Berkah Cinta

Berkah Cinta
Aku Tak Percaya


__ADS_3

Felli mengatakan hal yang menurut Stefani begitu aneh, kenapa bisa wanita itu mengatakan kalau Juan menyukainya? Itu tidak masuk akal.


“Aku mengatakan yang sesungguhnya, memangnya kamu tidak dapat merasakan kalau dia tertarik padamu?”


“Sudahlah Felli, aku tidak memiliki waktu untuk membicarakan hal omong kosong seperti ini.”


“Terserah kamu percaya atau tidak, namun coba kamu pikirkan lagi mengenai sikap Juan padamu selama ini.”


Setelah mengatakan hal tersebut Felli kemudian pergi meninggalkan Stefani, setelah Felli pergi kini Stefani masih terdiam di tempatnya seraya memikirkan apa yang barusan wanita itu katakan, apakah mungkin yang dikatakan oleh Felli itu benar kalau Juan menyukainya? Namun Stefani buru-buru mengenyahkan pikiran konyol itu.


“Jelas sekali dia berusaha untuk meracuni pikiranku, kamu tidak boleh termakan ucapannya Stefani.”


Maka Stefani pun masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraannya tersebut pergi dari rumah tersebut, sepanjang perjalanan menuju lokasi pemotretan Stefani masih terpikirkan ucapan Felli tadi dan ia jadi berpikir bahwa ada beberapa tingkah Juan yang memang cukup aneh kalau Stefani pikrkan.


“Astaga, kenapa juga aku harus memikirkan hal seperti itu?”


****


Ferdian tetap berkeras untuk memasukan nama perusahaan mereka dalam lelang yang diselenggarakan pemerintah daerah, Ferdian yakin bahwa mereka pasti bisa memenangkan lelang itu dan mendapatkan keuntungan yang besar di kemudian hari. Melihat hanya ada perusahaan Olaf saja yang menjadi rival terbesarnya tentu Ferdian sesumbar bahwa ia dapat mengalahkan pria itu dalam pertarungan lelang tersebut.


“Jadi hanya Krama Construction yang menjadi rival berat kita dalam lelang tersebut?”


“Iya Tuan, selebihnya sepertinya bukan rival yang terlalu berat.”


“Tolong segera hubungi Gubernur, bilang padanya aku ingin mengajaknya makan siang nanti dan tolong kosongkan jadwalku nanti.”


“Baik Tuan.”


Setelah itu sekretaris Ferdian pergi dari ruangan atasannya, sepeninggal sang sekretaris maka Ferdian kini menyeringai, ia sudah tidak sabar melihat kekalahan Olaf yang akan tersaji di depan matanya.


“Olaf kamu terlalu naif, jangan pikir kamu dapat mengalahkanku untuk urusan lobi-lobi seperti ini.”


Ferdian kemudian meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi Tania, ia harus mengetahui apakah ada masalah dengan kandungan istrinya itu atau tidak karena tadi Tania berkeras untuk masuk kantor padahal


Ferdian sudah memintanya untuk di rumah saja.


“Kenapa dia tidak mau menjawab telepon dariku?”


Ferdian masih mencoba menelpon ponsel Tania namun hasilnya masih nihil, Tania tidak menjawab telepon darinya.


“Baiklah, mungkin saat ini dia sedang sibuk, aku akan mencoba menelponnya nanti.”


****

__ADS_1


Sementara itu Tania mendapatkan informasi dari sekretarisnya yang ia tugaskan menghimpun informasi dari sekretaris Ferdian mengenai apa saja yang dilakukan oleh suaminya, rupanya perusahaan Ferdian dan Olaf sedang bersaing memperbutkan sebuah proyek lelang pemerintah dengan nilai fantastis dan Ferdian sepertinya sudah mencuri start lebih awal dengan meminta bertemu dengan Gubernur.


“Menarik sekali, rupanya dia mau mulai start lebih awal.”


Tania melirik ponselnya yang menampilkan nama Ferdian di layarnya, Tania sama sekali tidak berniat menjawab telepon dari suaminya, ia membiarkan saja ponselnya terus berdering hingga mati sendiri. Kemudian Tania


pun menghubungi seseorang lewat ponselnya dan tidak lama seseorang itu menjawab panggilan darinya.


“Apakah aku mengganggu waktumu?”


“Sama sekali tidak, ada apa kamu menelponku?”


“Aku dengar perusahaanmu dan perusahaan Ferdian sedang bersaing memperebutkan lelang proyek pemerintah daerah?”


