
Ferdian mencari-cari di mana keberadaan Tania saat ini, namun ia sama sekali tidak dapat menemukan di mana keberadaan wanita itu. Ferdian merasa takut dan panik kalau sesatu hal yang buruk menimpa Tania saat ini.
“Bagaimana kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada Tania saat ini?”
Ferdian kembali mencoba menghubungi nomor Tania, namun nomor ponsel wanita itu juga tidak aktif, Ferdian memutuskan untuk mencari Tania di tempat yang lain, namun baru saja ia hendak membuka pintu kamar apartemen, sosok yang ia cari sejak tadi muncul di depan pintu. Tania pun nampak begitu terkejut ketika melihat sosok Ferdian ada di dalam kamar apartemennya.
“Apa yang kamu lakukan di dalam sana?”
Ferdian tidak menjawab pertanyaan dari Tania itu dan langsung memeluk tubuh wanita yang ia cintai, ia begitu lega karena akhirnya ia dapat bertemu dengan Tania.
“Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
****
Ferdian menghela napasnya lega karena rupanya Tania hanya keluar sebentar dan ponselnya mati karena kehabisan daya, Ferdian kemudian mengajak Tania untuk keluar makan siang bersama. Tania nampak menolak
ajakan Ferdian itu karena memang ia sudah makan siang bersama dengan Olaf tadi, namun ia sengaja tidak mengatakan hal itu pada pria ini karena ia sudah dapat menduga bahwa Ferdian pasti tidak akan menerimanya.
“Tania, kenapa kamu hanya diam saja?”
“Apa? Aku tadi sudah makan siang.”
“Benarkah? Kamu sudah makan siang? Dengan siapa?”
“Dengan temanku.”
“Benarkah?” tanya Ferdian yang kini nampak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tania barusan.
“Tentu saja Ferdian, aku mengatakan yang sesungguhnya,
sudahlah kamu jangan cemburu begitu.”
“Baiklah, aku percaya padamu, aku minta maaf karena aku agak cemburuan.”
“Tidak masalah, aku juga minta maaf karena menolak ajakan makan siang darimu karena memang aku sudah makan siang tadi.”
“Baiklah kalau begitu, sepertinya aku harus kembali ke kantor sekarang.”
“Hati-hati di jalan, aku minta maaf sekali lagi karena sudah mengecewakanmu dan membuat kamu datang ke sini.”
“Sama sekali tidak masalah kok, aku kembali dulu, pokoknya kalau ada sesuatu hal yang terjadi, tolong kamu segera beri tahu aku, apakah kamu mengerti?”
“Iya, aku mengert.”
Ferdian pun melangkahkan kakinya pergi dari apartemen Tania, selepas kepergian pria itu barulah Tania dapat menghela napasnya lega.
__ADS_1
****
Ketika Tania tengah duduk seorang diri di ruang tengah sambil menonton televisi, ia mendengar suara bel pintu berbunyi, ia segera pergi ke pintu untuk melihat siapakah gerangan yang datang berkunjung ke apartemennya, dan saat ia melihat ke monitor rupanya orang yang berkunjung adalah Minanti, ia pun segera membukakan pintu untuk wanita tersebut.
“Silakan masuk, Nyonya.”
“Terima kasih.”
Kini Minanti sudah masuk ke dalam apartemen milik Tania, wanita itu nampak memperhatikan sekeliling sementara Tania membuatkan Minanti minuman, mereka berdua pun duduk di sofa ruang tengah sambil menikmati teh yang dibuat oleh Tania saat ini.
“Terima kasih.”
“Tidak masalah, Nyonya, silakan.”
Setelah meminum teh yang sudah disediakan oleh Tania, kini Tania bertanya pada Minanti kira-kira ada apa gerangan yang membuat Minanti sampai datang berkunjung ke apartemennya saat ini.
“Apakah ada sesuatu yang ingin anda bicarakan denganku?”
“Iya, memang ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, Tania. Dan hal ini menyangkut tentang Jihan yang sudah dipenjara.”
“Memangnya ada masalah apa dengan Jihan, Nyonya?”
“Sejujurnya aku senang ketika wanita itu mengakui kesalahannya pada semua orang dan berani bersikap kesatria dengan menyerahkan dirinya ke polisi untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya di mata hukum, namun yang jadi masalahnya adalah aku menjadi khawatir kalau mamanya tidak suka dengan itu dan dia berniat untuk melakukan sesuatu yang jahat padamu.”
****
“Kamu nampak tidak baik-baik saja di penjara.”
“Penjara bukanlah tempat untuk bersenang-senang.”
“Kamu benar, kenapa kamu menolak bantuan mamamu padahal kamu bisa saja lolos dari hukuman penjara?”
“Karena aku terbayang mendiang papaku, Ferdian. Aku menyesal karena sampai di detik terakhir dia menghembuskan napasnya di dunia ini, aku belum mewujudkan impiannya.”
“Apa itu?”
“Aku harus berdamai dengan Tania.”
“Dan apakah kamu akan melakukan itu?”
“Rasanya sulit dan tidak masuk akal ketika aku harus berdamai dengan wanita itu, dia sudah membuat banyak sekali kekacauan dalam hidupku selama ini, namun… aku belajar satu hal selama aku mendekam di sini yaitu memahami orang lain dari sudut pandangnya.”
“Sepertinya penjara berdampak baik padamu, aku seperti tidak berbicara dengan sosok Jihan yang selama ini aku kenal.”
Jihan nampak tersenyum dengan ucapan Ferdian itu, tidak terasa waktu jenguk sudah hampir habis, Ferdian pun berpamitan pada Jihan.
__ADS_1
“Terima kasih karena kamu sudah mau mengunjungiku.”
“Tidak masalah, aku permisi dulu.”
****
Ferdian baru saja melangkahkan kakinya keluar dari kantor polisi dan ia berpapasan dengan Olaf, ia segera menghentikan langkah kakinya dan begitu pula dengan Olaf yang ketika mereka berpapasan, maka ia pun
juga menghentikan langkah kakinya.
“Mau apa kamu datang ke sini?” tanya Ferdian penuh rasa curiga.
“Apakah kamu baru saja mengunjungi Jihan?” tanya Olaf.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”
“Aku ingin bertemu dengan Jihan, namun sepertinya karena kamu sudah bertemu dengan Jihan, maka jatah berkunjungnya sudah habis, sepertinya besok aku harus kembali ke sini lagi.”
“Tunggu dulu, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”
“Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?”
“Ini menyangkut tentang Tania.”
“Kenapa dengan wanita itu?”
“Lebih baik kita cari tempat untuk bicara.”
“Baiklah.”
Maka kemudian mereka pergi ke sebuah café untuk mereka bicara, Ferdian dan Olaf sudah memesan minuman pada pelayan tadi dan saat ini mereka sudah duduk saling berhadapan namun belum ada satu pun kalimat yang keluar dari mulut mereka.
“Baiklah, aku tidak ingin berbasa-basi denganmu, sebenarnya apa hubungan kamu dengan Tania?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Mamamu sangat dekat dengan Tania, aku jadi penasaran, seperti apa hubungan keluarga kalian dengan Tania.”
“Sepertinya pertanyaan itu tidak perlu aku jawab.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak berhak menjawab pertanyaan itu, kalau kamu memang penasaran maka kamu bisa tanyakan sendiri pada mamaku secara langsung.”
“Baiklah, kalau aku ganti pertanyaannya, apakah kamu menyukai Tania?”
__ADS_1