Berkah Cinta

Berkah Cinta
Masa Lalu yang Ku Rindukan


__ADS_3

Setelah berjalan ke sana dan ke mari akhirnya mereka singgah ke mini market yang buka 24 jam, Tania membeli beberapa mie instant dan memasukannya ke dalam keranjang belanjaan, Ferdian yang mengikutinya dari belakang nampak limbung karena dirinya mengantuk sekali.


“Ferdian, ayo jangan tidur di sini.”


Ferdian buru-buru membuka matanya dan berjalan mengikuti Tania yang menuju kasir, setelah membayar belanjaan mereka kini saatnya untuk pulang namun melihat kondisi Ferdian yang sudah sangat mengantuk, tentu saja akan berisiko jika Tania menyuruh Ferdian mengemudi.


“Biar aku saja yang mengemudi.”


“Apa? Tapi ….”


“Kamu mengantuk berat, kalau aku membiarkan kamu mengemudi maka bukan tidak mungkin kita berdua justru akan celaka.”


Apa yang dikatakan oleh Tania itu memang benar, maka dengan demikian Ferdian mengizinkan Tania mengemudikan kendaraannya sementara dirinya duduk di kursi penumpang dan tidur. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada percakapan di antara mereka berdua, jalanan juga sangat lengang dan sesekali saja mereka berpapasan dengan mobil lain.


“Ferdian, ayo bangun kita sudah sampai,” ujar Tania membangunkan Ferdian yang masih tertidur.


Ferdian menggeliat dan membuka kedua matanya, ia pun turun dari dalam mobil dan masuk ke dalam kamar sementara Tania pergi ke dapur untuk membuat mie instant yang barusan ia beli.


****


Tania sudah selesai makan dan kini dirinya berjalan menuju kamar, di sana nampak Ferdian sudah lelap tertidur, wajah pria itu nampak polos ketika dia sedang tidur dan sangat berbanding terbalik ketika dia sedang bangun. Tania meraih bantal yang ada di dekatnya dan mengarahkan bantal itu tepat di wajah Ferdian.


“Tidak, kalau aku membunuhmu sekarang maka permainan ini akan sangat mudah berakhir, aku tidak mau kamu mati dengan mudah, aku ingin kamu menderita terlebih dahulu.”


Maka Tania mengurungkan niatnya untuk membekap wajah Ferdian dengan menggunakan bantal ini, ia lebih memilih untuk melanjutkan tidur namun hingga berjam-jam ke depan, Tania masih saja tidak dapat memejamkan kedua matanya.


“Aduh, aku malah tidak bisa tidur.”


Tania meraih ponselnya dan melihat saat ini sudah jam 4 pagi dan percuma saja kalau ia tidur karena nantinya dia akan telat pergi ke kantor, sementara ketika Tania melirik ke arah Ferdian, pria itu masih saja lelap tertidur.


“Sepertinya kamu benar-benar lelah, ya?”


Tania jadi memikirkan semua rencana yang sudah ia susun dengan rapih namun melihat wajah Ferdian yang polos ketika pria ini tertidur membuat di dalam diri Tania terdapat sebuah rasa iba, namun alam sadarnya dengan cepat segera menyingkirkan hal tersebut.


“Tidak, kamu tidak boleh merasa kasihan padanya, ingat apa yang sudah ia lakukan padamu hingga membuatmu menjadi seperti ini.”

__ADS_1


****


Ferdian terbangun dari tidurnya ketika jam menunjukan pukul 9 pagi, ia tentu saja terkejut karena rupanya dia tidur sangat lama sekali dan dirinya pun pasti akan sangat terlambat untuk datang ke kantor.


“Aku pasti sudah terlambat masuk kantor.”


Ferdian segera turun dari tempat tidur dan menuju kamar mandi, setelah mandi dan berpakaian kini pria itu turun ke lantai bawah dan ia tidak menemukan siapa pun di sana.


“Tania pasti sudah pergi.”


