Berkah Cinta

Berkah Cinta
Masa Lalu Akan Terbongkar


__ADS_3

Tania mendatangi Ferdian di penjara, ia kembali menyodorkan surat cerai itu dan kali ini pria yang sebelumnya selalu berceloteh mengenai surat cerai itu mendadak diam, ia menatap surat cerai itu tanpa mengatakan apa pun.


“Aku tidak mau membuang banyak waktu di sini, ini pulpennya dan kamu bisa segera tanda tangani surat ini.”


Ferdian masih diam menatap surat cerai yang disodorkan oleh Tania sampai akhirnya pria itu menatap Tania dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


“Kenapa menatapku begitu? Tanda tangani surat ini.”


“Apakah kamu benar-benar ingin bercerai denganku?”


“Astaga, sudah berapa kali aku mengatakannya? Aku sejak awal tidak pernah menginginkan pernikahan ini, namun kamu berkeras agar kita berdua menikah dan aku tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya.”


“Sampai kapan kamu akan menjadi seperti ini Tania?”


“Apa maksudmu?”


“Apakah menikah dengan Olaf akan membuat kamu bahagia?”


“Sudahlah Ferdian, cepat tanda tangani saja surat ini.”


“Baiklah, aku akan menandatangani surat ini dan aku harap hidupmu lebih bahagia setelah ini.”


Tania tersenyum ketika akhirnya Ferdian menandatangani surat cerai itu, setelah pria itu menandatangani surat tersebut Tania pun pergi dari tempat tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Ferdian.


*****


Ketika Tania tiba kembali di apartemennya, ia dibuat terkejut dengan kehadiran sosok Bram di sana, ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu akan mendatanginya saat ini. Bram yang duduk menunggu di lobi segera bangkit ketika melihat orang yang sejak tadi ia tunggu akhirnya muncul juga.


“Tuan?”


“Apa kabar Tania?”


“Baik, apa yang membuat anda datang ke sini?”


“Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu.”


“Kalau begitu, kita bicara di apartemenku saja.”


Maka kemudian Tania mengajak Bram menuju apartemennya, ia mempersilakan Bram untuk masuk ke dalam apartemennya dan membuatkan pria itu minum.


“Silakan diminum.”


“Tidak perlu repot-repot, Tania.”


“Sama sekali tidak merepotkan.”


Mereka kemudian terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Bram pun mengatakan sesuatu yang menjadi maksud kedatangannya ke apartemen Tania ini.


“Begini, aku dengar dari Olaf bahwa kamu memiliki foto masa lalu istriku yang hadir di acara pernikahan kedua orang tuamu, apakah itu benar?”


“Oh, soal itu, iya Tuan, itu memang benar.”

__ADS_1


“Kalau kamu tidak keberatan, apakah aku boleh melihatnya?”


“Boleh, mohon tunggu sebentar.”


Tidak lama kemudian Tania kembali dengan foto itu dan mengangsurkan foto tersebut pada Bram yang nampak memperhatikan dengan seksama sosok yang ada di dalam foto ini.


*****


Minanti sudah mencari di mana keberadaan suaminya, namun sampai saat ini ia belum juga menemukan keberadaan suaminya itu. Ia sudah mencoba menelpon Bram, namun ponsel suaminya itu tidak aktif hingga membuatnya menjadi khawatir.


“Mama nampak khawatir saat ini,” ujar Felli.


“Apakah kamu melihat suamiku?” tanya Minanti.


“Aku tidak melihatnya, memangnya kenapa?”


“Aku sudah mencoba mencarinya di seluruh penjuru rumah, dan aku juga sudah mencoba menelponnya namun ponselnya tidak aktif, aku khawatir kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padanya.”


“Ya Tuhan, semoga saja tidak.”


“Aku tahu, aku pun berharap tidak demikian.”


Saat itulah akhirnya Bram muncul di pintu depan rumah, Minanti dan Felli kemudian menghampiri Bram dan menanyakan dari mana saja pria itu, namun Bram mengatakan bahwa ia ingin bicara sebentar dengan Minanti.


“Kamu dari mana saja? Kenapa ponselmu tidak dapat dihubungi?” tanya Minanti saat mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar.


