Berkah Cinta

Berkah Cinta
Benar Hamil?


__ADS_3

Raut wajah Ester berubah saat Galang memperdengarkan rekaman percakapannya dengan seorang wanita dan saat itulah Ester hendak merampas ponsel Galang namun secepat kilat Galang menyembunyikan ponselnya jauh


dari jangkauan Ester.


“Berikan ponsel itu padaku!”


“Apakah Nyonya sudah mengakuinya sekarang?”


“Berikan ponsel itu padaku sekarang juga!”


“Kenapa Nyonya nampak begitu takut? Apakah yang dikatakan dia benar?”


“Kamu ini benar-benar, ya! Kalau kamu tidak mau memberikan ponsel itu maka jangan salahkan aku kalau sesuatu hal yang buruk terjadi padamu!”


Ester kemudian pergi dari rumah kontarakan Galang dengan perasaan kesal setengah mati, Ester masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh sang sopir untuk melajukan kendaraannya menjauh dari rumah itu.


“Dia pikir dapat mengancamku dengan rekaman itu? Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menang.”


Ester pergi menuju sebuah rumah, ia turun dari mobilnya dan berjalan dengan agak tergesa memasuki pekarangan rumah ini. Dengan kasar Ester mengetuk pintu rumah itu hingga tidak berapa lama kemudian si pemilik rumah membukakan pintu, namun dari raut wajahnya si pemilik rumah nampak terkejut dengan kedatangan Ester.


“Nyonya Ester?”


“Aku ingin bicara denganmu.”


“Tapi… apa yang Nyonya hendak bicarakan denganku?”


****


Tania hari ini mengunjungi Jihan di penjara, nampak Jihan berbeda dengan terakhir kali mereka berjumpa, wanita itu nampak lebih kurus dan tidak ada dandanan yang biasa menghiasi wajahnya.


“Kenapa kamu mau bertemu denganku?” tanya Jihan.


“Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja di penjara.”


“Apakah sekarang menurutmu aku baik-baik saja?”


“Tidak, sepertinya kamu menderita berada di tempat ini.”


“Kamu benar, aku menderita ada di tempat ini.”


“Lantas kalau kamu menderita, kenapa memilih untuk bertahan di tempat ini?”


“Kenapa? Semua karena papaku, aku begitu terpukul dengan kepergiannya yang tiba-tiba, rasanya semua duniaku runtuh, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan namun tiba-tiba saja rasa penyesalan menggelayuti diriku, aku merasa bahwa sikapku padamu sudah sangat keterlaluan.”


“Kamu menyesali perbuatanmu?”


“Iya, sepertinya aku memang jahat sekali di masa lalu.”


“Syukurlah kalau kamu sudah menyadari kesalahanmu, aku bisa membuat kamu keluar dari penjara.”


“Tidak, jangan pernah kamu coba lakukan itu.”


“Kenapa? Aku berniat baik untuk membantumu dan kamu malah menolaknya?”

__ADS_1


“Kamu pikir aku akan senang ketika kamu menawarkan bantuanmu? Aku ingin mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatanku, dan aku tidak ingin ada campur tangan orang lain di kasusku ini,


apakah kamu dapat mengerti apa yang aku bicarakan?”


“Aku mengerti.”


****


Tania terkejut ketika ia menemukan Ferdian berdiri di depan pintu apartemennya, Ferdian sendiri baru saja datang dan baru saja ia hendak menekan bel pintu apartemen Tania namun ia sudah melihat sosok yang ia cari berdir tidak jauh darinya.


“Tania, kamu dari mana?”


“Aku barusan menjenguk Jihan.”


“Apa? Apakah aku tidak salah dengar?”


“Tidak, kamu tidak salah dengar, aku memang menjenguk Jihan.”


“Apakah dia melakukan sesuatu hal yang buruk padamu lagi?”


“Kamu ini bicara apa? Dia sedang mendekam di balik jeruji besi, mana bisa dia melukaiku?”


“Syukurlah kalau begitu, aku pikir dia melakukan sesuatu hal yang buruk padamu tadi.”


“Ngomong-ngomong kenapa kamu ke sini?”


“Aku datang ke sini untuk merayakan sesuatu denganmu.”


“Apa?”


