Berkah Cinta

Berkah Cinta
Jangan Ragu


__ADS_3

Tania yang baru saja tiba kembali di kantor terkejut ketika mendengar suara ponselnya berdering dari dalam tas, ia meraih ponsel itu dan melihat siapa orang yang menelponnya saat ini dan rupanya tertera nama Bram di sana.


“Untuk apa dia menelponku?”


Tania pun menjawab telepon dari Bram dengan penasaran, sebenarnya apa yang ingin pria ini katakan padanya, Bram mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan padanya dan ia menanyakan di mana posisi Tania


saat ini.


“Aku ada di kantor.”


“Kalau begitu, tunggu aku di sana.”


Tania pun bingung sebenarnya apa yang terjadi saat ini, kenapa Bram ingin sekali menemuinya dan tidak lama kemudian Bram pun akhirnya tiba di kantor dan ia masuk ke dalam ruangan kerja Tania.


“Selamat datang Tuan, silakan duduk.”


Bram pun duduk di sofa yang ada di dalam ruangan kerja Tania, pria itu menggenggam sebuah amplop putih yang menjadi pusat perhatian Tania saat ini, sejujurnya ia penasaran dengan apa isi amplop putih tersebut.


“Sepertinya kamu sudah tahu apa maksud dan tujuanku datang ke sini.”


“Apa?”


*****


Tania sejujurnya tidak mengerti apa yang saat ini dibicarakan oleh Bram, setelahnya pria itu memberikan Tania amplop putih tersebut, Tania menerima amplop itu dengan bingung.


“Apa ini?”


“Kamu bisa lihat sendiri isinya.”


Tania perlahan membuka amplop tersebut dan membaca isi surat yang ada di dalamnya, dengan perlahan dan seksama ia membaca is surat itu dan akhirnya sampai di bagian bawah atau akhir surat, ia nampak begitu terkejut


dengan tulisan yang ada di sana.


“Bagaimana mungkin?”


“Sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu karena diam-diam aku mengambil sampel DNA kalian untuk pembuktian ini.”


“Apakah Tuan yakin dengan hasil tes DNA ini?”


“Tentu saja Tania, rumah sakit itu tidak mungkin salah dalam melakukan tes DNA.”


“Tidak mungkin, bagaimana mungkin ini terjadi.”


Tania nampak begitu shock dengan apa yang terjadi saat ini, ia menangis tersedu-sedu mendapati kenyataan yang begitu memukulnya, Bram sendiri dapat mengerti apa yang Tania rasakan saat ini, namun jauh lebih baik Tania mengetahui hal ini sekarang dari pada ia akan tahu belakangan.


“Maafkan aku Tania, namun kamu harus mengetahui kebenarannya seperti ini.”


“Tidak apa Tuan, apakah Nyonya sudah tahu soal hasil tes DNA ini?”

__ADS_1


“Belum, aku belum memberitahukannya, setelah ini aku juga akan memberitahukannya.”


*****


Olaf merasa pada malam ini, Tania sepertinya sedang tidak bersemangat dan tengah dirundung oleh kesedihan, Olaf yang merasa penasaran pun menanyakan apa yang membuat Tania sedih saat ini.


“Tania, apa yang membuatmu sedih?”


“Apa? Aku tidak sedih kok.”


“Kamu tidak perlu berbohong padaku, aku tahu kalau kamu saat ini sedang sedih.”


Tania nampak tidak dapat menanggapi ucapan Olaf barusan, ia masih terlalu sedih dan terpukul dengan kenyataan yang baru saja ia dapatkan hari ini.


“Apakah ini masalah yang serius?”


“Olaf, aku… aku ….”


“Iya Tania? Ada apa?”


Tania tidak sanggup melanjutkan ucapannya dan lebih memilih memeluk Olaf saat ini, Olaf yang tidak tahu apa pun membiarkan Tania memeluknya walaupun sejujurnya ia bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi di sini.


“Maafkan aku,” ujar Tania yang setelah itu dapat menguasai dirinya dan mengelap air matanya.


