
Tania kemudian kembali ke tempat duduknya saat Ferdian masih menunggu kedatangannya kembali, Ferdian kembali tersenyum pada Tania dan Tania pun nampak tersenyum padanya, Ferdian bertanya pada Tania apakah ia masih lama akan berada di restoran ini.
“Apakah kamu masih akan lama di restoran ini?”
“Aku sendiri tidak tahu, aku kan sedang menunggu orang, memangnya ada apa kamu bertanya begitu?”
“Apa? Oh tidak, hanya saja… apakah aku boleh meminta nomor ponselmu?”
“Nomor ponsel untuk apa?”
“Anu… aku ….”
“Tentu saja boleh.”
Ferdian nampak tidak menyangka dengan jawaban yang diberikan oleh Tania, Ferdian menyodorkan ponselnya pada Tania dan kemudian wanita itu mengetikan nomor ponselnya pada pria ini sebelum ia kembali menyerahkan ponsel itu pada Ferdian.
“Itu dia, aku sudah menyimpan nomorku di ponselmu.”
“Baiklah, terima kasih banyak, sepertinya aku harus pergi dulu dari restoran ini.”
“Baiklah, hati-hati di jalan.”
“Terima kasih.”
Maka setelah mendapatkan nomor ponsel Tania, Ferdian kemudian pergi dari restoran itu, setelah Ferdian pergi dari restoran barulah Minanti mendatangi meja Tania dan duduk di kursi yang sebelumnya ditempati oleh
Ferdian.
****
Ferdian pulang ke rumah dengan hati yang berbunga-bunga, rupanya tingkah Ferdian itu membuat Jihan merasa aneh, tidak biasanya pria ini pulang ke rumah dengan raut wajah yang gembira seperti itu.
“Kenapa sepertinya kamu bahagia sekali saat ini?”
“Rahasia.”
“Rahasia katamu?”
__ADS_1
Ferdian nampak tertawa kecil sebelum ia menghampiri Jihan dan menceritakan bahwa ia tadi bertemu dengan seorang wanita cantik dan ia diberikan nomor teleponnya, Jihan nampak mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan dari Ferdian barusan.
“Kenapa dengan wajahmu? Apakah kamu cemburu padaku?”
“Cemburu? Jangan harap aku cemburu padamu, hanya saja… aku penasaran seperti apa rupa wanita itu, sepertinya dia sakit mata ketika ia memutuskan untuk memberikan nomor ponselnya padamu.”
“Kamu mengatakan begitu karena kamu cemburu padaku, bukan? Ayolah mengaku saja.”
“Astaga orang ini, bukankah sudah aku katakan berkali-kali padamu bahwa aku sama sekali tidak cemburu, bisakah kamu tidak bicara sesuatu hal yang tidak masuk akal begitu?”
Setelah mengatakan itu, Jihan langsung pergi meninggalkan Ferdian, sementara di sana Ferdian masih senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya, ia benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya karena Ferdian mendapatkan nomor ponsel wanita yang membuatnya tertarik.
“Tania, namanya memang pasaran, namun aku suka dengan wajahnya yang cantik dan sikapnya yang anggun.”
****
Saat ini Olaf menatap layar ponselnya, ia ragu apakah ia harus menelpon Tania untuk mengajaknya makan malam atau tidak, setiap kali ia ingin menelpon nomor Tania, ia selalu saja mengurungkan niatnya itu, Olaf menghela napasnya berat, apakah langkah yang harus ia lakukan saat ini? Di tengah kebingungannya, ponselnya berdering dan menampakan nama Stefani di sana, tentu saja Olaf langsung menolak panggilan dari wanita itu dan kemudian ketika Stefani terus saja mencoba menghubunginya, Olaf malah mematikan ponselnya, Olaf pun memutuskan untuk pulang saja ke rumah walaupun sebenarnya ia ingin sekali mengajak Tania makan malam, namun ia tidak memiliki alibi yang pas untuk mengajak wanita itu makan malam bersamanya, ketika tiba di rumah ia nampak
terkejut ketika Stefani sudah berada di depan pagar rumah, ketika mobil Olaf muncul, maka Stefani langsung menghampiri mobil Olaf.
