
Juan sampai di apartemen Stefani dengan wajah yang ditekuk, Stefani tentu saja merasa heran dengan apa yang terjadi pada Juan sebelum ia sampai di sini karena sepertinya mood pria ini sedang tidak baik.
“Apa yang terjadi padamu?”
“Kakakku, dia menyebalkan sekali.”
“Oh soal kakakmu.”
“Begitulah, dia selalu saja ikut campur masalahku padahal aku tidak pernah mencampuri urusan pribadinya.”
“Sudahlah Juan, kamu tidka perlu memikirkan kakakmu di sini, bukankah aku mengundangmu untuk makan malam agar kita tidak membicarakan hal yang membuat mood menjadi buruk?”
“Kamu benar, maafkan aku.”
“Ah, kamu tak perlu meminta maaf, ayo ke sini.”
Stefani kemudian membawa Juan menuju meja makan yang mana di sana wanita itu sudah menyiapkan berbagai hidangan yang menggungah selera.
“Kamu membuat semua ini?”
“Tentu saja tidak, aku bukan koki yang handal.”
“Tidak apa, aku tetap suka kok.”
“Bagaimana sebelum kita menyantap makanan ini, kita bersulang dulu.”
“Ide yang bagus.”
Maka kemudian Stefani dan Juan pun bersulang dan meminum segelas anggur yang sudah dipersiapkan oleh wanita itu, Stefani menatap ke arah Juan yang sedang meneguk minumannya tersebut.
****
Malam sudah berganti pagi namun Juan tidak kembali ke rumah, Minanti sudah mencoba menelponnya sejak semalam namun ponsel Juan tidak aktif dan hal tersebut membuat dirinya menjadi khawatir.
“Apakah Juan belum pulang juga?” tanya Olaf yang baru saja turun dari lantai dua.
“Iya, Mama sudah mencoba menelponnya, namun teleponnya selalu saja tidak aktif sejak semalam,” jawab Minanti.
“Dia pasti sedang ada di apartemen Stefani saat ini.”
“Bagaimana bisa kamu tahu?”
“Sebenarnya semalam dia bilang padaku kalau dia akan pergi ke apartemen Stefani, aku sudah mencoba menghalanginya namun dia itu keras kepala, dia tak mau mendengarkan perkataanku.”
“Ya Tuhan, kalau begitu Mama akan pergi ke sana.”
“Aku ikut,” ujar Olaf.
__ADS_1
“Kalian mau pergi ke mana pagi-pagi begini?” tanya Bram.
“Kami akan pergi ke apartemen Stefani, kata Olaf semalam Juan pergi ke sana dan sampai pagi ini dia belum juga kembali.”
“Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan dan segera kabari aku kalau sesuatu hal yang buruk terjadi pada kalian.”
“Baiklah, kami pergi dulu.”
Olaf dan Minanti pun pergi ke apartemen Stefani sementara itu Felli yang baru saja turun nampak heran karena mertuanya dan Olaf sudah pergi pagi-pagi begini.
“Mereka akan pergi ke mana, Pa?”
“Mereka akan pergi ke apartemen Stefani, katanya Juan bermalam di sana.”
*****
Sepanjang perjalanan menuju apartemen Stefani, Minanti nampak gelisah sekali, ia benar-benar takut kalau sesuatu yang tak diinginkan terjadi di antara mereka berdua.
“Ma, tenanglah.”
“Bagaimana bisa Mama tenang Olaf? Juan itu jatuh cinta pada Stefani dan bisa-bisa mereka melakukan sesuatu yang lebih dari itu.”
“Aku mengerti apa yang sedang Mama cemaskan, namun sebentar lagi kita akan segera sampai di apartemen itu dan kita akan tahu apa yang mereka lakukan.”
“Semoga saja kita tidak terlambat.”
tinggal di apartemen ini.
“Stefani buka pintunya!” seru Minanti.
“Stefani, aku tahu kamu ada di dalam, cepat buka pintunya!” seru Olaf yang ikut menggedor pintu kamar apartemen Stefani.
