
Tania memukul kepala orang bersenjata itu dengan sebuah batu besar hingga orang itu terjatuh ke tanah, sementara Olaf berhasil membekuk orang yang sejak tadi memeganginya, Tania segera menelpon polisi untuk
menangkap kedua orang ini sebelum mereka melarikan diri.
“Kamu baik-baik saja?”
“Iya, aku baik-baik saja, namun… kamu terluka.”
“Bukan masalah besar, hanya luka kecil.”
Tidak lama kemudian polisi segera datang dan meringkus kedua orang yang mencoba melukai Tania, setelah polisi pergi dengan para pelaku kejahatan, kini Tania membawa Olaf masuk ke dalam rumah untuk membantu pria itu
mengobati lukanya.
“Bagaimana dengan Ferdian?” tanya Olaf yang melihat Ferdian masih terjatuh di lantai dan belum sadarkan diri.
“Dia juga nanti akan sadar sendiri, kita bawa saja ke kamar,” jawab Tania.
Maka kemudian mereka berdua membawa Ferdian menuju kamar dan setelahnya Tania membantu Olaf mengobati luka di wajah pria itu.
“Tahan dulu.”
Olaf nampak tidak berkedip ketika Tania membersihkan dan mengobati lukanya, Tania akhirnya selesai mengobati luka di wajah Olaf dan kini ia baru menyadari bahwa pria itu sejak tadi memperhatikannya.
“Kenapa kamu memperhatikanku?”
****
Ferdian siuman dari pingsannya namun ia masih merasakan rasa sakit di belakang kepalanya akibat pukulan benda tumpul tadi, ketika ia terbangun dari pingsannya, saat ini dia berada di dalam kamarnya namun tidak menemukan Tania di dalam kamar ini. Ia pun melangkahkan kakinya turun dari tempat tidur untuk menemui Tania namun baru saja ia hendak membuka pintu kamar, pintu kamar itu terbuka dan menampakan sosok yang ingin ia cari tadi.
“Kamu sudah bangun rupanya.”
“Apakah kamu baik-baik saja?”
“Kalau aku tidak baik-baik saja, bagaimana mungkin aku berdiri di depanmu?”
“Syukurlah kalau begitu, aku pikir setelah aku tak sadarkan diri kamu mengalami hal yang buruk.”
Tania tidak menanggapi ucapan Ferdian barusan, tentu saja ia tidak mengatakan kalau tadi Olaf datang dan membantunya melepaskan diri dari penjahat yang berusaha membawanya kabur.
“Lebih baik kamu istirahat.”
“Tidak, aku sama sekali tidak lelah.”
“Apakah kamu merasakan sesuatu dengan perutmu?”
“Sama sekali tidak.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Tania kemudian hendak pergi dari kamar itu namun Ferdian menahan tangannya hingga membuat tubuhnya menghadap ke arah pria itu.
__ADS_1
“Mau apa kamu?”
“Apakah kamu mencemaskanku?”
“Kamu ini bicara apa?”
“Katakan padaku, apakah kamu mencemaskanku tadi atau
tidak?”
****
Walaupun Olaf tidak bisa berlama-lama bertemu dengan Tania, namun ia sudah cukup puas berbincang dengan wanita itu dan dirinya bersyukur karena datang tepat waktu dan menggagalkan rencana penculikan Tania.
“Olaf? Dari mana saja kamu? Dan ada apa dengan wajahmu?”
“Bukan apa-apa, Ma.”
Minanti tentu saja tak percaya dengan yang dikatakan oleh Olaf, ia yakin kalau sesuatu hal yang buruk menimpa pada putranya.
“Apakah kamu pikir Mama akan percaya dengan yang kamu katakan ini?”
“Ma, ini hanya luka kecil saja.”
“Kamu pasti habis berkelahi, kan?”
“Baiklah, iya aku mengakuinya.”
“Tidak, namun dengan seseorang yang berniat jahat pada Tania.”
“Apa?”
Olaf kemudian menceritakan apa yang terjadi di rumah Tania tadi ketika dirinya datang, untung saja Olaf datang tepat waktu hingga dapat menggagalkan rencana penculikan Tania itu.
