
Minanti dan Tania pergi ke dokter untuk memeriksakan diri Tania apakah wanita itu memang tengah hamil atau tidak dan hasil yang didapatkan oleh Tania sungguh membuatnya kecewa, ia dinyatakan sudah berbadan dua. Tania pulang dengan diantar oleh Minanti ke apartemennya karena Minanti takut akan terjadi sesuatu pada Tania kalau ia membiarkan wanita itu pulang sendirian maka sesuatu hal yang buruk dapat terjadi padanya.
“Apa yang harus aku lakukan saat ini?” lirih Tania saat ia sudah ada di apartemennya.
Minanti pergi ke dapur untuk memberikan minum untuk Tania, setelah mengambil segelas air ia menaruh gelas itu di depan Tania seraya menggenggam tangan Tania.
“Sudahlah Tania, jangan seperti ini.”
“Namun apa yang harus saya lakukan selanjutnya Nyonya?”
“Apakah kamu akan menggugurkan anak itu?”
Tania terkejut dengan pertanyaan yang Minanti ajukan barusan, ia mengusap perutnya, Minanti menghela napasnya panjang dan kemudian memeluk Tania dengan erat.
“Saya tahu bahwa ini bukanlah perkara yang mudah, kita semua tentu saja tidak ingin hal ini terjadi, bukan?”
***
Ferdian datang ke apartemen Tania, ia nampak heran ketika Tania lama sekali membukakan pintu apartemennya, baru saja ia hendak membuka pintu itu menggunakan tombol yang ada di dekat knop, pintu terbuka dan menampakan sosok Minanti hingga membuat Ferdian terkejut.
“Nyonya?”
“Kamu rupanya, masuklah.”
Ferdian pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartemen Tania, sejujurnya ia ingin bertanya pada Minanti kenapa wanita ini bisa ada di apartemen Tania, namun ia masih cukup sopan untuk tidak langsung bertanya hal tersebut pada Minanti.
“Tania membutuhkan kamu sekarang.”
“Tania? Apa yang terjadi padanya? Apakah sesuatu hal yang buruk terjadi padanya?”
“Iya, sesuatu hal yang buruk terjadi padanya, dan dia sangat kalut saat ini.”
“Nyonya, sebenarnya apa yang terjadi pada Tania, bisakah anda mengatakannya pada saya?”
“Ferdian, Tania hamil.”
Ferdian nampak terkejut ketika mendengar ucapan Minanti barusan, ia tidak menyangka bahwa rupanya Tania benar-benar hamil, ia pun bertanya pada Minanti mengenai di mana keberadaan Tania saat ini.
“Dia ada di kamarnya saat ini.”
“Baiklah, terima kasih.”
Ferdian kemudian pergi ke kamar Tania, ia mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar Tania. Di dalam kamar itu, nampak Tania tengah terduduk di tepian kasur dan Ferdian kemudian menghampiri Tania dan duduk di sebelahnya.
“Tania… aku sudah dengar semuanya.”
****
Minanti baru saja tiba di rumah, ia bertanya pada asisten rumah tangganya mengenai Olaf, asisten rumah tangganya mengatakan bahwa saat ini Olaf belum pulang. Minanti nampak heran ketika mengetahui bahwa saat
ini putranya itu belum pulang, ia kemudian mencoba menelpon Olaf namun ponsel putranya itu tidak aktif.
__ADS_1
“Mama dari mana saja?” tanya Juan yang menghampiri Minanti.
“Di mana Olaf?” tanya Minanti.
“Aku tidak tahu dia ada di mana, aku pikir dia sudah pulang.”
“Ya Tuhan, dia itu ada di mana sebenarnya sekarang.”
“Memangnya ada apa Mama mencari Kak Olaf?”
“Bukan urusanmu.”
Minanti kemudian pergi menuju kamarnya sementara Juan nampak penasaran sebenarnya apa yang saat ini tengah ingin dibicarakan oleh Minanti dengan Olaf, sepertinya hal tersebut merupakan sebuah hal yang penting.