“Minanti, katakan padaku yang sejujurnya, apakah sebelumnya kamu sudah mengenal kedua orang tua Tania?”


“Jawab saja pertanyaanku, apakah kamu mengenal mereka sebelumnya atau tidak.”


“Aku tidak mengenal mereka.”


“Benarkah? Lalu foto ini? Bisakah kamu menjelaskan kenapa ada wajahmu di dalam foto ini.”


*****


Olaf mendatangi apartemen Tania selepas ia pulang bekerja, Tania menyambut Olaf datang dan mempersilakan pria itu masuk, sebelumnya ia sudah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua.


“Kamu menyiapkan semua ini? Sepertinya ada sesuatu, ya?”


“Iya, akhirnya dia mau menandatangani surat cerainya.”


“Benarkah? Apa yang kamu lakukan sampai-sampai dia mau menandatangani surat cerai itu? Bukankah sebelumnya dia tetap berkeras tidak mau menandatangani surat tersebut?”


“Namanya juga manusia, pasti berubah pikiran juga bukan?”


“Apa yang sudah kamu lakukan padanya?”


“Aku meminta bantuan mamanya untuk membujuk Ferdian mau menandatangani surat cerai itu, entah apa yang wanita itu katakan pada anaknya sampai Ferdian mau menandatangani surat itu.”


“Baguslah kalau begitu, kita hanya tinggal menunggu sampai proses perceraianmu selesai dan kita bisa memulai hidup baru bertiga.”

__ADS_1


“Ngomong-ngomong, kamu sudah tahu kalau tadi papamu datang ke sini?”


“Papa? Untuk apa dia datang ke sini?”


“Kamu menceritakan perihal foto mamamu yang hadir di acara pernikahan kedua orang tuaku, ya?”


“Iya, aku memang menceritakannya pada beliau, tunggu dulu… apakah karena hal tersebut beliau mendatangimu?”


“Iya, dia mendatangiku karena masalah foto itu.”


“Lalu apa yang kamu lakukan?”


“Tentu saja aku memberikannya.”


Olaf nampak berpikir sejenak, mungkinkah di rumah saat ini kedua orang tuanya sedang bertengkar karena masalah foto itu? Namun ia pun juga penasaran sebenarnya perihal ada hubungan apa antara Minanti dan kedua


orang tua Tania dulu.


*****


Keesokan harinya, saat Tania hendak berangkat ke kantor, ia terkejut ketika menemukan Minanti ada di lobi, ia pun bertanya pada wanita itu kenapa Minanti datang ke sini.


“Aku tidak menyangka kalau kamu akan berangkat ke kantor sepagi ini.”


“Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan di kantor, dan juga ada beberapa agenda yang harus aku hadiri nanti maka dari itu aku berangkat lebih pagi dari biasanya.”


“Begitu rupanya, aku pikir mungkin kedatanganku saat ini kurang tepat.”


“Memangnya kalau boleh saya tahu, kenapa Nyonya datang ke sini?”


“Aku hanya ingin menikmati sarapan denganmu, namun sepertinya kamu sedang sibuk saat ini, mungkin lain kali saja.”


“Tapi Nyonya ….”


“Kamu pasti sudah dikejar waktu, lebih baik saat ini kamu segera pergi.”


“Tapi apakah Nyonya tidak masalah?”


“Tentu saja tidak, sudah sana kamu nanti terlambat.”


“Kalau begitu, saya permisi dulu, sekali lagi saya minta maaf karena tidak dapat sarapan bersama anda.”


“Sudahlah Tania, aku baik-baik saja.”


Tania pun pergi dari apartemennya meninggalkan Minanti di sana, wanita itu nampak menghela napasnya panjang, ternyata apa yang ia sudah rencanakan tidak berjalan sesuai dengan harapannya.


“Tidak apa, lain kali kita bisa sarapan bersama.”


Minanti pun pergi meninggalkan apartemen Tania namun tanpa wanita itu sadari rupanya ada seseorang yang sejak tadi mengamatinya dan orang itu adalah Stefani.


“Kenapa Tante pergi ke apartemen Tania?”

__ADS_1


__ADS_2