“Ya Tuhan, Mama senang sekali mendengarnya, untung saja kamu datang tepat pada waktunya.”
“Iya, aku juga bersyukur karena datang tepat waktu karena kalau aku terlambat mungkin saja Tania sudah dibawa kabur oleh penculik itu.”
“Kalau begitu kamu pergi masuklah ke kamarmu.”
“Baiklah.”
Setelah Olaf pergi ke kamarnya kini Minanti mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak seseorang di sana.
“Tolong kamu cari tahu siapa sebenarnya orang yang hendak menculik Tania.”
****
Minanti sudah diberitahu hasil penyelidikan atas upaya penculikan Tania yang gagal oleh orang suruhannya, namun Minanti sama sekali tidak percaya pada motif kedua orang itu maka kini wanita itu pergi ke kantor polisi untuk menemui mereka berdua, namun ketika ia tiba di sana, Minanti hanya boleh bertanya pada salah satu di antara dua tersangka itu.
“Siapa anda?”
__ADS_1
“Kamu tidak perlu tahu siapa saya, kamu hanya cukup jawab pertanyaan saya.”
“Apa yang ingin anda tanyakan?”
“Katakan padaku, kamu pasti disuruh oleh seseorang, bukan?”
“Tidak, saya melakukan semua ini karena inisiatif saya sendiri.”
“Kenapa kamu tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada polisi? Kalau kamu mengatakan yang sebenarnya pada polisi maka kamu tidak akan dipenjara seperti ini.”
“Saya tidak mengerti apa yang anda bicarakan ini.”
“Tidak perlu berpura-pura tidak tahu, aku tahu kalau kalian berdua hanya dijadikan kepanjangan tangan seseorang untuk berbuat buruk pada Tania, jadi…lebih baik kamu jujur padaku dan katakan siapa dalang di balik semua ini.”
“Saya sudah katakan bahwa saya adalah otak di balik semua ini.”
“Berapa banyak yang dia berikan padamu sampai-sampai kamu mau menutupi kesalahannya?”
Orang itu terdiam mendengar pertanyaan Minanti barusan, kini Minanti tahu satu hal yang pasti mereka berdua adalah suruhan seseorang yang hendak mencelakai Tania.
“Kalau kamu mau mengatakan yang sejujurnya padaku, maka aku dapat membebaskanmu dari tempat ini dan lagi kamu tidak perlu khawatir tentang keselamatanmu.”
****
Keesokan harinya, Ferdian terkejut dengan tajuk utama salah satu media online yang memberitakan bahwa adanya dugaan suap dalam proyek pemerintah daerah yang melibatkan dirinya.
“Kenapa mereka sampai memberitakan ini?!”
Ferdian tentu saja tidak akan membiarkan ini terjadi, ia langsung menelpon Gubernur untuk memberitahukan perihal berita yang muncul di media online ini.
“Apakah anda sudah melihat berita di media online?”
“Iya, saya sudah melihatnya, lalu apa yang harus kita lakukan saat ini?”
“Tentu saja jangan sampai media lain sampai memberitkan ini karena kalau tidak ini akan menjadi celah agar Kejaksaan menelisik lebih jauh perihal kasus ini.”
Tania yang baru saja turun dari lantai dua secara tidak sengaja menguping pembicaraan antara Ferdian dan Gubernur, Tania tetap berdiri di posisinya sampai beberapa menit hingga akhirnya Ferdian menutup sambungan teleponnya dan berbalik badan.
“Tania? Sejak kapan kamu ada di situ?”
“Itu bukan urusanmu.”
Ketika Tania hendak pergi, Ferdian menarik tangan Tania dengan keras, Ferdian tentu saja tidak akan membiarkan Tania pergi begitu saja sebelum ia menjawab pertanyaannya.
“Katakan padaku yang sejujurnya, apakah kamu sedang menguping pembicaraanku dengan Gubernur tadi?”
“Aku tadi lewat dan tidak sengaja menguping pembicaraan kalian, itu saja.”
“Benarkah? Kamu tidak mengatakan apa pun pada Kejaksaan, kan?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu padaku?”
__ADS_1
“Baguslah karena kalau kamu tidak mengatakannya, jangan pernah coba menusukku dari belakang Tania.”