Berkah Cinta

Berkah Cinta
Dia Cemburu


__ADS_3

Kini Ferdian dan Tania pergi makan siang di sebuah restoran yang letaknya tidaklah jauh dari taman itu, Ferdian mempersilakan Tania untuk memesan apa pun yang ia inginkan, namun Tania mengatakan bahwa ia ingin pesannya disamakan saja dengan Ferdian.


“Apakah kamu yakin?”


“Aku yakin, sepertinya kamu lebih tahu perihal menu makanan yang enak di restoran ini.”


“Baiklah kalau begitu.”


Ferdian memanggil pelayan dan kemudian mengatakan apa pesanan mereka berdua, setelah pelayan itu mencatat pesanan mereka dan pergi, barulah Ferdian kembali buka suara, ia nampak berterima kasih pada Tania karena wanita ini sudah mau datang menemuinya di taman tadi.


“Aku sangat berterima kasih karena kamu sudah mau datang menemuiku.”


“Sama sekali tidak masalah, kok.”


Tania kemudian melirik ke arah jari Ferdian yang mengenakan sebuah cincin, Tania tergelitik untuk bertanya pada pria ini apakah Ferdian sudah menikah atau belum.


“Cincin itu, bukankah itu cincin pernikahan? Apakah kamu sudah menikah?”


Ferdian terkejut ketika mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Tania barusan, ia melirik ke arah jarinya dan memang di sana terpasang cincin pernikahannya dengan Jihan.


“Soal ini ….”


“Sudahlah, kamu tidak perlu menutupinya, katakan saja kalau kamu sudah menikah.”


“Baiklah aku mengakui bahwa aku memang sudah menikah, namun kamu jangan salah paham dulu soal aku yang sudah menikah ini, ok?”


****


Jihan awalnya tidak mau terlalu memikirkan apa yang Ester katakan, toh juga sebelumnya Ferdian sudah mengatakan padanya bahwa ia tertarik pada seorang wanita, namun Jihan benar-benar penasaran seperti apa


sosok wanita yang telah membuat Ferdian begitu tergila-gila. Ia mengikuti Ferdian secara diam-diam untuk mencari tahu siapa wanita itu, saat ini Jihan sudah ada di restoran yang sama dengan tempat di mana Ferdian dan Tania sedang makan siang bersama, ia memesan meja yang agak jauh dari meja mereka agar Jihan bisa lebih leluasa menatap mereka berdua, namun rupanya saat ini ia tidak dapat melihat seperti apa rupa wanita itu karena wanita itu duduk membelakanginya.


“Siapa sebenarnya wanita itu, aku tidak dapat melihat wajahnya,” lirih Jihan.


Ferdian yang secara tidak sengaja sedang mengedarkan pandangannya nampak terkejut ketika melihat sosok Jihan sedang berada di salah satu meja, Ferdian kemudian meminta izin pada Tania untuk pergi sebentar dan


kemudian ia pun mendatangi meja Jihan.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Bagaimana bisa kamu mengetahui keberadaanku di sini?”


“Apakah kamu sedang memata-mataiku?”

__ADS_1


“Apa? Mata-mata? Siapa juga yang memata-mataimu?”


“Benarkah? Lalu apa yang kamu lakukan di tempat ini kalau bukan memata-mataiku?”


****


Ferdian meminta maaf pada Tania atas gangguan yang baru saja terjadi, namun wanita itu mengatakan bahwa itu bukanlah sebuah masalah yang besar, Tania pun bertanya pada Ferdian perihal kenapa tadi Ferdian pergi.


“Oh, bukan apa-apa, aku harus mengurus masalah kecil.”


“Apakah istrimu sudah tahu kalau kita bertemu?”


Ferdian nampak terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Tania, ia nampak bingung sesaat namun kemudian ia ingat bahwa ia sudah menceritakan semua perihal rumah tangganya pada wanita ini hingga seharusnya ia sudah tidak perlu canggung lagi pada wanita ini.


“Iya, sejujurnya dia sudah tahu hubungan kita.”


“Lalu? Bagaimana reaksinya?”


“Biasa saja, bukankah aku sudah mengatakan bahwa kami menikah bukan atas dasar cinta.”