Tidak lama kemudian Stefani pun membukakan pintu untuk mereka, nampak wanita itu menutupi tubuhnya dengan selimut dan hal tersebut membuat Minanti terkejut bukan main.
“Apa yang kalian lakukan semalam? Di mana anakku?!”
“Dia ada di dalam.”
Minanti langsung menerobos masuk ke dalam apartemen Stefani itu, begitu pula dengan Olaf yang mengekori sang mama masuk ke dalam apartemen Stefani, ketika mereka membuka pintu kamar tidur Stefani nampak Juan yang tengah tertidur tanpa mengenakan pakaian.
“Anak ini benar-benar! Bangun!” seru Minanti sambil memukuli Juan dengan bantal.
Juan pun segera membuka matanya dan terkejut ketika mendapati Minanti dan Olaf ada di dalam kamar tidur Stefani.
“Kalian? Kenapa ada di sini?”
*****
__ADS_1
Juan sudah mengenakan kembali pakaiannya, ia tidak ingat sama sekali apa yang ia dan Stefani lakukan semalam, ketika ia bangun tidur tadi, tiba-tiba ia tidak menganakan apa pun dan tertidur di dalam kamar Stefani.
“Kenapa kamu melakukan semua ini Juan? Kamu masih suami sah dari Felli!” seru Minanti.
Namun Juan tidak menanggapi ucapan Minanti barusan, ia memilih untuk bungkam, Olaf pun juga jadi emosi karena Juan tega-teganya mengkhianati istrinya yang ada di rumah.
“Kamu tidur dengan wanita lain sedangkan istrimu ada di rumah semalam, bagaimana bisa kamu tega melakukan ini pada istrimu, Juan? Kamu sudah dibutakan oleh wanita ini!”
“Kak, bisakah kamu tidak perlu ikut campur masalah rumah tanggaku?!” seru Juan.
“Juan, apa yang kakakmu katakan itu benar, tidak seharusnya kamu tidur dengan wanita lain padahal istrimu ada di rumah,” ujar Minanti.
“Aku sudah tidak mencintai dia lagi,” ujar Juan.
“Apa maksudmu? Kamu dan Felli sudah berpacaran lebih dari 4 tahun dan pernikahan kalian sudah akan memasuki usia yang ke 2 namun tega-tega sekali kamu bilang sudah tidak mencintainya lagi?!” seru Olaf.
“Aku pikir aku dapat melupakan Stefani setelah bersama dengan Felli, namun aku salah, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku mencintai Stefani.”
PLAK
Sebuah tamparan mendarat di wajah Juan, Minanti nampak begitu emosi saat mendengar ucapan Juan barusan, walaupun dia bukanlah ibu kandung Juan namun ia tidak dapat membenarkan apa yang Juan lakukan ini.
****
Felli janjian akan bertemu dengan Ricky di sebuah taman, hari ini pemuda itu mendapatkan jatah libur oleh bosnya di café hingga akhirnya mereka berdua pun sepakat untuk bertemu di taman ini.
“Maaf sudah membuatmu menunggu lama,” ujar Ricky yang baru datang.
“Ah tidak kok, aku baru saja sampai,” ujar Felli.
“Jadi, ada apa? Kenapa kamu mengajakku bertemu di sini?”
“Ricky, aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”
“Apa? Ke mana? Apakah suamimu tahu?”
“Sudahlah, suamiku sedang ada urusan dengan keluarganya, dia tidak akan tahu kalau kita akan pergi bersama.”
“Namun Felli, aku tidak mau kesalah pahaman seperti waktu itu kembali terulang.”
“Ricky, percaya padaku, kita tidak akan melakukan apa pun, aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat saja, dan tempat itu pastinya bukan hotel.”
Ricky nampak tertawa mendengar ucapan Felli barusan, maka ia pun masuk ke dalam mobil wanita itu dan Felli pun melajukan kendaraannya menuju suatu tempat yang tidak lain adalah sebuah mall.
“Mall?”
“Iya, ayo kita turun.”
__ADS_1