Ferdian pun menyantap sarapannya yang sudah dingin di atas meja makan, dengan segera ia menghabiskan sarapannya dan kemudian dirinya bergegas menuju kantor. Namun ketika ia tiba di kantor nampak para wartawan kembali berkerumun di lobi, ketika Ferdian tiba di kantor, para wartawan langsung mengerubunginya dan menyodorkan mikrofon padanya.


“Tuan Ferdian, boleh minta komentarnya?”


Namun Ferdian sama sekali tidak mempedulikan rentetan pertanyaan dari para wartawan yang ingin sekali tahu perihal masalah yang sedang membelitnya, dengan pengawalan super ketat, maka Ferdian berhasil menembus para awak media itu.


“Kenapa mereka masih ada di sini? Bukankah aku sudah memerintahkanmu untuk membuat mereka tidak lagi datang ke sini?!”


“Saya minta maaf Tuan, saya sudah mengatakan hal itu pada petugas keamanan yang berjaga namun katanya mereka tidak kuasa menahan para wartawan hingga akhirnya wartawan bisa kembali masuk.”


****


“Olaf, senang sekali kamu datang ke sini.”


“Apakah kamu tidak malu dengan perbuatanmu?”


“Apa maksudmu?”


“Kamu berusaha mencelakai Tania, dan kamu tidak menampakan raut wajah penyesalan, kamu pasti sudah tidak waras Stefani.”


“Iya, aku memang sudah tidak waras, kamu tahu siapa yang membuatku menjad seperti ini? Orang itu adalah kamu Olaf, kamu yang sudah membuatku menjadi seperti ini.”


“Stefani, tidakkah kamu merasa kalau dirimu itu menyedihkan?”


“Apa katamu?”

__ADS_1


“Kamu mengharapkan cinta pada seseorang yang tidak mencintaimu, mau sampai kapan memangnya kamu melakukan hal tersebut? Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri kalau begini caranya.”


“Sampai kapan? Tentu saja sampai kamu menjadi milikku Olaf, aku tidak akan berhenti sampai kamu menjadi milikku.”


“Sudah aku duga kamu akan mengatakan hal tersebut, sepertinya kamu memang harus direhabilitasi di rumah sakit jiwa.”


“Apa katamu?!”


“Aku akan bicara pada mereka untuk mengirimkanmu ke rumah sakit jiwa.”


****


Sementara itu akhirnya keberadaan Ester terungkap juga, polisi dan staf rumah sakit jiwa menangkap wanita itu di sebuah rumah yang terletak di pinggiran kota, Ester tentu saja berusaha melawan petugas namun ia langsung diberikan obat penenang hingga akhirnya Ester pun perlahan tak sadarkan diri.


“Syukurlah kalau saat ini dia sudah ditemukan.”


“Iya, aku pun bahagia sekali mendengar kabar ini.”


Minanti memberitahu berita bahagia ini pada Tania, ia harap dengan ditangkapnya Ester maka teror yang menimpa Tania tidak akan terulang kembali dan Tania dapat hidup normal kembali.


“Terima kasih banyak karena Nyonya sudah melakukan semua ini padaku.”


“Kamu ini bicara apa Tania? Aku tidak melakukan apa pun, kok.”


“Sejujurnya aku jadi merasa berutang pada anda.”


“Sudahlah Tania, sekarang kamu bisa fokus pada perusahaan tanpa adanya gangguan dari orang lain lagi.”


“Iya, sekali lagi saya mengucapkan terima kasih pada anda karena sudah mau membantu saya.”


“Tidak masalah Tania.”


Akhirnya mereka berdua pun mengakhiri perbincangan itu, Minanti pergi ke suatu tempat yaitu ruang perpustakaan di rumahnya, ia mengambil salah satu buku yang sudah usang di salah satu rak, buku dengan sampul berwarna merah tua itu nampak berdebu dan sudah usang, namun Minanti tetap mengambil buku itu dan membolak-balikan halamannya hingga akhirnya ia menemukan sebuah foto dari salah satu halaman buku itu. Minanti nampak meraih


foto yang sudah usang itu dan mengusapnya perlahan, foto di mana dirinya jadi teringat masa-masa muda dulu dengan seseorang yang menjadi cinta pertamanya.

__ADS_1


“Aku merindukanmu.”


__ADS_2