“Kalau kalian menikah bukan atas dasar cinta, bukankah kalian hanya menyiksa diri masing-masing? Pernikahan bukanlah sebuah permainan.”


“Aku mengerti, aku merasa bersalah di hadapan Tuhan karena sudah mempermainkan pernikahan, namun mau bagaimana lagi? Kedua belah pihak keluarga sudah merencanakan semua ini, aku dan dia sebenarnya sudah


“Menarik sekali hidupmu,” ujar Tania.


“Menarik? Menarik apanya, aku merasa hidupku selalu saja dibawah bayang-bayang kedua orang tuaku.”


“Kalau begitu kamu bisa menciptkan kebahagiaanmu sendiri.”


****


Jihan menemui Ester di rumah, Ester terkejut ketika Jihan datang ke rumah ini dan ia pun bertanya pada Jihan apa yang sebenarnya terjadi, Jihan menceritakan bahwa apa yang Ester katakan itu memang benar, Ferdian memang pergi dengan wanita lain, ia harus berpura-pura kesal dan sedih ketika tahu bahwa Ferdian pergi dengan wanita lain.


“Pria itu harus Mama beri pelajaran karena sudah berani selingkuh.”


“Tunggu dulu, Mama tidak perlu sampai turun tangan begini.”


“Apa maksudmu? Kenapa kamu melarang Mama untuk turun tangan?”


“Aku sudah tahu bagaimana cara menghadapi semua ini, jadi Mama tidak perlu khawatir.”


“Apakah kamu yakin sayang?”

__ADS_1


“Iya tentu saja, aku datang ke sini karena ingin mengatakan itu saja, kok.”


“Baiklah Nak.”


“Aku mau pulang dulu.”


“Apakah kamu tidak mau makan atau minum dulu? Kamu baru saja tiba di sini.”


“Tidak perlu, aku baru saja makan dan minum, aku mau pulang.”


“Baiklah, hati-hati di jalan ya, jangan pernah sungkan untuk menghubungi Mama kalau memang kamu memerlukan bantuan, ya?”


“Tentu saja, Mama tidak perlu khawatir akan hal tersebut.”


“Baiklah.”


Jihan pun segera bergegas pergi dari rumah sang mama dan kembali masuk ke dalam mobil, di dalam mobilnya ia berpikir bahwa hal ini bisa saja menjadi sesuatu yang menarik karena dengan cara seperti ini ia dan Ferdian bisa berpisah.


****


Sejujurnya Jihan sangat penasaran dengan wanita yang menjadi idaman Ferdian, ketika pria itu pulang ke rumah, Jihan tidak dapat menahan dirinya untuk tidak bertanya pada Ferdian perihal siapa sosok wanita yang membuat Ferdian jatuh hati, namun pertanyaan dari Jihan itu membuat Ferdian menatapnya heran.


“Sejak kapan kamu jadi tertarik dengan urusan pribadiku?”


“Apakah aku salah? Kamu sekarang adalah suamiku dan aku berhak sebagai istri tahu semua yang kamu kerjakan.”


“Apakah kamu cemburu?”


“Kenapa sih kamu selalu menanyakan apakah aku cemburu atau tidak? Apakah itu begitu penting sampai setiap kali kamu harus menanyakan hal konyol itu?”


“Itu bukanhlah hal konyol, aku hanya ingin kamu jujur pada perasaanmu sendiri.”


“Berhentilah bertingkah menjijikan Ferdian.”


“Jawabanku adalah aku tidak akan memberitahumu siapa dia.”


Jihan mengerutkan keningnya heran, kenapa Ferdian tidak mau memberitahunya perihal siapa wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta?


“Kenapa kamu tidak mau memberitahuku? Bukankah aku juga sudah terang-terangan mengatakan bahwa Olaf adalah pria yang aku cintai?”


“Tidak semua orang sepertimu Jihan yang bisa dengan mudah mengatakan siapa orang yang dia suka, termasuk aku, aku bukanlah orang yang suka mengumbar sesuatu.”


“Kalau kamu tidak mau mengatakannya, maka aku akan mencari tahunya sendiri.”

__ADS_1


“Kenapa kamu sampai harus repot-repot melakukan itu? Apakah benar kamu cemburu kalau aku dekat dengan wanita lain?”


__ADS_2