingin mengganggu waktu tidur kekasihnya itu. Tania kemudian beranjak menuju kamar tidurnya dan berusaha memejamkan matanya, namun baru saja ia terlelap tidur, ia mendengar ponselnya berdering, ia kemudian meraba nakas di dekat tempat tidur untuk meraih ponselnya dan tanpa melihat siapa yang menelponnya.
“Halo siapa ini?”
“Hihi, aku akan pastikan hidupmu akan menderita Tania.”
TUT
__ADS_1
“Halo? Siapa ini?”
*****
Keesokan paginya Tania pergi menemui Olaf setelah sebelumnya ia sudah menelpon Olaf bahwa ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengannya, saat ini Tania sudah tiba di restoran dan tengah menunggu sampai Olaf mendatanginya di tempat ini, tidak lama kemudian Olaf pun tiba dan ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Tania.
“Jadi ada apa?”
“Bisakah kita pesan sesuatu dulu?”
“Baiklah.”
Tania kemudian memanggil pelayan datang ke meja mereka, Olaf dan Tania kemudian memesan hidangan yang ada di buku menu, setelah mencatat pesanan mereka berdua maka pelayan itu segera pergi dari meja mereka.
“Jadi ada apa Tania?”
“Aku sudah memiliki jawaban atas tawaranmu waktu itu.”
“Benarkah? Cepat sekali, aku pikir kamu membutuhkan waktu yang agak lama untuk memikirkan itu.”
“Sebenarnya aku juga memutuskan hal ini tidak mudah, namun setelah berdiskusi dengan Mama, maka akhirnya aku sudah memiliki jawaban atas penawaranmu waktu itu.”
“Sepertinya kamu sudah tahu apa yang menjadi keputusanku.”
“Bagaimana bisa aku tahu keputusanmu sementara kamu sendiri belum mengatakan jawabannya.”
“Olaf, aku pikir kamu sudah dapat menebaknya.”
“Menebak?” ujar Olaf sambil berpikir dan kemudian ia menatap ke arah Tania yang sedang tersenyum padanya.
“Apakah kamu setuju dengan tawaranaku?” tanya Olaf yang agak ragu ketika menanyakan hal itu.
“Tentu saja, maka dari itu aku bilang padamu kalau kamu pasti sudah tahu jawabannya.”
*****
Ricky belakangan ini merasa tidak bersemangat bekerja karena Felli sudah lama sekali tidak datang ke café ini, padahal sebelumnya wanita itu selalu datang ke sini dan menghabiskan waktu dengan memesan sesuatu
atau mengobrol dengan Nanda. Entah kenapa ia merindukan wanita itu, ia sebenarnya sudah sejak lama ingin menghubungi Felli, namun ia ragu apakah ia harus melakukan hal itu atau tidak mengingat kondisi Felli yang saat ini sepertinya masih sedih karena perceraiannya dengan Juan.
__ADS_1
“Ehem, Ricky temui aku di ruangan,” ujar Nanda.
“Baik bos.”
Maka setelah mendapatkan perintah dari Nanda, Ricky mengekori langkah bosnya itu masuk ke dalam ruangan Nanda, di sana ia dan Nanda duduk di kursi yang ada di ruangan kerja tersebut.
“Aku perhatikan kamu tidak fokus bekerja belakangan ini, pelanggan sering mengeluh padaku tentang pelayananmu yang menurun, apakah kamu niat bekerja di sini?”
“Tentu saja aku niat, aku minta maaf karena sudah mengecewakan bos belakangan ini, namun aku janji akan memperbaiki kinerjaku.”
“Ricky, jangan mentang-mentang kamu masuk dengan jalur koneksi maka kamu akan aku perlakukan dengan istimewa, aku akan memperlakukanmu seperti karyawan pada umumnya kalau memang kamu salah maka aku akan mengatakan kalau kamu salah.”
“Aku mengerti bos, aku minta maaf, aku pasti tidak akan mengulanginya lagi, aku janji.”
*****
Tania menghela napasnya berat ketika ia sudah kembali tiba di ruangan kerjanya, ia benar-benar penasaran dengan nomor yang semalam menerornya, kira-kira siapa orang yang menerornya lewat telepon, ia sudah
memerintahkan orang suruhannya untuk menelusuri siapa orang yang menerornya itu namun sampai saat ini dirinya belum mendapatkan jawaban atas teka-teki ini.
“Ya Tuhan, semoga saja orang itu dapat segera diketahui identitasnya.”
Tania kemudian memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaannya, ia terus fokus bekerja di depan laptop hingga tidak menyadari bahwa hari sudah malam dan sekretarisnya berpamitan padanya untuk pulang.
“Hari sudah malam, ya?”
“Iya Nyonya, saya permisi dulu.”
“Baiklah, terima kasih atas hari ini, selamat malam dan hati-hati di jalan.”
“Terima kasih Nyonya, anda juga hati-hati di jalan.”
Setelahnya Tania merapihkan barang-barangnya yang ada di atas meja kerja dan mematikan laptopnya, kemudian pergi keluar ruangan kerjanya, ia saat ini tengah menunggu lift terbuka dan saat pintu lift terbuka
ia langsung masuk ke dalam lift itu. Tidak ada yang aneh selama ia berada di dalam lift itu namun kemudian tiba-tiba saja lift itu mendadak berhenti dan lampu di dalam lift mati hingga membuat Tania terkejut dan panik.
“Ya Tuhan, ada apa ini?”
Tania menekan tombol bantuan yang ada di dalam lift dan kemudian merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam sana, ia berusaha menghubungi seseorang namun tentu saja di dalam lift tidak ada sinyal hingga ia hanya dapat pasrah hingga bantuan datang.
__ADS_1
“Ya Tuhan semoga saja bantuan segera datang.”