Maka kemudian Tania dan Ferdian masuk ke dalam apartemen Tania, ketika mereka sudah berada di dalam, maka Ferdian pun mengatakan bahwa saat ini ia dan Jihan sudah resmi bercerai dan dengan begitu Ferdian akan segera menikahi Tania.


“Apa?”


“Kenapa? Wajahmu nampak tidak bahagia saat aku mengatakan kalau aku dan Jihan sudah resmi bercerai dan aku akan menikah denganmu?”


“Tidak… hanya saja… aku tidak menyangka kalau prosesnya akan secepat ini.”


“Benarkah hanya itu saja?”


“Iya, tentu saja.”


“Kalau begitu, mari kita rayakan hari ini.”


Tiba-tiba saja Tania merasa mual dan ia segera pergi ke kamar mandi, Ferdian nampak mengerutkan keningnya heran, ia pun bergegas mengikuti Tania ke kamar mandi, ia bertanya dari luar kamar mandi mengenai apakah Tania saat ini baik-baik saja atau tidak.


“Apakah kamu baik-baik saja?”


****


Tania merasa ada sesuatu yang tidak beres dengannya, ia jadi terpikir mengenai insiden yang pernah terjadi antara dirinya dan Ferdian, ia nampak menatap pantulan dirinya di depan cermin dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Tidak, hal tersebut tidak mungkin terjadi, itu tidak mungkin.”

__ADS_1


“Tania, apakah kamu baik-baik saja?”


Terdengar suara Ferdian dari luar kamar mandi, sepertinya pria itu khawatir padanya, Tania pun segera keluar dari kamar mandi dan disambut oleh Ferdian yang memang sudah menunggunya di depan kamar mandi.


“Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu sakit?”


“Tidak, aku hanya sedikit mual tadi.”


“Benarkah?”


“Iya, tadi aku hanya mual saja, kamu tidak perlu


khawatir.”


“Apakah kita harus pergi ke dokter saat ini?”


“Jangan berlebihan begitu, aku baik-baik saja.”


“Namun ….”


“Ferdian, tolong jangan mengatakan sesuatu yang aneh.”


“Baiklah-baiklah, tapi kamu baik-baik saja, kan? Aku tidak mau kamu menyembunyikan fakta bahwa kamu sedang sakit saat ini.”


“Aku baik-baik saja, ok?”


Maka kemudian mereka berdua pun menikmati makanan yang dipesan oleh Ferdian lewat jasa aplikasi ojek online, sepanjang acara makan bersama itu nampak Ferdian mencuri


pandang pada Tania.


****


Sudah beberapa hari belakangan Tania merasa ada sesuatu yang tidak beres dalam dirinya, ia jadi terpikir bahwa jangan-jangan apa yang ia takutkan itu benar-benar terjadi, namun Tania berusaha menenangkan dirinya bahwa hal tersebut tidak mungkin terjadi.


“Tidak, itu tidak mungkin terjadi, ini pasti hanya mual biasa.”


Namun semakin Tania berusaha berpikir seperti itu, bayang-bayang bahwa ia dan Ferdian pernah melakukan hal itu kembali berputar dalam benaknya, Tania pun dibuat bingung dengan kondisinya sekarang. Setelah berpikir beberapa saat akhirnya ia pun pergi ke apotek untuk membeli sebuah test pack, ia nampak ragu ketika menunggu hasil test pack tersebut.


“Pasti aku tidak hamil, ini pasti hanya mual biasa.”


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Tania pun mengambil alat test pack tersebut dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat hasil dari test pack tersebut, ia nampak menjatuhkan test pack tersebut karena saking terkejutnya.


“Tidak, ini tidak mungkin, pasti ada kesalahan.”


Tania pun segera mencoba untuk menghubungi Minanti, tidak lama kemudian wanita itu tiba di apartemen Tania dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi karena sejak ia datang ke sini Tania nampak berderai air mata.


“Tania, apa yang terjadi padamu?”


“Nyonya, lihat ini.”


Tania memberikan test pack itu pada Minanti dan wanita itu nampak terkejut ketika melihat hasil dari test pack tersebut, ia pun segera memeluk Tania saat ini untuk menenangkan wanita ini.


“Tenanglah Tania.”

__ADS_1


“Bagaimana kalau aku memang hamil?”


__ADS_2