Ketika Minanti baru saja masuk ke kamar, suaminya bertanya dari mana saja Minanti seharian ini, namun wanita itu tidak menjawab pertanyaan suaminya, ia masih mencoba menghubungi Olaf namun tetap saja ponsel Olaf tidak dapat dihubungi.
“Minanti, aku bicara padamu,” ujar Bram.
“Aku seharian ini menemani Tania,” ujar Minanti.
“Tania? Memangnya ada apa dengan wanita itu?”
“Dia… baru saja mendapatkan hari yang buruk.”
“Apa maksudmu ini?”
“Dia hamil.”
dengan apa yang ia katakan barusan.
****
Ferdian pagi ini mengatakan pada kedua orang tuanya bahwa ia dan Tania akan segera menikah, tentu saja rencana Ferdian itu mendapatkan tentangan dari kedua orang tuanya yang menganggap bahwa pernikahan
Ferdian yang baru saja bercerai akan membuat citra perusahaan dan keluarga mereka hancur.
“Apakah kamu tidak memikirkan dampak jangka panjang atas perbuatanmu itu?”
“Aku sudah memikirkannya dengan masak.”
“Kalau kamu memang sudah memikirkan hal tersebut dengan masak, kenapa kamu mengatakan hal itu pada kami?”
“Sebab Tania hamil.”
Kedua orang tuanya nampak terkejut dengan apa yang barusan Ferdian katakan, namun sebelumnya Ferdian sudah menduga bahwa jawaban darinya itu akan membuat kedua orang tuanya terkejut bukan main.
“Ferdian, apakah kamu main-main?”
“Main-main? Untuk apa aku main-main? Aku mengatakan hal yang sebenarnya.”
“Kamu itu memang benar-benar!”
__ADS_1
Tiba-tiba saja sang papa tak sadarkan diri setelah mendengar fakta bahwa putranya telah menghamili wanita lain, sang mama nampak panik dan berusaha membangunkan suaminya yang tak sadarkan diri.
“Suamiku, bangun!”
Ferdian nampak sama sekali tidak berinisiatif untuk membantu mamanya untuk membawa sang papa sampai akhirnya asisten rumah tangga membawa papanya ke dalam kamar dan mereka segera menelpon dokter keluarga.
****
Olaf mendengar bahwa semalam Minanti mencarinya, semalam ia pulang larut malam karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, maka pagi ini karena hari libur ia berniat untuk menanyakan ada apa
gerangan sampai Minanti mencarinya.
“Mama.”
“Sayang, kamu dari mana saja semalam?”
“Semalam aku lembur, ponselku kehabisan daya.”
“Syukurlah kalau kamu tidak kenapa-kenapa.”
“Semalam aku dengar ada sesuatu yang ingin Mama katakan padaku, ya? Apa itu, Ma?”
“Oh soal itu ….”
“Apa itu?”
“Kita bicara di taman belakang saja, ya.”
“Baiklah.”
Maka kemudian mereka berdua menuju taman belakang rumah untuk berbicara, Minanti nampak bingung harus mengatakan apa pada Olaf, fakta bahwa Tania mengandung anaknya Ferdian pasti membuat hati Olaf hancur,
namun akan lebih menyakitkan nantinya kalau Olaf mengetahuinya terlambat.
“Ma, kenapa hanya diam? Katanya ada sesuatu yang ingin Mama katakan padaku?”
“Iya Nak, memang ada sesuatu yang ingin Mama katakan padamu, dan ini menyangkut tentang Tania.”
“Tania? Memangnya ada apa dengan dia, Ma?” tanya Olaf penasaran.
“Tania… dia ….”
“Ma, apakah sesuatu hal yang buruk terjadi padanya? Tolong katakan padaku, Ma,” desak Olaf.
“Nak… Mama harap kamu kuat mendengar semua ini.”
“Apa yang sebenarnya ingin Mama katakan?”
“Tania… dia positif hamil.”
Olaf nampak terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Minanti, ia kemudian membuang wajahnya ke arah lain, Minanti tahu bahwa hati Olaf pasti remuk redam saat ini saat mengetahui bahwa Tania sedang hamil, namun apa boleh buat? Semua sudah terjadi.
__ADS_1