Berkah Cinta

Berkah Cinta
Tamparan Menyakitkan


__ADS_3

Kabar bahwa Jihan menyerahkan diri ke polisi sampai juga ke telinga Ester, ia langsung mendatangi apartemen Tania dan melabrak wanita itu, Tania tentu saja tidak menyangka bahwa Ester akan datang dan langsung menumpahkan semua kekesalannya padanya padahal Tania sendiri tidak tahu hal apa yang membuat Ester begitu kesal saat ini.


“Kenapa anda datang ke sini dan langsung marah-marah padaku?”


“Kamu jangan berlagak sok polos Tania!”


“Saya benar-benar tidak mengerti apa yang anda katakan, Nyonya.”


PLAK


Ester menampar wajah Tania dengan keras, Tania memegangi bekas tamparan Ester barusan dan menatap Ester tajam.


“Sudahkah kamu puas membuat anakku dipenjara?”


“Saya tidak mengerti apa yang anda katakan, namun tolong jaga sikap anda di sini.”


“Berani sekali kamu mengatakan hal tersebut padaku!” seru Ester berang dan hendak memukul kembali wajah Tania namun kali ini Tania tidak membiarkan Ester melakukan hal yang sama untuk kali kedua padanya.


“Saya sudah mengatakan bahwa anda jangan bersikap kurang ajar pada saya,” ujar Tania.


“Lepaskan tanganmu ini!” seru Ester.


Tania pun melepaskan tangan Ester dan meminta agar Ester keluar dari kamar apartemennya karena ia tidak ingin diganggu olehnya.


“Awas saja kamu Tania, aku akan pastikan kamu akan membayar semuanya!”


****


Ester mengunjungi Jihan yang saat ini sudah mendekam di balik jeruji besi, Ester tentu saja berusaha untuk mengeluarkan Jihan agar anaknya ini tidak ditahan lama-lama oleh polisi namun Jihan mengatakan pada


Ester bahwa ia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya pada Tania.


“Bicara apa kamu ini, Jihan?!”


“Aku melakukan semua ini atas dasar kemauanku dan bukan karena Tania yang melakukan ini padaku.”


“Jangan membela dia, Mama tahu bahwa dia pasti dalang di balik semua ini!”


“Ma, sudah aku katakan bahwa aku menyerahkan diri ke polisi karena keinginanku sendiri dan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tania yang melaporkanku!”

__ADS_1


“Jihan, apa yang terjadi padamu, Nak? Kenapa kamu melakukan ini? Katakan pada Mama kenapa kamu melakukan semua ini?”


“Aku menggantikan Mama di sini.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tahu kalau Mama tidak akan pernah mau masuk penjara, maka biarkan aku yang mendekam di balik jeruji besi untuk mempertanggung jawabkan perbuatan Mama.”


“Jihan, kamu jangan bicara yang bukan-bukan.”


“Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya, Ma.”


Namun waktu kunjung sudah habis, kini Jihan kembali dibawa ke dalam selnya, Ester nampak berteriak-teriak pada polisi untuk melepaskan putrinya namun akibat tindakannya itu membuat Ester dibawa keluar dari kantor polisi karena telah membuat keributan.


****


Olaf sudah mendengar kabar bahwa saat ini Jihan sudah dipenjara atas perbuatan kejinya yang hendak membunuh Tania, Olaf tentu saja terkejut bahwa Jihan rupanya mau menyerahkan dirinya padahal Olaf sudah menyerahkan barang bukti kejahatan Jihan pada wanita itu agar Jihan dapat memusnahkan barang bukti itu. Namun Jihan malah menolak dan mengatakan bahwa ia akan mempertanggung jawabkan semua kejahatan yang sudah ia buat selama ini pada Tania. Olaf meraih ponselnya dan mencari kontak seseorang di ponselnya, ia nampak ragu untuk beberapa saat apakah ia harus menghubungi nomor orang itu atau tidak, namun pada akhirnya Olaf pun menghubungi nomor tersebut.


“Halo?”


“Apakah kamu ada waktu saat ini?”


“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu, itu pun kalau kamu saat ini memiliki waktu.”


“Aku memiliki waktu, kita akan bicara di mana?”


“Aku akan segera mengirimkan alamatnya padamu.”


“Baiklah.”