“Olaf, kita perlu bicara,” ujar Stefani mengetuk kaca mobil Olaf.
“Kamu tahu bahwa saat ini aku baru saja pulang kerja dan merasa lelah dan kamu akan membicarakan sebuah hal omong kosong? Lebih baik kamu pergi saja dari sini.”
****
Rupanya Jihan melihat semua itu dari dalam mobilnya, ia memperhatikan gestur tubuh Olaf yang nampak tidak suka dengan kehadiran wanita yang tidak lain adalah Stefani itu, bahkan sepertinya Olaf sangat marah pada wanita ini karena sampai menunjuk bahwa Stefani harus pulang sekarang juga, Jihan jadi penasaran sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa sepertinya dia sangat ngotot untuk dekat dengan Olaf?
“Siapa wanita itu sebenarnya, ya?”
Saat Jihan masih mengamati kedua orang yang sedang bertengkar itu, ponselnya berdering, dengan segera ia meraih ponselnya dan kemudian melihat siapa orang yang menelponnya saat ini, rupanya orang yang
menelponnya saat ini adalah Ester, Jihan nampak menghela napasnya berat sebelum akhirnya menjawab telepon dari sang mama ini.
“Ada apa Mama menelponku malam-malam begini?”
“Mama punya sesuatu yang ingin Mama sampaikan padamu.”
__ADS_1
“Kalau Begitu katakan saja sekarang.”
“Namun kamu harus menguatkan dirimu, ya?”
“Kenapa memangnya Mama mengatakan hal tersebut?”
“Sebenarnya, Mama tadi melihat suamimu sepertinya dia tertarik pada seorang wanita.”
“Apa yang sedang Mama bicarakan ini?”
“Mama tahu kalau ini sangat berat untukmu, namun Mama tidak akan mungkin salah dalam mengenali seseorang, Nak, Mama yakin kalau orang itu adalah suamimu.”
****
Tania sedang ada di rumah Handi, ia membalas beberapa pesan dari Ferdian, ia nampak tersenyum ketika Ferdian mengirimi beberapa pesan yang sebenarnya tidak perlu ia balas namun sengaja ia balas karena ia memiliki sebuah misi pada pria itu.
“Tania, sepertinya kamu sedang bahagia?” tanya Handi.
“Apa? Tidak kok, Om.”
“Benarkah? Namun sejak tadi Om perhatikan kamu senyum-senyum teus melihat ponselmu itu.”
“Lupakan saja soal itu, Om, ngomong-ngomong hari ini aku ingin pergi ke luar dulu sebentar untuk menemui seseorang.”
“Benarkah? Siapa orang itu?”
“Om tidak perlu tahu siapa orang itu, namun aku pergi tidak akan lama kok.”
“Baiklah kalau begitu, namun kalau memang sesatu terjadi, kamu jangan lupa untuk menghubungi Om, ya?”
“Tentu saja Om, kalau begitu aku pergi dulu.”
“Hati-hati di jalan.”
Maka kemudian Tania pergi menuju sebuah tempat yang ia ada orang itu sudah setujui untuk bertemu, suasana siang ini tidak terlalu panas karena cauaca sedang mendung dan angin berhembus tidak terlalu kencang ketika Tania tiba di sebuah taman tempat ia dan orang itu untuk janjian bertemu, akhirnya Tania dapat melihat orang itu tengah duduk sendirian di kursi taman.
“Maaf kalau aku sudah membuat kamu menunggu,” ujar Tania pada orang yang tidak lain adalah Ferdian ini.
__ADS_1
“Sama sekali tidak kok, aku juga baru saja datang,” ujar pria itu.