
Ester nampak terperangah dengan jawaban yang diberikan oleh orang ini yang tidak lain adalah Galang. Tentu saja Ester penasaran sebenarnya kenapa Galang sampai menjenguk Jihan di tempat ini, ia pun jadi curiga bahwa sebenarnya Galang dan Jihan memiliki hubungan khusus.
“Katakan padaku yang sejujurnya, kalian memiliki hubungan apa saat ini.”
“Kami tidak memiliki hubungan apa pun saat ini, hanya teman.”
“Kamu pikir dapat menipuku?! Kamu dan Jihan pasti menjalin sebuah hubungan, bukan?”
“Saya mengatakan yang sejujurnya, terserah Nyonya apakah percaya atau tidak.”
“Kamu sudah pernah membuat anakku kecewa dan terpuruk, berani sekali kamu berani menampakan wajahmu di hadapanku.”
“Saya minta maaf atas semua yang terjadi di masa lalu.”
“Apakah dengan permintaan maafmu, semua dapat kembali?!”
“Maaf namun saya ingin menanyakan sesuatu pada Nyonya.”
“Kamu ingin menanyakan apa padaku?”
“Apakah sebelumnya Nyonya sudah tahu perihal hubunganku dengan Jihan?”
“Kenapa kamu malah menanyakan hal tersebut?”
“Apakah Nyonya yang membuat hubungan kami memburuk?”
“Kamu benar-benar sembarangan dalam berbicara, ya! Saya tidak tahu apa pun soal itu!”
****
Setelah melalui beberapa lobi di sana dan di sini, maka Ester akhirnya diizinkan untuk masuk dan menjenguk Jihan, pada awalanya Jihan sempat menolak untuk bertemu dengan Ester namun karena bujukan polisi yang berjaga, maka Jihan pun kemudian mau menemui Ester walaupun ia sebenarnya sedang tidak ingin berbicara dengan sang mama.
“Mau apa lagi Mama ke sini?”
“Mama ingin menanyakan satu hal padamu dan Mama harap kamu akan menjawab pertanyaan Mama dengan jujur.”
“Lebih baik Mama cepat katakan alasan Mama datang ke tempat ini karena aku tidak memiliki banyak waktu.”
“Kenapa pria itu datang menjengukmu?”
“Siapa yang Mama maksud?”
“Kamu jelas tahu siapa orang yang Mama maksud Jihan, kamu tidak perlu berpura-pura.”
“Baiklah, dia memang menjengukku tadi, apakah Mama puas?”
__ADS_1
“Kalian berdua ada hubungan apa sebenarnya?”
“Kami adalah sepasang kekasih di masa lalu, apakah Mama puas?”
“Bukan di masa lalu, namun di masa kini.”
“Tidak, kami tidak memiliki hubungan apa pun.”
“Apakah kamu tidak sedang menutupi apa pun dari Mama?”
“Ma! Aku sudah mengatakan semuanya pada Mama, terserah Mama mau percaya atau tidak, aku tidak peduli soal itu,” ujar Jihan yang hendak pergi meninggalkan Ester namun ia teringat sesuatu hingga Jihan berhenti.
“Aku tidak suka kalau Mama menggunakan kekuasaan Mama untuk masuk ke tempat ini, kalau memang Mama mau masuk ke tempat ini, maka lebih baik Mama serahkan diri Mama sekarang juga.”
****
Tania sedang mengunjungi makam kedua orang tuanya dan juga Handi, ia mengusap nisan makam ketiganya sebelum ia memanjatkan doa agar mereka bertiga diberikan ketenangan di alam sana. Setelah berdoa, kini Tania
hendak pergi dari area pemakaman, namun langkah kakinya terhenti ketika melihat sosok Ester berdiri tidak jauh darinya saat ini. Ester kemudian berjalan mendekati Tania yang berdiri mematung di tempatnya, suasana pemakaman pada siang ini cukup sepi hingga Ester tidak perlu khawatir kalau ada seseorang yang akan mencuri dengar perbincangan mereka.
“Rupanya kamu ada di sini.”
“Kenapa anda mencariku?”
