
Olaf menceritakan apa yang dilakukan oleh Stefani padanya tadi pagi kepada kedua orang tuanya, Minanti yang mendengar cerita Olaf tentu saja geram bukan main, ia ingin sekali melabrak Stefani atas tindakan kurang ajarnya itu, namun Bram menahan agar Minanti tidak melakukan hal itu pada Stefani.
“Wanita itu sudah kurang ajar pada anak kita, dia sudah menikah dengan Juan namun dia masih saja menggoda Olaf.”
“Aku tahu kalau kamu marah dan aku pun juga, namun jangan sampai kamu melukainya karena saat ini dia sedang hamil.”
“Aku tidak peduli kalau dia sedang hamil pun, wanita itu sudah benar-benar keterlaluan.”
“Ma, sebenci apa pun Mama pada Stefani jangan sampai Mama juga membahayakan anak di dalam perut Stefani, dia tidak bersalah dalam hal ini,” ujar Olaf.
“Apa yang dikatakan oleh Olaf benar Minanti, tahan kekesalanmu pada wanita itu setidaknya sampai wanita itu melahirkan anaknya.”
Minanti kemudian menghela napasnya panjang untuk meredakan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubunnya, tidak lama kemudian Juan dan Stefani muncul dan duduk di kursi meja makan.
“Selamat pagi semuanya.”
*****
Nanda hari ini berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk Felli, sahabatnya itu bertanya pada Felli mengenai kejadian pada hari itu, Felli nampak belum mau bicara banyak soal kejadian itu karena ia masih mengalami trauma dan Nanda pun paham soal itu. Nanda kemudian mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain terutama yang berhubungan dengan Ricky.
“Ngomong-ngomong, apakah Ricky sudah datang menjengukmu?”
“Ricky? Dia sudah datang kemarin.”
“Oh begitu rupanya, aku pikir dia hanya beralasan saja ketika dia bilang hendak menjengukmu di rumah sakit.”
“Nanda, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”
“Apa yang hendak kamu tanyakan padaku?”
“Begini, apakah benar yang Ricky katakan bahwa dia tidak fokus bekerja belakangan ini karena memikirkanku?”
Nanda nampak menatap ke arah Felli dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, namun tatapan dari Nanda itu membuat Felli menjadi tidak nyaman dan tidak lama kemudian Nanda pun tersenyum penuh arti padanya hingga
membuat Felli menjadi heran.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?”
“Sepertinya kamu penasaran sekali soal Ricky, ya?”
“Nanda, jangan mulai deh.”
“Baiklah, apa yang Ricky katakan itu memang benar, aku bahkan telah menegurnya beberapa kali.”
“Apakah kamu akan memecatnya?”
__ADS_1
“Tentu saja aku akan memecatnya kalau dia masih tidak bisa fokus dalam bekerja, aku mengatakan padanya untuk memisahkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan.”
*****
Olaf menemui Tania di apartemen wanita itu, Tania nampak penasaran dengan apa yang membuat Olaf sampai datang ke sini untuk menemuinya dan kini Olaf pun bercerita apa yang terjadi tadi pagi. Tania yang mendengar cerita Olaf tentu saja ikut merasa kesal dengan yang dilakukan oleh Stefani, ia sudah menduga bahwa Stefani memang sengaja menikah dengan Juan untuk mendekati Olaf lagi.
“Aku sebenarnya sudah curiga pada wanita itu, dia pasti memiliki sebuah motif untuk menikah dengan Juan, dan rupanya benar saja,” ujar Tania.
“Namun kamu tidak perlu khawatir karena sampai kapan pun, hanya kamu yang ada di hatiku, aku tidak akan mungkin tergoda oleh wanita selain kamu.”
“Omong kosong.”
“Kenapa kamu mengatakan seperti itu? Apakah kamu tidak percaya padaku?”
“Bagaimana kalau aku bilang kalau aku tidak percaya padamu?”
“Kamu bilang tidak percaya padaku?”