TUT


Sambungan telepon pun dimatikan, Olaf mengirimkan alamat di mana mereka akan bertemu saat ini, setelahnya pria itu pun bergegas menuju alamat sebuah restoran yang sudah mereka sepakati bersama untuk janjian bertemu saat ini. Olaf pun sampai di restoran itu dan duduk di salah satu sudut restoran seraya menunggu orang yang tadi ia telepon datang, tidak lama setelah menunggu akhirnya orang yang ia tunggu pun datang juga ke restoran ini.


****


Orang yang dimintai datang ke restoran ini oleh Olaf adalah Tania, pada awalnya Tania tentu saja terkejut dan tak menyangka bahwa Olaf akan menelponnya dan mengajaknya bertemu, setelah melalui pemikiran yang masak, maka Tania pun setuju agar mereka bertemu saat ini. Tania baru saja datang di restoran ini dan ia mengedarkan pandangan ke sekitar, pada akhirnya Tania menemukan Olaf tengah duduk seorang diri di salah satu sudut restoran. Tania melangkahkan kakinya menuju meja di mana Olaf sudah menunggunya, ia mendudukan dirinya di kursi yang bersebrangan dengan pria itu.


“Maaf kalau sudah membuatmu menunggu.”

__ADS_1


“Tidak, aku juga baru sampai kok.”


Setelah itu nampak terjadi kecanggungan antara mereka berdua, Olaf pun berinisiatif untuk memesankan makanan untuk mereka berdua, Tania pun menganggukan kepalanya setuju. Pelayan datang ke meja mereka dan


menanyakan apa pesanan mereka, setelah mereka berdua menyebutkan pesanan masing-masing dan pelayan itu sudah pergi dari meja mereka, suasana kembali canggung seperti sebelum pelayan itu datang.


“Jadi kenapa kamu mengajakku bertemu di tempat ini?” tanya Tania yang akhirnya membuka percakapan dengan pria ini.


“Apakah kamu sudah tahu kalau Jihan dipenjara?”


“Aku baru mendengarnya tadi.”


“Benarkah? Siapa yang mengatakan itu padamu?”


“Sudahlah, itu tidak penting.”


****


Ferdian mencoba menelpon Tania beberapa kali, namun Tania tidak menjawab panggilan darinya, Ferdian tentu saja heran karena tidak biasanya Tania tidak menjawab panggilan telepon darinya.


“Apakah sesuatu hal yang buruk terjadi padanya?”


Ferdian kembali mencoba menghubungi nomor Tania, namun tidak berhasil, ia pun meraih jas dan mengenakannya, ia segera keluar dari ruangan kerjanya dan hendak pergi menuju apartemen Tania. Sekretarisnya sudah mencoba menahan Ferdian agar tetap ada di kantor karena tidak lama lagi rapat penting akan segera dimulai, namun Ferdian berkeras bahwa ia harus pergi saat ini.


“Tapi Tuan ….”


“Aku harus pergi sekarang juga!”


Ferdian kemudian tidak lagi mendengarkan apa yang sekretarisnya itu katakan, yang ada di dalam pikirannya saat ini adalah ia harus memastikan bahwa Tania dalam kondisi baik-baik saja. Ferdian nampak memacu kendaraannya


dengan cukup kencang di tengah jalanan kota yang padat, Ferdian beberapa kali menekan klakson pada kendaraan yang menghalangi jalannya, setelah berjibaku menembus kepadatan kendaraan, akhirnya Ferdian tiba juga di apartemen yang dihuni oleh Tania. Ia segera menuju lantai 24 di mana Tania tinggal, setelah tiba di lantai 24 kini Ferdian menuju kamar dengan nomor 2427, ia menekan bel pintu beberapa kali dengan gelisah, namun tidak ada jawaban dari dalam hingga 15 menit lamanya ia berdiri di depan pintu.


“Apa yang terjadi? Kenapa dia tidak membukakan pintunya?”


Ferdian mencoba kembali menelpon Tania, namun ponsel wanita itu tidak aktif, Ferdian pun mau tidak mau membuka pintu apartemen Tania melalui tombol yang ada di dekat knop pintu, setelah pintu terbuka ia pun


bergegas masuk dan memeriksa keadaan sekitar.


“Tania!”

__ADS_1


__ADS_2