“Apakah anda yakin dapat melakukan itu?”
“Berani sekali kamu meremehkanku! Kalau bukan karena Minanti, kamu itu bukan siapa-siapa!”
“Maaf, namun saya masih ada urusan penting, saya permisi dulu.”
Tania pergi dari pemakaman itu, namun tangannya dicekal oleh Ester, wanita itu tidak akan membiarkan Tania pergi begitu saja padahal ia belum selesai berbicara dengannya.
“Berani sekali kamu mengabaikanku!”
“Lepaskan tangan anda!”
“Berani sekali kamu membentakku!”
Ester hendak menampar Tania, namun dengan sigap Tania menahan tangan Ester dan mendorong wanita itu hingga jatuh ke tanah, Ester nampak kesal dengan yang dilakukan oleh Tania.
“Saya sudah bicara baik-baik pada anda, namun anda tetap saja tidak mau menggubrisnya, maka jangan salahkan saya kalau harus melakukan hal tersebut.”
****
Olaf nampak ragu apakah ia harus menelpon Tania saat ini atau tidak, sejujurnya ia tidak percaya seratus persen dengan apa yang Minanti katakan kemarin, hati kecilnya masih menolak semua yang dikatakan oleh Minanti bahwa Tania dan Ferdian telah melakukan sesuatu. Olaf harus menanyakan hal tersebut pada Tania secara langsung, namun kalau ia melakukan hal itu, mungkin saja pertanyaannya akan membuat Tania malah tersinggung dan hubungan mereka akan menjadi buruk padahal Olaf tidak menginginkan hal tersebut.
__ADS_1
“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?”
Setelah jam kantor berakhir, Olaf bergegas keluar dari ruangan kerjanya dan masuk ke dalam lift, di dalam lift ia berpikir mengenai apa yang akan ia lakukan setelah ini, apakah ia harus mendatangi Tania dan menanyakan hal tersebut secara langsung atau bagaimana? Saat ini dia sudah tiba di parkiran mobil, ia langsung masuk ke dalam kendarannya dan mengenakan sabuk pengaman sambil masih berpikir apa yang harus ia lakukan saat ini.
“Baiklah, aku akan melakukannya.”
****
Olaf mengemudikan mobilnya menuju apartemen Tania, ketika ia sudah memarkirkan kendarannya, Olaf bingung apa yang harus ia lakukan saat ini, apakah ia harus menghubungi Tania terlebih dahulu atau ia naik saja langsung ke sana? Saat ia sedang bingung itu, ia melihat sebuah mobil parkir di sebelah mobilnya, Olaf memperhatikan si pengemudi mobil turun dari mobilnya dan berjalan menuju lift, Olaf segera turun dari dalam mobilnya dan berlari menuju orang tersebut.
“Tunggu dulu.”
Orang tersebut memberhentikan langkahnya dan berbalik badan, Olaf menatap sosok pria ini dan begitu pula dengan orang yang tidak lain adalah Ferdian ini menatap Olaf.
“Apa yang membawamu ke sini?”
“Bukankah itu harusnya pertanyaan yang aku ajukan padamu?”
Olaf bingung harus menjawab apa pertanyaan yang diajukan oleh Ferdian ini, sementara Ferdian nampak tersenyum pada Olaf, ia pun kemudian mengatakan sesuatu padanya.
“Apakah kamu datang ke sini untuk menemui Tania?”
“Apa?”
“Sudah aku duga, kamu pasti datang ke sini untuk bertemu dengan Tania.”
“Kalau aku memang datang ingin bertemu dengan Tania, memangnya ada apa?”
“Apa kepentinganmu untuk bertemu dengan kekasihku?”
“Apakah hal tersebut harus aku jawab?”
“Tentu saja, apakah kamu datang ke sini untuk menggoda
kekasihku?”
“Sayangnya aku bukan pria seperti itu, aku datang ke sini karena seseorang mengatakan padaku bahwa ….”
“Apa? Katakan padaku.”
“Kamu dan Tania melakukan sesuatu yang terlarang.”
“Jadi kamu sudah dengar rupanya.”
“Apakah hal tersebut benar?”
__ADS_1