Olaf mencondongkan wajahnya pada wajah Tania hingga membuat wanita itu menghindari wajah Olaf saat ini Tania sudah tidak dapat mengelak lagi karena jarak di antara wajahnya dan wajah Olaf sudah sangat dekat sekali.
“Olaf, apa yang hendak kamu lakukan?”
“Bukankah kamu bilang kalau tidak percaya padaku? Maka aku akan buktikan itu.”
“Jangan melakukan hal yang macam-macam, ya!”
*****
Sepulang dari kampus, Azka menjenguk Felli dan kebetulan saat ini hanya ada kakaknya saja sendirian di sana karena Hilda sedang pergi sebentar saat ini sementara papa mereka sedang bekerja di kantor, Azka kemudian duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Felli dan bertanya bagaimana kondisi Felli saat ini.
“Bagaimana kondisimu saat ini?”
“Seperti yang sudah kamu lihat saat ini.”
“Apa yang kamu dan Ricky bicarakan saat itu?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu?”
“Aku hanya penasaran saja apa yang dikatakan oleh pemuda itu padamu.”
“Dia hanya menanyakan bagaimana kabarku dan dia bilang kalau dia mencemaskanku, itu saja.”
“Benarkah? Apakah dia tidak ada niat untuk melamarmu?”
“Azka, kamu ini bicara apa, sih?”
__ADS_1
“Sudahlah Kak, kita semua sudah sama-sama tahu bahwa Ricky menyukaimu dan aku yakin bahwa sebenarnya di dalam hati kamu pun juga menyukainya.”
“Jangan konyol, Ricky itu seumuran denganmu, Azka.”
“Cinta kan tidak memandan usia, Ricky itu seperti pria dewasa yang siap mengayomimu.”
“Kok kesannya seperti kamu ingin sekali agar aku dan Ricky jadian, sih?”
“Bukannya begitu Kak, hanya saja…aku pikir Ricky dapat menghapus semua luka yang ada di hatimu secara perlahan.”
“Kalau soal itu aku yakin bahwa seiring dengan berjalannya waktu maka luka ini akan hilang dengan sendirinya.”
*****
Stefani hendak pergi ke suatu tempat namun Juan melarang wanita itu untuk pergi dari rumah ini, tentu saja Stefani merasa kesal karena dirinya tidak diizinkan oleh Juan untuk pergi dari rumah ini.
“Kenapa kamu tidak mengizinkanku pergi?”
“Karena aku adalah suamimu, aku berhak melarangmu pergi.”
“Tidak! Ini tidak adil! Katakan padaku alasannya kenapa kamu melarangku pergi?”
“Bukankah sudah aku katakan bahwa aku adalah suamimu?”
“Tidak! Aku yakin kalau kamu pasti memiliki alasan lain kenapa kamu tidak mengizinkanku pergi.”
“Stefani, aku sudah katakan bahwa aku melarangmu pergi dari rumah ini, maka turuti saja apa yang aku katakan!”
“Tidak! Katakan padaku apa alasannya!”
Minanti yang mendengar suara ribut pun menghampiri kamar Juan dan Stefani, wanita itu bertanya apa yang membuat mereka berdua menjadi ribut seperti ini.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berdua ribut?”
“Ma, Juan melarangku untuk pergi ke luar!” adu Stefani.
“Apakah yang dia katakan itu benar?” tanya Minanti pada anaknya.
“Iya, itu benar, aku melarangnya keluar,” jawab Juan tenang.
“Kenapa kamu melarangku pergi ke luar?!” seru Stefani.
“Karena aku tidak ingin kamu berkeliaran di luar rumah, apalagi saat ini kamu sedang hamil, bagaimana kalau nanti di jalan terjadi sesuatu hal yang buruk hingga akhirnya anak yang ada di dalam perutmu kenapa-kenapa?”
“Omong kosong, kenapa kamu jadi peduli padaku begitu?”
__ADS_1
“Stefani, harusnya kamu bersyukur karena Juan peduli padamu, kamu dibilangi oleh suami kok malah ngeyel? Kalau suamimu sudah mengatakan tidak boleh pergi, maka kamu tidak boleh pergi,” ujar Minanti.