“Begitulah, kenapa memangnya?”


“Aku agak khawatir kalau Ferdian mencuri strart lebih awal.”


“Apa maksudmu?”


“Dia menemui Gubernur siang ini dan aku pikir…mungkin saja mereka akan membicarakan tentang proyek tersebut.”


“Benarkah? Namun sayangnya aku sama sekali tidak gentar soal itu.”


“Kamu akan lihat nanti Tania, kita akan buktikan siapa yang akan memenangkan pertandingan ini.”


****


Sementara itu Juan yang sedang bekerja di ruangan kerjanya melirik ke arah ponselnya yang ia taruh di atas meja nampak berdering, ia meraih ponselnya tersebut dan melihat ada sebuah nama yang tertera di layar, tanpa membuang waktu ia segera menjawab panggilan tersebut.


“Halo?”


“Apakah aku mengganggu waktumu?”


“Sama sekali tidak, ada apa? Tumben sekali kamu menelponku?”


“Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang bersama, itu pun kalau kamu ada waktu siang ini.”


“Tentu saja aku ada waktu, katakan saja di mana kita akan bertemu, aku akan segera datang ke sana.”


“Baiklah, aku akan segera mengirimkan alamatnya.”


TUT

__ADS_1


Tidak lama kemudian Juan mendapatkan pesan sebuah alamat restoran yang akan menjadi tempat mereka untuk bertemu, ia sempat melirik arloji yang ia kenakan dan memang sebentar lagi sudah waktunya istirahat jam makan siang. Maka Juan pun segera bergegas keluar dari ruangan kerjanya untuk pergi ke restoran itu, ketika ia melalui ruangan kerja Olaf nampak pria itu juga baru saja keluar dari ruangan kerjanya dan mengajak Juan untuk makan siang bersama namun Juan menolaknya karena Juan sudah memiliki janji dengan seseorang.


“Kamu sudah memiliki janji dengan seseorang?”


“Iya, sudah dulu ya.”


Juan segera masuk ke dalam lift yang terbuka sementara Olaf masih terdiam di tempatnya, ia merasa heran dengan sikap Juan itu, ia yakin bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan adiknya.


****


Ferdian sudah sampai di sebuah restoran berbintang yang mana sebuah ruangan khusus sudah ia pesan untuk pembicaraan dengan sang Gubernur, sebelum sang Gubernur datang nampak Ferdian masih berusaha


menghubungi Tania namun istrinya itu tetap tidak menjawab telepon darinya.


“Kemana perginya dia? Kenapa tidak menjawab panggilan dariku?”


Ferdian kemudian mencoba menelpon sekretaris Tania dan menanyakan di mana sebenarnya Tania saat ini, sekretaris Tania itu mengatakan bahwa saat ini Tania sedang ada rapat penting dan untuk itu ia tidak dapat


dihubungi.


“Baiklah kalau begitu, nanti aku akan coba lagi.”


Dan tidak lama kemudian Gubernur pun tiba, Ferdian menyambut Gubernur dengan ramah dan mempersilakan Gubernur itu untuk duduk, Ferdian menuangkan minum untuk Gubernur itu hingga membuatnya begitu tersanjung.


“Terima kasih banyak.”


“Tidak masalah, senang karena anda mau menemuiku di sini.”


“Jadi… ada masalah apa sampai kamu ingin bertemu denganku?”


“Begini, kita langsung masuk saja pada intinya, anda pasti sudah tahu kalau perusahaanku masuk dalam salah satu perusahaan yang akan ikut lelang proyek pembangunan jalan dan irigasi bukan?”


“Benar, lantas ada apa?”


“Pak Gubernur tentu anda tahu apa maksud saya, saya ingin anda memperlancar langkah perusahaan saya memenangkan lelang tersebut.”


“Tentu saja Tuan Ferdian, saya dengan senang hati memuluskan jalan anda, namun…tentu itu semua tidak gratis bukan?”


“Tentu saja saya tahu itu, sebentar ya.”


Ferdian memanggilkan asistennya masuk ke dalam ruangan itu, nampak sang asisten membawakan sebuah koper dan menaruhnya di atas meja makan.


“Terima kasih, kamu bisa pergi,” ujar Ferdian dan setelah asistennya itu pergi kini Ferdian mengangsurkan koper itu pada sang Gubernur.

__ADS_1


“Anggap saja ini sebagai uang muka, aku akan memberikan yang lebih dari ini jika anda memenangkan perusahaan kami dalam lelang tersebut.”


__ADS_2