“Tidak masalah, kalau memang kamu belum siap untuk bercerita padaku, maka aku tidak akan memaksamu untuk bercerita.”


“Mamaku? Memangnya ada apa dengan beliau Tania?”


“Aku tidak dapat mengatakannya dengan gamblang, untuk cerita selengkapnya kamu bisa tanyakan pada papamu.”


“Papa? Baiklah, aku akan tanya beliau nanti, namun bagaimana kondisimu saat ini?”


“Sudah jauh lebih baik, terima kasih karena kamu sudah mau datang ke apartemenku saat ini.”


“Tidak masalah Tania.”


*****


Saat ini Bram dan Minanti sudah berada di dalam kamar mereka, Bram menyerahkan amplop itu pada Minanti, wanita tersebut nampak bingung kenapa Bram memberikannya sebuah amplop namun Bram tidak menjelaskannya


lebih lanjut, ia meminta agar Minanti segera membuka dan membaca hasil tes DNA tersebut. Minanti kemudian membaca surat itu dengan seksama namun pada bagian akhir surat tersebut, raut wajahnya berubah, ia kemudian menatap Bram.


“Apa maksud semua ini?”


“Sebelumnya aku mau minta maaf padamu, sebenarnya aku sudah mengambil sampel rambut kamu dan Tania untuk dilakukan tes DNA.”


“Kenapa kamu melakukan ini padaku Bram?!”


“Aku hanya ingin membuktikan saja apakah kamu sudah mengatakan semuanya atau belum, namun ternyata kamu belum mengatakan semuanya.”

__ADS_1


“Bicara apa kamu ini?”


“Apakah hasil tes DNA itu belum membuktikan apa pun?”


“Tidak, hasil tes DNA ini pasti salah.”


“Minanti, mau sampai kapan kamu akan menolak kenyataan?”


“Aku tidak menolak kenyataan Bram, kamu yang sudah mengada-ngada dan aku tidak dapat menerima semua ini.”


Setelah mengatakan itu Minanti kemudian keluar dari dalam kamarnya dengan berlinang air mata, Olaf yang baru saja tiba di rumah nampak terkejut dengan sang mama yang keluar dari dalam kamar dengan menangis.


“Mama, apa yang terjadi?”


Namun Minanti sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Olaf itu, ia terus pergi meninggalkan Olaf menuju taman belakang rumah.


*****


Keesokan harinya, Minanti mendatangi apartemen Tania, kini wanita tersebut sudah berdiri di depan pintu kamar apartemen Tania, ia menekan bel pintu beberapa kali namun sampai saat ini belum juga ada jawaban dari dalam.


“Apakah dia ada di dalam?”


Minanti kemudian mencoba menelpon Tania, namun ponsel wanita itu tidak aktif yang makin membuat Minanti jad heran.


“Tumben sekali ponselnya tidak aktif, ke mana dia saat ini?”


Minanti masih berdiri di depan pintu sambil mengetuk pintu apartemen Tania, wanita itu juga memanggil nama Tania untuk membukakan pintu, setelah beberapa lama ia berdiri di sana, akhirnya Tania pun membukakan pintunya.


“Tania, Ya Tuhan syukurlah kalau kamu baik-baik saja, aku sudah khawatir kalau tadi sesuatu hal yang buruk terjadi padamu.”


“Kenapa anda datang ke sini?”


“Kamu nampak tidak sehat, apakah kamu baik-baik saja?”


“Iya, aku baik-baik saja, namun apa yang membuat anda datang ke sini?”


“Apakah kamu tidak memberikanku izin untuk masuk terlebih dahulu?”


Maka kemudian Tania pun memberikan izin pada Minanti masuk ke dalam apartemennya, setelah masuk kini Minanti kembali menanyakan pada Tania apa yang sebenarnya terjadi saat ini, namun Tania masih diam.


“Tania, kamu bisa mengatakannya padaku.”


“Nyonya… saya ….”


“Ada apa Tania? Katakan saja padaku.”


“Sebenarnya… saya ….”


“Kamu bisa mengatakannya Tania, kamu tak perlu ragu.”

__ADS_1


__ADS_2